Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Mewaspadai Lima Jebakan Setan

Ilustrasi.
Bagikan:

IBLIS berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (Al-Hijr: 39-40)

Dalam kitab Madarijus-Salihin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengungkapkan lima strategi iblis dalam menyesatkan manusia. Jika stategi pertama tidak berhasil, maka iblis akan menggunakan jeratan kedua, begitu seterusnya. Berikut ini strategi setan.

Pertama, iblis menawarkan kekufuran, menolak otoritas agama, menolak keyakinan kepada Tuhan, menolak ajaran Nabi, dan menolak kebenaran kitab suci. Bersama orang-orang kafir, setan menghembuskan keragu-raguan kepada kaum muslimin terhadap agamanya sendiri, mereka menghembuskan bahwa agamalah yang menjadikan penganutnya terbelakang, terbelenggu, tidak modern, dan ketinggalan zaman.

Melalui strategi ini iblis dan barisan orang-orang kafir menghembuskan isu bahwa Islam bertentangan dengan hak asasi manusia (HAM). Islam melegalkan praktik diskriminasi jender dengan menempatkan perempuan pada posisi di bawah pria. Islam mengajarkan sikap tidak bersahabat terhadap perbedaan dan cenderung memaksa kehendak. Selain itu bersikap absolutisme.

Kedua, iblis membiarkan kita beragama, tapi dalam waktu bersamaan mereka menjadikan kita melakukan bid’ah (mengada-adakan agama). Iblis rela kita beragama tapi iblis menyelewengkan kita sehingga kita merasa seolah-olah beragama, padahal sesungguhnya kita sudah jauh melenceng dari ajaran Islam.

Kita merasa mendapat pahala dari amal-amal kita, padahal amalan itu adalah bid’ah. Sadisnya, iblis menanamkan sikap fanatik kepada kita sehingga setiap orang yang mengingatkan praktik bid’ah, maka orang tersebut kita lawan, sebagaimana orang yang melawan agama.

Di sini setan sangat lihai. Ia memainkan pedang bermata dua, sebagaimana kita dijadikan mudah untuk membid’ahkan yang lain. Sementara sebagian lagi dijadikan fanatik terhadap ajaran bid’ahnya. Masing-masing memutlakkan pendapatnya, dan masing-masing menganggap dirinya dalam kelompok paling benar. Perseteruan antar-umat Islam di sini menjadi sangat seru, bahkan tidak sedikit berakhir dengan meninggalkan korban.

Ketiga, setan menggoda kita lewat dosa-dosa besar, misalnya berzina, minuman keras, dan membunuh. Didukung oleh media cetak dan elektronik, kita dibuat gampang melakukan perbuatan maksiat, Informasi kemaksiatan sangat mudah kita peroleh, berikut tempat, cara dan transaksinya. Lewat media pula, nafsu syahwat kita dirangsang, dipupuk, dan dikobar-kobarkan setiap saat. Tidak heran jika sebagian kita terjebak, masuk dalam jurang yang mereka buat sendiri.

Keempat, setan menjebak kita melalui dosa-dosa kecil. Iblis meniupkan pikiran nakal dalam hati kita bahwa dosa kecil itu sangat manusiawi. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan dosa? Bukankah dosa-dosa kecil bisa dihapus dengan air wudhu, dengan istighfar, dan perbuatan baik lainnya?

Banyak di antara kita yang sangat hati-hati terhadap dosa besar, tapi mereka lalai terhadap dosa kecil. Padahal, dosa kecil yng dilakukan terus menerus bisa berakibat fatal. Jika dikumpulkan akan menjadi besar. Ironisnya, pelakunya tidak menyadari tumpukan dosa yang menggunung itu.

Kelima, setan mempengaruhi kita agar sibuk melakukan hal-hal yang mudah, sampai kita melupakan pekerjaan yang lebih strategis, termasuk melakukan ibadah. Kita disibukkan tidur panjang, nongkrong di warung hingga larut malam, begadang tanpa tujuan, main musik, main catur atau olahraga yang melenakan. Ketika ada yang menegur, kita bisa berdalih, bukankan pekerjaan ini diperbolehkan? Wallahu a’lam bish shawab.*/Muhammad Zul Arifin (dikutip dari buku Kepemimpinan Syura, penulis Abdurrahman Muhammad)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Ujub Mengantarkan Mengikuti Hawa Nafsu (2)

Ujub Mengantarkan Mengikuti Hawa Nafsu (2)

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [2]

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [2]

Keberpasangan (2)

Keberpasangan (2)

Ciri-ciri Nabi Adam a.s Melekat pada Semua Manusia

Ciri-ciri Nabi Adam a.s Melekat pada Semua Manusia

Menjaga Kepercayaan dengan Menegakkan Kejujuran

Menjaga Kepercayaan dengan Menegakkan Kejujuran

Baca Juga

Berita Lainnya