Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

‘Sarapan’ Ulama Selepas Subuh

Berdzikir selepas Subuh/ilustrasi.
Bagikan:

WAKTU yang mengiringi shalat Subuh adalah waktu yang paling berkah. Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berusaha untuk meraih dan mengisinya dengan dzikir.

Selepas shalat Subuh, beliau duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampai matahari terbit, kemudian menutupnya dengan shalat dua rakaat. Beliau memberi kabar gembira kepada para sahabat bahwa bila mereka mau melakukannya, maka mereka akan mendapat pahala setara dengan pahala haji dan umrah, seratus persen sama.

Generasi salafush shalih pun menghasung untuk selalu menetapi sunnah Nabi ini. Ibnu Taimiyyah, sebagaimana diceritakan muridnya, Ibnul Qoyyim, menggunakan waktu penuh berkah ini untuk berdzikir kepada Allah dan berkata, “Inilah sarapanku. Seandainya aku tidak menyantapnya, niscaya hilanglah kekuatanku.”

Waktu tersebut adalah waktu yang kaya berkah yang dipenuhi dengan rezeki. Karenanya, kita mendapati para pekerja dan pelaku bisnis antusias memanfaatkan waktu ini.

Diriwayatkan dari Shokhr Al-Ghomidi bahwa Nabi berdoa,

“Ya Allah, berkahilah untuk umatku di waktu paginya.” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Shokhr Al-Ghomidi).

Shokhr berkata, “Konon, apabila Nabi mendelegasikan pasukan kecil atau besar, maka beliau melakukannya di permulaan siang.”

Shrokhr adalah seorang pedagang. Apabila mengirim barang, maka ia melakukannya di permulaan siang sehingga ia mendapat untung besar dan hartanya melimpah ruah.

Ini tidak berarti orang yang tidur tidak diberi rezeki. Sebab, Allah berkenan memberi rezeki orang yang baik, fajir, mukmin, dan kafir. Tetapi, berkah itu laksana harta karun, yang hanya bisa diraih oleh orang-orang yang bangun di waktu ini.

Berkah yang diperoleh mereka berupa: berkah harta sehingga tidak akan kekurangan, berkah kesehatan sehingga tidak sakit, berkah tekad sehingga tidak mudah putus asa, berkah waktu sehingga tidak merasa sempit, berkah pikiran sehingga tidak menyimpang, dan berkah dalam seluruh nikmat Allah pada hamba-Nya.*/Dr. Kholid Abu Syadi, tertuang dalam bukunya Harta Karun Akhirat-Memburu Kekayaan Hakiki Setelah Mati.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Cinta Kasih Ibu Dapat Tumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Tauhid Sebagai Prinsip Agama

Tauhid Sebagai Prinsip Agama

Membangun Keluarga dan Cinta Tanpa Problem

Membangun Keluarga dan Cinta Tanpa Problem

Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (2)

Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (2)

Ikhlas dalam Beribadah (2)

Ikhlas dalam Beribadah (2)

Baca Juga

Berita Lainnya