Jum'at, 12 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Mewaspadai Dosa Kecil Menjadi Besar (2)

Ilustrasi.
Bagikan:

Rasa Senang terhadap Dosa Kecil

TERMASUK faktor yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar adalah rasa senang terhadap dosa kecil, gembira dan bangga terhadapnya seraya menganggap kemantapan dalam melakukannya sebagai nikmat; padahal ia lupa bahwa dosa itu adalah penyebab penderitaan. Maka, setiap kali manisnya dosa kecil menguasai diri seorang hamba, niscaya jadi besarlah dosa tersebut dan besar pula pengaruhnya dalam menyebabkan hati menjadi hitam.

Bahkan di antara orang yang melakukan dosa tersebut memuji-muji dosanya dan merasa bangga terhadapnya karena berhasil melakukannya. Yaitu seperti orang yang mengatakan, “Tidakkah kaulihat, bagaimana saat kurobek-robek kehormatannya? Bagaimana aku telah melecehkannya? Bagaimana aku telah berhasil membuatnya ragu-ragu?”

Seseorang yang profesinya di bidang perdagangan berkata: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana aku telah berhasil menipunya? Bagaimana aku telah berhasil mengkhianati kekayaannya? Dan bagaimana pula aku telah membuatnya seperti orang bodoh?” Maka ucapan-ucapan seperti inilah yang membuat dosa-dosa kecil menjadi besar. Karena dosa-dosa itu merusak, maka apabila hamba terdorong untuk melakukannya dan setan berhasil menyeretnya untuk melakukannya, maka seharusnya ia merasa bahwa dirinya sedang berada dalam musibah dan merasa menyesal karena musuh telah mengalahkannya dan menyebabkannya menjadi jauh dari Allah.

Orang sakit yang merasa gembira terhadap pecahnya wadah yang di dalamnya terdapat obat baginya, hanya lantaran ia merasa terbebas dari pahitnya rasa obat itu, tidak akan ada harapan baginya untuk sembuh.

Meremehkan Kesabaran Allah dalam Menutupi Dosanya

Termasuk faktor yang menyebabkan dosa kecil menjadi besar adalah sikap meremehkan Allah yang menutupi keburukannya dengan sabar dan menangguhkan siksa-Nya; padahal ia tidak menyadari bahwa timbulnya penangguhan tersebut akibat murka Allah, agar dirinya bertambah dosanya disebabkan penangguhan tersebut. Ironisnya, ia malah menduga bahwa kemantapannya dalam melakukan berbagai kemaksiatan merupakan perhatian Allah kepada dirinya sehingga hal itu mengakibatkan timbulnya rasa aman pada dirinya dari siksa Allah. Padahal ia tidak tahu akan tipu daya yang tersembunyi terhadap Allah.

Firman Allah, “Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk buruk tempat kembali.” (Al-Mujadalah: 8).*/Imam al-Ghazali, tertulis dalam bukunya Menebus Dosa. [Tulisan berikutnya]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Film dan Sinetron Ciptakan Kendala dalam Beragama

Film dan Sinetron Ciptakan Kendala dalam Beragama

Pelajaran Menyelamatkan dari Hatim Al-Asham

Pelajaran Menyelamatkan dari Hatim Al-Asham

Giat Bekerja Mencari Nafkah (1)

Giat Bekerja Mencari Nafkah (1)

Empat Panduan Hidup Seorang Muslim (1)

Empat Panduan Hidup Seorang Muslim (1)

Lima Karakteristik Muslim Sejati [1]

Lima Karakteristik Muslim Sejati [1]

Baca Juga

Berita Lainnya