Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Kuatkan Jati Diri, Tata Ulang Keimanan [1]

Bagikan:

Oleh: Shalih Hasyim

 

Memperbaiki tauhid/keimanan pada diri kita itu sangatlah penting. Ini adalah persoalan ashlul islam. Tauhid adalah mabdaul Islam ( prinsip keislaman).

Prinsip adalah landasan berpikir dan bergerak kita. Tauhid memiliki dimensi yang sangat luas dan jauh. Baik aspek ideologi, sosial, politik, ekonomi, pertahanan keamanan, dan kebudayaan. Ketika tauhid mengalami disfungsi. Tidak bekerja sebagaimana mestinya sama dengan menyediakan diri untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub) . Menyediakan diri untuk menjadi mangsa peradaban yang didominasi oleh syubhat ( kesalahan pola pikir) dan syahwat ( kerusakan hati).

Keislaman yang tidak melahirkan produktifitas amal sama jeleknya dengan amal yang tidak didasari iman tauhid).

Tuntutan Tauhidullah adalah:

Pertama, taqwAllah (bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala). Dengan menjalankan segala perintah Allah & menjauhi segala larangan-Nya dengan kesadaran dan kesabaran yang dimilikinya. Berikutnya ‘ ibadatullah  (beribadah hanya kepada Allah).

Kedua, muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah). Ihsanullah (merasakan kebaikan Allah). Kemudian tho’atu hukmillah (mentaati hukum Allah). Terakhir, al ihtimam bi umuril muslimin (mengedepankan urusan kaum muslimin).

Bangunan keislaman yang tidak dikuatkan dengan ruhul iman seperti membangun permukaan balon. Akan cepat meletus, karena tidak memiliki, manna’ah (daya imunitas) menahan tekanan internal dan eksternal.

Nama Islam yang demikian indah, pemberian dari Allah, sesungguhnya melahirkan kata pecahan (mustaqqat) yang menggambarkan sistem kehidupan yang utuh. Pertama, salim ( kemurnian niat, tanpa campuran kepentingan). Kedua, al istislam wat taslim (ketundukan secara total). Ketiga, silm (damai). Tidak ada kebaikan bagi mukmin yang tidak mudah harmonis dan tidak mudah diharmoniskan ( al Hadits). Keempat, salam (sejahtera).

Simaklah pidato politik Rasulullah ketika memasuki Yatsrib, kemudian dirubah menjadi Madinah (tempat untuk mengamalkan dan menyempurnakan praktek dinul Islam):

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ )).

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, bagikanlah makanan, perkuat jalinan silaturrahim, lakukanlah shalat lail ketika manusia tidur, kalian akan masuk surga dengan damai.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, salamah (menjaga keselamatan lingkungan sosial).

Sesungguhnya perumpamaan mukmin bagaikan lebah, jika ia makan berupa putik bunga, jika ia mengeluarkan sesuatu berupa madu, jika ia hinggap di daun tidak rusak, jika ia diganggu ia siap menyengat ( al Hadits).

Sesungguhnya kerusakan moral bangsa jahiliyah klasik diawali dari kerusakan pola pikir. Sebagaimana kebaikan, kejahatan jahiliyah beranak- pinak. Mengajak kepada kejahatan- kejahatan berikutnya (yang lain).

Syeikh Abdul Malik Ramadhani  hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama – seseorang – seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, Hal. 16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit, maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika pisik kita penuh dengan luka, tetapi hati masih sehat, maka masih ada peluang besar untuk memperoleh petunjuk. Sebaliknya, sekalipun pisik sehat, tetapi hati penuh dengan noda hitam, tertutup untuk memperoleh sinar iman (nurul iman).

Oleh sebab itu, mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia.

Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu, para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, Hal. 16).*

 Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah  

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

4 Cara Mengelola Sebuah Konsesus dalam Berjama’ah

4 Cara Mengelola Sebuah Konsesus dalam Berjama’ah

Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah (2)

Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah (2)

Bersabar dan Bersyukur Atas Kesenangan dan Kesusahan

Bersabar dan Bersyukur Atas Kesenangan dan Kesusahan

Bergaul Mendapatkan Aroma Harum Orang Saleh

Bergaul Mendapatkan Aroma Harum Orang Saleh

Ucapkanlah Kalimat Thayyibah

Ucapkanlah Kalimat Thayyibah

Baca Juga

Berita Lainnya