Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Banyak Beristighfar Ketika Membaca Al-Qur’an (1)

Ilustrasi.
Bagikan:

GENERASI salafussalih banyak beristighfar dan takut mendapat murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala setiap kali membaca al-Qur’an, sebab mereka melihat dirinya tidak pernah mengamalkan apa yang dibaca dan terkandung di dalamnya.

Abdullah bin al-Mubarak berkata: “Berapa banyak pembaca Al-Qur’an yang dilaknat oleh Al-Qur’an. Jika pembaca Al-Qur’an melakukan maksiat kepada Tuhannya, Al-Qur’an berseru dari dalam jiwanya: “Demi Allah, untuk apa kau membaca aku, tidakkah engkau malu kepada Tuhanmu?”

Yusuf bin Asbat setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an, ia beristighfar kepada Allah sebanyak 700 kali dan berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau murka kepada kami atas apa yang kami baca tanpa kami amalkan.”

Al-Fadil bin Iyad berkata: “Pembaca Al-Qur’an memiliki tempat yang suci untuk bermaksiat kepada Tuhan. Bagaimana mungkin ia bermaksiat kepada Tuhan, sedangkan setiap huruf dalam Al-Qur’an memanggilnya kepada Allah: “Janganlah engkau bertentangan dengan apa yang engkau baca dariku.” Maka tidak diperbolehkan bagi pembaca Al-Qur’an bermain-main bersama orang yang mempermainkan Al-Qur’an, bersama orang yang melupakannya, bersama orang-orang yang melalaikan.”

Malik bin Dinar berkata: “Hai ahli Al-Qur’an, apa yang telah ditanam Al-Qur’an di dalam hati kalian, Al-Qur’an adalah musim semi di hati, sebagaimana hujan menurunkan musim semi di bumi.”

Sufyan al-Tsauri berkata: “Seorang ahli ilmu dan Al-Qur’an, seharusnya tidak berwatak kasar dan riya, tidak meninggikan suaranya dalam membaca hadist maupun ilmu dan tidak mengharapkan dunia, karena setiap kalimat yang ia baca berkata kepadanya: “Berzuhudlah.”

Saya mendengar guru saya, Ali al-Khawas berkata: “Barangsiapa merenung, dia akan mendapatkan semua kitab suci yang diturunkan mengatakan: “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Salih al-Mari berkata: “Aku membaca Al-Qur’an di hadapan Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dalam tidurku, ketika aku mengkhatamkannya, beliau berkata: “Ini adalah Al-Qur’an, lalu mana tangisanmu?”

Al-Fadil bin Iyad berkata: “Adakah musibah yang lebih besar daripada musibah kita? Yakni, kita membaca Al-Qur’an siang dan malam tetapi tidak mengamalkan, sedangkan semua yang terkandung di dalamnya adalah risalah dari Tuhan yang ditujukan kepada kita.”

Anaknya Ali –rahimahumallah– berkata: “Barangsiapa tidak menangisi diri ketika membaca Al-Qur’an, maka ia telah terperdaya. Sebab yang diinginkan Al-Quran adalah pengamalan, bukan bacaan.”

Ia berkata: “Aku sangat heran kepada orang yang bahagia setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an tetapi tidak menuntut dirinya satu nasehat, larangan ataupun hukuman dari bacaannya.”*/Abdul Wahhab Al-Sya’rani, sebagaimana tercantum di dalam bukunya Lentera Kehidupan. [Tulisan berikutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Menghidupkan Shalat dan Zikir di Saat Orang Lupa

Menghidupkan Shalat dan Zikir di Saat Orang Lupa

Keutamaan dan Kemuliaan bulan Muharram (3)

Keutamaan dan Kemuliaan bulan Muharram (3)

Mendekatkan Hati Saat Membaca Al-Quran (2)

Mendekatkan Hati Saat Membaca Al-Quran (2)

Muhasabah, Riangkan Hati Ringankan Ibadah

Muhasabah, Riangkan Hati Ringankan Ibadah

Kenalilah Asalmu, Wahai Manusia! (1)

Kenalilah Asalmu, Wahai Manusia! (1)

Baca Juga

Berita Lainnya