Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Strategi ‘Menjual Diri’

Bagikan:

IBNU Said dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Said bin al-Musayyab bahwa Shuhaib ar-Rumi, seorang mantan budak berkulit putih berdarah Romawi, mengikuti jejak Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berhijrah ke Madinah. Dalam perjalanannya, sekelompok orang kafir Quraisy membuntutinya.

Menyadari ancaman sedang mengintai, ia kemudian berhenti dan mengeluarkan panah dan semua persenjataannya seraya berkata, “Kalian tahu wahai orang-orang Quraisy, aku adalah pemanah terbaik. Kalian tidak akan dapat menyentuhku hingga aku menggunakan semua panah yang kubawa, kemudian aku akan penggal kepala kalian satu per satu dengan pedangku. Terserah kalian, apakah kalian akan menghalangi perjalananku, atau jika kalian hanya menghendaki harta bendaku di Mekah, akan aku tunjukkan. Tetapi dengan syarat, kalian membiarkan aku meneruskan perjalananku!”

Orang-orang Quraisy itu setuju, lalu Shuhaib menunjukkan tempat harta bendanya yang ada di Mekah. Setelah itu, ia meneruskan perjalanan hijrahnya ke Madinah. Maka, turunlah wahyu kepada Rasulullah, sementara Shuhaib masih dalam perjalanan dan dia belum mendengarnya,

Di antara manusia ada yang rela menjual jiwanya demi untuk mencari ridha Allah, dan Allah Maha Pengasih terhadap para hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

Ketika melihat Shuhaib tiba di Madinah, Rasulullah menyambutnya seraya bersabda, “Perniagaan yang menguntungkan, wahai Abu Yahya (panggilan Shuhaib)! Perniagaan yang menguntungkan, wahai Abu Yahya.” Lalu beliau membacakan ayat itu kepadanya.

Kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, melebihi cintanya kepada harta dan nyawanya sendiri. Shuhaib menjual semua itu untuk menggapai ridha Allah.

Bangunan cinta kepada Allah dan Rasulullah diumpamakan Allah sebagai transaksi jual beli antara hamba sebagai “penjual” dan Allah sebagai pihak yang dijadikan target pemasaran (pembeli).

Sekarang kita akan mencoba mengulas beberapa strategi pemasaran dalam praktik bisnis konvensional. Contohnya Anda tentu kenal merek sepatu “Nike”. Kenapa sepatu Nike begitu digandrungi oleh tidak hanya para olahragawan, tetapi semua orang, mulai dari anak-anak sampai orang tua? Apakah karena kualitasnya yang memang bagus? Atau karena modelnya yang selalu baru, inovatif, dan berganti-ganti?

Nike sukses bukan karena kualitas sepatunya! Anda keliru kalau menganggap Nike hanya menjual sepatu. Nike adalah identitas dan ekspresi diri!

Sama seperti halnya sepeda motor “Harley Davidson”. Anda tentu keliru kalau Harley Davidson menjual motor besar. Yang dijual adalah “kebebasan Amerika,” “Patriotisme”, dan “kemachoan”.

Dua kasus itu adalah praktik strategi pemasaran yang tidak terlalu fokus pada kualitas produk, tetapi identitas. Anda juga tahu bagaimana gencarnya promosi dan iklan berbagai macam produk di televisi dan media massa. Semua itu tujuannya untuk memperkenalkan identitas dan menguatkan posisi merek dari produk itu di benak konsumen.

Identitas tidak hanya nama, alamat, tanggal lahir dan sebagainya. Jauh lebih penting dan lebih menarik dari semua itu adalah kualitas dan karakter pribadi. Jika Anda mempunyai seorang teman yang bernama Fulan bin Fulan misalnya, setelah Anda mendengar namanya disebut oleh seseorang, apa yang akan muncul di benak Anda? Yang akan tampil di benak Anda adalah karakter dan sifat-sifatnya.

Jika Anda pernah dikecewakan atau disakiti oleh orangnya, maka ketika Anda mendengar namanya disebut, Anda akan merasa benci, muak, cuek atau sinis. Lain halnya jika Anda mengenalinya sebagai seorang yang baik hati, ramah, perhatian dan cerdas. Karakter-karakter itu akan hadir dalam benak Anda setelah Anda mendengar namanya dan mendorong Anda untuk ‘membeli” apa pun yang dia tawarkan kepada Anda.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kesan Anda terhadap orang lain, baik penampilan fisik maupun karakter dan kepribadiannva adalah hasil dari bagaimana dia “memasarkan diri”nya kepada Anda.

Dalam konteks hubungan dengan Allah, Tuhan yang menguasai alam semesta, kita sebagai hamba-Nya adalah orang-orang yang “menjual diri” kepada-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at Taubah: 111)

Dalam strategi membangun merek (brand) ada istilah positioning, differentiating, dan branding. Ketiganya merupakan langkah untuk menguatkan posisi merek dalam benak konsumen sehingga kekuatan itu bisa meningkatkan daya tarik produk. Di antara cara mereka untuk menguatkan posisi itu adalah dengan promosi, publikasi, iklan yang terus-menerus di media cetak maupun elektronik.

Tidak berbeda dengan strategi pemasaran konvensional, strategi “menjual diri” kepada Allah pun sama. Ingatlah bagaimana jawaban Rasulullah terhadap Aisyah yang menanyakan mengapa beliau rajin beribadah. Rasulullah menjawab, “Apa aku tidak bangga seandainya Allah mengenaliku sebagai hamba yang tahu berterima kasih?”

Kualitas dan karakter kita, bisa kita pilih melalui berbagai jenis amal saleh yang diajarkan oleh Rasulullah. Ada orang yang Allah kenal sebagai hamba yang bersyukur. Ada juga orang yang Allah kenal sebagai hamba yang rajin Qiyamul-lail. Ada orang yang Allah kenal sebagai hamba yang rajin bersedekah, berjihad, berzikir, berdoa, beristighfar, dan banyak lagi amal saleh yang bisa menjadi content value (nilai jual) kita kepada Allah.

Maka, di antara cara untuk menguatkan “merek” dan nilai jual amal saleh kita di hadapan Allah adalah dengan melakukan amal saleh tersebut secara berulang-ulang dan terus-menerus.

Ringkasnya, target yang kita jadikan sebagai “pembeli” adalah Allah. Yang kita jual adalah berbagai jenis amal saleh yang ringan dan mudah dikerjakan. Sementara harga yang kita inginkan sebagai bayarannya adalah ridha Allah dan surga-Nya. Maka aturlah strategi dan waktu Anda secara terus-menerus untuk memperkenalkan “produk” amal saleh Anda kepada Allah, sehingga Dia mau “membeli” amal saleh Anda dengan ridha dan surga-Nya.*/Hudzaifah Ismail, dari bukunya Sesegar Telaga Kautsar.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Agar “Pensiun” Kita Lebih Berkah

Agar “Pensiun” Kita Lebih Berkah

Penyakit Hati: Tidak Sabar dan Merasa Istimewa (2)

Penyakit Hati: Tidak Sabar dan Merasa Istimewa (2)

Perbaikilah Syahadat Anda!

Perbaikilah Syahadat Anda!

Saat Malaikat Maut Mencabut Nyawa (1)

Saat Malaikat Maut Mencabut Nyawa (1)

Berkumpul dan Berjamaah, bukan Berkerumun (1)

Berkumpul dan Berjamaah, bukan Berkerumun (1)

Baca Juga

Berita Lainnya