Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Memandang Sama pada Penyapu Jalan dan Pejabat Tinggi (2)

Ilustrasi orang kaya dan orang miskin.
Bagikan:

PERHATIKANLAH ketika Ummu Salamah r.a duduk bersama Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wassalam, lalu ia teringat akan Akhirat dan apa yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di sana. Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Ya Rasulullah, ada wanita yang punya dua suami (dua kali menikah) di dunia. Kemudian ia mati dan kedua suaminya pun mati. Dan ternyata mereka semua masuk Surga. Lalu untuk siapakah wanita itu?”

Apa jawaban beliau? Untuk orang yang paling panjang shalat malamnya? Atau, yang paling banyak puasanya? Atau, yang paling luas ilmunya? Ternyata sama sekali tidak.

Beliau menjawab: “Untuk orang yang paling baik akhlaknya.”

Ummu Salamah terkejut mendengarnya. Dan ketika beliau melihat keterkejutannya, beliau bersabda: “Hai Ummu Salamah, kebaikan akhlak bisa membawa kebaikan dunia dan kebaikan Akhirat.”

Memang benar. Kebaikan akhlak bisa membawa kebaikan dunia dan kebaikan Akhirat. Kebaikan dunia yang bisa diperolehnya adalah kecintaan manusia manusia kepadanya. Sedangkan kebaikan Akhirat adalah pahala besar yang diterimanya. Meskipun manusia memperbanyak amal shalih, sesungguhnya amal shalih itu bisa mencelakakan dirinya jika ia memiliki akhlak yang buruk.

Nabi pernah ditanya tentang wanita yang melaksanakan shalat, berpuasa, bersedekah dan berbuat baik. Tetapi ia suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya (ucapannya, artinya ia berakhlak buruk). Lalu Nabi menjawab: “Dia di Neraka.”

Nabi adalah suri teladan yang baik dalam segala macam akhlak yang terpuji. Beliau adalah manusia yang paling dermawan, paling pemberani dan paling penyantun. Beliau lebih pemalu dari gadis pingitan. Beliau adalah orang yang bisa dipercaya dan jujur. Hal itu disaksikan oleh orang-orang kafir sebelum orang-orang mukmin. Dan disaksikan oleh orang-orang fasik sebelum orang-orang shalih.

Bahkan ketika Khadijah r.a melihat perubahan pada diri Nabi setelah beliau menerima wahyu yang pertama, ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu. Engkau benar-benar suka menyambung tali persaudaraan (bersilaturrahim), membantu orang yang membutuhkan, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu, memberikan pertolongan pada waktu terjadi bencana alam, jujur dalam berbicara dan menunaikan amanah.”

Bahkan Allah memuji beliau dengan pujian yang akan kita baca sampai hari Kiamat. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4).

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Kalau beliau membaca firman Allah: “Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195), maka beliau pun berbuat baik.

Ya. Beliau berbuat baik kepada orang tua, anak muda, orang kaya, orang miskin, orang terhormat, orang jelata, orang besar, dan orang kecil. Kalau beliau mendengar firman Allah: “Maka maafkanlah dan ampunilah,” maka beliau pun memaafkan dan mengampuni. Dan kalau beliau membaca firman Allah: ‘Dan ucapkanlah yang baik kepada manusia,” maka beliau pun berbicara dengan kata-kata yang paling baik.

Jadi, beliau adalah suri teladan kita dan manhaj beliau adalah manhaj kita, maka cermatilah kehidupan beliau. Bagaimana cara beliau bergaul dengan manusia. Bagaimana cara beliau menyikapi kesalahan mereka dan menerima perlakuan buruk mereka dengan tabah. Bagaimana beliau bersusah payah untuk kepentingan mereka dan teguh menjalankan dakwahnya.

Pada suatu hari beliau terlihat berusaha membantu kebutuhan orang miskin. Pada hari yang lain beliau menyelesaikan pertengkaran di antara sesama orang mukmin. Dan pada hari lainnya beliau mendakwahi orang-orang kafir. Begitu seterusnya hingga tua umurnya dan rapuh tulangnya. Dan ketika berbicara tentang hal ihwal Nabi, Aisyah r.a mengatakan: “Setelah tua beliau lebih banyak melaksanakan shalat (sunnah) sambil duduk. (Mengapa?). Setelah diremukkan oleh manusia.” Ya. Diremukkan oleh manusia.

Bila jiwa itu besar
Tubuh akan kelelahan, menuruti keinginannya.

Bahkan kepedulian beliau pada akhlak yang baik sampai pada tingkatan beliau memanjatkan doa:

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah mempercantik tubuhku, maka cantikkanlah akhlakku.” (Ahmad).

Dan beliau pernah berdoa:

“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik. Tidak ada yang bisa menunjukkan jalan menuju akhlak yang terbaik selain Engkau. Dan hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk. Tidak ada yang bisa menghindarkan aku dari keburukan akhlak itu selain Engkau.” (Muslim).

Jadi, kita perlu meneladani akhlak beliau terhadap umat Islam, untuk memikat hati mereka dan mendakwahi mereka. Dan juga akhlak beliau terhadap orang-orang kafir (non-muslim) agar mereka mengetahui hakikat agama Islam. */Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Arifi, dari bukunya Nikmatilah Hidup Anda.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Mengambil Pelajaran dari Dunia (2)

Mengambil Pelajaran dari Dunia (2)

Yang Tua Harus Menyayangi, yang Muda Menghormati!

Yang Tua Harus Menyayangi, yang Muda Menghormati!

Dicari! Pemimpin yang Tahan Uji

Dicari! Pemimpin yang Tahan Uji

Malaikat Maut Tamu Kita

Malaikat Maut Tamu Kita

Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (2)

Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (2)

Baca Juga

Berita Lainnya