Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Penyakit Hati: Tidak Sabar dan Merasa Istimewa (2)

Ilustrasi.
Bagikan:

MERASA istimewa di hadapan semua makhluk merupakan salah satu ciri virus penyakit hati. Virus ini sering kali menyerang orang-orang yang berasal dari keluarga berada atau orang yang punya kedudukan. Caranya dengan mempengaruhi si penderita untuk berlaku semena-mena dan membujuk si penderita untuk berlindung pada kebesaran dan kekuasaan yang ada di dalam keluarganya.

Begitulah cara virus penyakit hati merasa istimewa dalam mengalihkan ketaatan kepada Allah, menjadi taat dan bangga dengan kebesaran nafsu duniawi yang bercokol di dalam hati dan pikirannya. Padahal semua makhluk di hadapan Allah itu sama. Yaitu, sama-sama ciptaan Allah, Tuhan Yang Sebenarnya.

Kalau pun ada sesuatu yang membuatnya menjadi berbeda di hadapan Allah adalah soal tingkat ketakwaannya kepada Allah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman di dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu:

Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa jika kita tidak bisa menggapai derajat takwa, itu berarti kita tidak akan mendapatkan kemuliaan dari Allah. Sedangkan kemuliaan itu sendiri mutlak milik Allah Rabbul Izzati. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi seorang hamba yang bertakwa kepada Allah? Apa yang harus kita lakukan? Inilah pertanyaan yang menjadi ‘PR’ bagi kita bersama.

Sesungguhnya, untuk bisa menggapai derajat takwa tersebut bukanlah hal yang mudah untuk kita lakukan. Tanpa adanya kemurahan dari Allah dan pertolongan barakah dari para Kekasih Allah, niscaya kita tidak akan mungkin bisa mencapai derajat takwa.

Yang jelas, menurut salafus shalih, untuk bisa mencapai derajat takwa, kita dituntut dan diperintahkan oleh Allah agar lebih mendahulukan kehendak-Nya di atas kehendak hawa nafsu kita sendiri. Jelas, ini bukanlah perkara mudah. Apalagi untuk orang seperti kita yang hidup di era serba canggih dan serba modern seperti sekarang ini.

Meski tidak mudah, tapi bukan berarti kita tak perlu berbuat sesuatu atau menjadikan ketidakmudahan itu sendiri sebagai alasan pembenar (justifikasi) bagi kita untuk tidak mau berikhtiar atau berjuang guna menjadi seorang insan yang bertakwa. Justru karena tidak mudah itulah, kita diberi kesempatan yang luas oleh Allah untuk beribadah secara sungguh-sungguh. Sebab, di ranah itulah Allah justru meletakkan tempat untuk titik tolak bagi jalan perjuangan kita. Apakah kita akan mengandalkan kemampuan diri kita sendiri, atau kita akan memilih dan bersandar pada sebab kemurahan dan pertolongan Allah Rabbul ‘Izzati? */Ahmad Barozi, S.Ag dan Abu Azka Fathin Mazayasha, dari bukunya Penyakit Hati & Penyembuhannya.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Menjaga sikap Jujur

Menjaga sikap Jujur

Pendidikan yang Lahirkan “Rahib” di Malam Hari, “Panglima” di Siang Hari

Pendidikan yang Lahirkan “Rahib” di Malam Hari, “Panglima” di Siang Hari

Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran (2)

Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran (2)

Di Antara Kebaikan Meninggalkan Hal Tak Berfaedah (2)

Di Antara Kebaikan Meninggalkan Hal Tak Berfaedah (2)

Jangan Tinggalkan Bersedekah

Jangan Tinggalkan Bersedekah

Baca Juga

Berita Lainnya