Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Membatasi Kebutuhan Kita terhadap Dunia (2)

Ilustrasi.
Bagikan:

PARA ulama memerintahkan murid-muridnya untuk biasa dalam berpakaian, sedikit dalam makan, dan sederhana dalam hidup.

Dari Sufyan Ats Tsauri dari Abu Qais dari Hudzail bin Syarahbil dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, “Barangsiapa yang menghendaki akhirat maka dia akan sengsara di dunia. Dan barangsiapa yang menghendaki dunia maka dia akan sengsara di akhirat. Wahai manusia, sengsaralah di dunia yang sementara ini untuk mendapatkan kebahagian yang abadi.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan oleh Al-A’uzai dari Bilal bin Sa’id bahwa Abu Darda’ berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hati yang terpana.” Kemudian dia ditanya, “Apa itu hati yang terpana?” Dia menjawab, “Apabila aku menjadikan satu jurang berisikan harta kekayaan.”

Al-Hasan memberikan nasehat kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh, kita telah berteman dengan segolongan kaum yang mengatakan, “Di dunia ini kami tidak memiliki kebutuhan dan kita diciptakan bukan untuk dunia.” Maka, mereka mencari surga dengan usaha dan jiwanya. Hingga mereka merelakan darahnya tumpah di dunia. Oleh karena itu, baginya kebahagiaan, keselamatan, dan ketentraman. Mereka tidak memiliki banyak pakaian dan juga tidak tidur di atas ranjang. Kamu tidak menjumpainya kecuali mereka dalam keadaan puasa dan hidupnya dihiasi dengan ketundukan serta ketakutan. Jika mereka berkunjung ke rumah saudaranya maka ketika disuguhi makanan, maka makanan tersebut dimakannya. Namun jika tidak, maka mereka akan diam. Mereka tidak bertanya tentang sesuatu, apa ini dan apa itu.”

Imam Ats Tsauri mendidik murid-muridnya seperti hal di atas. Dikisahkan oleh Yahya bin Yaman, ia mengatakan, “Aku pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata, ‘Orang alim adalah dokter bagi agama. Sedangkan dirham adalah penyakit bagi agama. Jika dokter terpikat dengan penyakit, maka kapan dirinya mengobati orang lain?'”

Ali bin Al-Madini berkata, “Aku masuk ke rumah Ahmad bin Hambal, dan di rumahnya aku tidak menemui sesuatu kecuali apa yang telah disebutkannya tentang rumah Suwaid bin Ghaflah Radhiyallahu Anhu tentang kezuhudan dan kerendahan hatinya.”

Sebagian ulama marah ketika mengetahui salah satu muridnya memiliki banyak pakaian, atau mengkhususkan dirinya untuk makan makanan khusus, atau memiliki barang-barang yang mewah. Di antara ajaran mereka adalah; tidak boleh ada yang tersisa di rumah kecuali dua pakaian. Satu, pakaian yang dipakai, dan satunya lagi pakaian yang dicuci. Jika dia membeli pakaian baru, maka dia harus menyedekahkan pakaian yang lama.

Wahai kawan, berapa banyak pakaian yang ada di rumah kita? Dan berapa banyak orang miskin yang membutuhkan pakaian?*/Syaikh Khalid Sayyid Rusyah, dari bukunya Nikmatnya Beribadah.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Mereka Bersatu, Kita Beradu

Mereka Bersatu, Kita Beradu

Lidah Pangkal Bencana

Lidah Pangkal Bencana

Kuatkan Jati Diri, Tata Ulang Keimanan [2]

Kuatkan Jati Diri, Tata Ulang Keimanan [2]

Mengatasi Seret Rezeki dengan Bersedekah (1)

Mengatasi Seret Rezeki dengan Bersedekah (1)

Bahaya Mencintai Kehormatan dan Harta (1)

Bahaya Mencintai Kehormatan dan Harta (1)

Baca Juga

Berita Lainnya