Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Mengambil Pelajaran dari Dunia (1)

Bagikan:

DUNIA merupakan tempat istirahat bagi para pengembara. Ia tidak kekal. Setelah itu ada kehidupan abadi, yakni kehidupan akhirat. Oleh karena itu jangan melihat dunia sebagai tujuan untuk mengumpulkan harta dengan cinta dan nafsu berlebihan. Akan tetapi ambillah pelajaran darinya bahwa setelah kehidupan ada kematian, dan manusia harus mempertanggungjawabkan hidupnya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di alam akhirat.

Suatu hari Saad bin Abi Waqqas mengunjungi Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam. Beliau bertanya: “Dari mana kamu Saad?” Dia menjawab: “Baru saja aku bersama salah seorang kaum badui, mereka menjadikan perut dan nafsu birahi sebagai tujuan hidup.”

Nabi berkata: “Bukankah aku pernah mengabarkan kepadamu yang lebih mengherankan dari itu?” Dia menjawab: “Benar.” Nabi berkata: “Janganlah engkau berbuat sesuatu yang engkau ingkari dan jangan mengulanginya.”

Sufyan al-Tsauri berkata: “Barang siapa mengambil dunia sebagai pelajaran, maka amal shalihnya tidak akan berkurang”. Orang-orang bertanya, “Kapankah seorang menjadi pengambil pelajaran dunia?” Dia menjawab: “Ketika ia berpendapat, segala sesuatu di dunia ini akibatnya adalah kehancuran, dan pelakunya akan kembali ke tanah.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Hendaklah engkau memandang dunia sebagai pelajaran, hidupmu di atasnya adalah keterpaksaan dan penolakanmu atasnya sebagai ikhtiar.”

Hatim al-Asham berkata: “Barangsiapa melihat orang mati, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya, maka ilmu, amal, dan nasehatnya tidak berguna bagi dirinya.”

Ahmad bin Harb berkata: “Bumi heran terhadap dua orang. Pertama, orang yang tidur di atas pembaringan. Kedua, pada orang-orang yang berselisih paham merebutkan sejengkal tanah.”

Kepada keduanya, bumi berkata, “Wahai anak adam berpikirlah, kelak berapa lama engkau akan tertidur di dalam perutku. Dan engkau orang yang bertengkar demi sejengkal tanah, berapa banyak nenek moyangmu berusaha memiliki, tapi tak satu pun mereka yang berdiri di atasnya.”*/Abdul Wahhab Al-Sya’rani, dari bukunya Lentera Kehidupan. [Tulisan selanjutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Yang Tua Harus Menyayangi, yang Muda Menghormati!

Yang Tua Harus Menyayangi, yang Muda Menghormati!

Iman-Taqwa Kunci Utama Keberkahan Suatu Negeri

Iman-Taqwa Kunci Utama Keberkahan Suatu Negeri

Mewaspadai Fitnah, Musibah, dan Rintangan (2)

Mewaspadai Fitnah, Musibah, dan Rintangan (2)

Lima Fase Hidup Nabi yang Perlu Kita Teladani [2]

Lima Fase Hidup Nabi yang Perlu Kita Teladani [2]

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!

Sesungguhnya Surgaku Ada di Hatiku!

Baca Juga

Berita Lainnya