Saat Hari Pembalasan (1)

Di Hari Pembalasan tidak ada pengawal, tidak ada barisan tentara, tidak ada perwira, dan tidak ada serdadu, atau pengawal republik.

Saat Hari Pembalasan (1)
Ilustrasi.

Terkait

FIRMAN Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Yang Menguasai Hari Pembalasan.” (al-Fatihah: 4), merefleksikan berbagai persoalan, di antaranya sebagai berikut:

1. Runtuhnya para penguasa bumi

Pada hari perhitungan terbesar, para penguasa bumi akan berjatuhan. Abu Jahal pernah berkata, “Wahai Muhammad, engkau menakut-nakuti aku dengan Zabaniyyah? Aku pasti akan datang padanya bersama orang-orang Quraisy.”

Pada hari kiamat Abu Jahal bangkit dari kubur bersama orang-orang Quraisy.

Atas perkataan Abu Jahal itu, apakah jawaban Allah? Dia berfirman, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendtri-sendiri.” (Maryam: 93-95).

Di sana tidak ada pengawal, tidak ada barisan tentara, tidak ada perwira, dan tidak ada serdadu, atau pengawal republik, dan seterusnya!

Barangkali ada yang berkata, “Saat terjadi huru-hara pada hari kiamat, mungkin kita bisa menyelamatkan diri.” Tetapi Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 94-95).

Dalam hadits disebutkan, ketika bumi dan langit telah berada dalam genggaman-Nya, Dia berfirman, “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Tidak seorang penguasa pun atau nabi yang menjawab pertanyaan itu. Maka Allah menjawab dan berfirman, “Allah, Yang Mahaesa dan Maha Melaksanakan Kehendak-Nya.” Lalu berfirman, “Di manakah para penguasa bumi? Di manakah raja-raja dunia?” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, hadits ini derajatnya sahih).

Dalam hadits Asma’ binti Yazid, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Jika orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir dikumpulkan, Dia berseru, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Aku telah menurunkan nasab, dan menurunkan nasab-nasab bagi kalian. Kalian telah mengangkat nasab-nasab kalian dan menurunkan nasab-Ku. Maka pada hari ini, Aku mengangkat nasab-Ku dan menurunkan nasab kalian.'” (HR. Hakim).

Kalian mengatakan, “Kami memuliakan Fulan bin Fulan.” Maka pada hari itu ketetapan ada pada Yang Mahaesa dan Maha Melaksanakan Kehendak-Nya. Dialah yang memberi keputusan, ‘alaihissalam –shirath milik-Nya, mizan adalah mizan-Nya, surga dan neraka milik-Nya, dan tidak ada yang menentang keputusan hukum Allah.

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13).

Tabarakallah, Tuhan semesta alam.

Sungguh amat mengherankan bahwa di sana ada kaum yang menciptakan simbol dan julukan-julukan untuk mengagungkan manusia. Bandingkan dengan sikap Rasulullah, apa yang dilakukan oleh beliau?

Rasulullah menolak gemerlap dunia dan keindahannya dan menolak pengkultusan manusia.

Suatu ketika datang delegasi Amir bin Sha’sha’ah, mereka mengatakan, “Engkau adalah orang yang paling utama, dan paling agung kedudukannya di antara kami.”

Rasul menjawab, “Katakanlah semua pembicaraan kalian atau sebagian dari pembicaraan kalian, tetapi jangan sampai setan menyeret kalian. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Katakan, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan padanya! Semakin orang merendahkan diri, semakin melekat hati manusia padanya. Dan Allah menjadikannya manusia yang paling mulia dan paling utama.

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Nama yang paling rendah di hari kiamat adalah nama-nama semisal Shahin Syah, Qadhil Qudhat (penghulu para hakim), Sulthanush Shalathin (penghulu para raja), atau Rabbul Arbab (raja diraja). Sebab tiada raja yang sesungguhnya selain Allah, Dia-lah Qadhil Qudhat dan Hakim di antara para hakim.

Pada saat itu seluruh tanda kebesaran manusia di bumi berguguran, karena ia berasal dari tanah. Akan halnya pemberian dan karunia yang berasal dari Allah, ia akan kekal bagi pemiliknya.*/DR. ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni, MA, tertuang dalam bukunya Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an. [Tulisan selanjutnya]

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !