Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [2]

Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Shalih Hasyim

 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. janganlah begitu,  jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,  niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.” (QS. At Takatsur (102) : 1-6).

Di tengah jutaan rakyat miskin masih banyak para pejabat yang gemar memamerkan kekayaan hasil korupsi. Hilang pada diri mereka rasa prikemanusiaan dan rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Telah lenyap pada diri mereka kekhawatiran terhadap perhitungan yaumul hisab. Sesungguhnya keadaan ini telah diprediksi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

“Akan tiba bagi manusia  suata masa pada saat orang tidak lagi  peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.”  (HR. Bukhari).

Pejabat tinggi melakukan korupsi secara besar-besaran. Pejabat kecil melakukan korupsi kecil-kecilan. Yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan. Kekayaan negara yang demikian melimpah hanya dinikmati oleh segelintir kecil orang. Rakyat kebanyakan harus rela hidup di bawah garis kemiskinan. Orang miskin tidak boleh sakit. Orang miskin tidak boleh pintar. Orang miskin tidak boleh bahagia. Terjadilah ketimpangan dalam distribusi wewnang dan hasil pembangunan. Bertolak dari sinilah terjadinya kehancuran berbagai negeri.

 “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al Hasyr (59) : 7).

Kita tidak boleh membiarkan ketimpangan sosial ini terus terjadi. Kita harus berjuang dengan cara mencerdaskan masyarakat kita, terutama para pejabat kita yang suka melakukan manipulasi angka-angka. Kita ajari mereka agar memiliki kecerdasan finansial sehingga kemakmuran rakyat yang menjadi cita-cita berdirinya negara Indonesia itu dapat terwujud. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan memperoleh ampunan dari Tuhan Yang Maha Pengampun).

Hidup di zaman sekarang ini memang berat. Semua serba uang. Mau melahirkan anak memerlukan uang. Mau makan, mau sekolah, bahkan mau ke WC di terminal pun harus mengeluarkan uang. Apalagi kalau sakit, mati pun mengeluarkan uang.

Hal ini sesuai dengan prediksi Rasulullah. “Pada akhir zaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya.” (HR. Thabrani).

Memang dengan harta yang cukup kita dapat memelihara harga diri kita dari meminta-minta, dan kita bisa menolong orang lain. Dengan harta yang cukup kita dapat makan dan minum yang halal dan thayib, bisa bersedekah dan bisa beribadah haji. Kita bisa makan kenyang, tidur pulas, menutup aurat dan tempat tinggal yang mapan.

Justru, orang yang rakus bermental miskin. Berapapun karunia yang diberikan oleh Allah SWT tidak dapat mengantarkannya bermental memberi. Islam mengajarkan, orang yang kaya itu bukanlah orang yang banyak saldonya di Bank. Orang yang kaya adalah orang yang kaya hati.

Orang yang kaya hati, senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.

Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan mendapatkan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala  akan menggantinya dan melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia dihinggapi penyakit thoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.

Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin. Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala  yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.

Dengki (Hasud)

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama.

Beliau juga mengingatkan: “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

Demikian bahayanya secara individu dan sosial, Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan kepada kita doa khusus agar terhindar dari penyakit dengki.

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Ssesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr (59) : 10).

Takabur (Sombong)

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun. Karena keturunan (nasab), kedudukan (hasab), ketampanan (al Jamal), kekuatan (al Quwwah), kekayaan (harta), ilmu (pengetahuan), al atba’ (pengikut).

Tetapi, kesombongan yang paling dibenci adalah kesombongan yang dilampiaskan tanpa alasan. Yaitu, orang miskin yang sombong, orangtua yang berzina, dll. Seharusnya miskin harus tahu diri. Seharusnya orangtua itu lebih cenderung kepada ketaatan. Karena, usia yang dimilikinya semakin berkurang. Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi.

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan/kelemahan.

Di dalam diri manusia disamping ada sisi terang, pula ada sisi gelap. Manusia hanya berisi tong kotoran yang bersumber dari dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, lubang qubul dan lubang dubur. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun seberat atom.

Dendam

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, dan menderita, serta jatuh, agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup.

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam.

Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut:

Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka…

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali Imran (3) : 133-134).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sehat dan Sukses Selamanya dengan Mengingat Mati

Sehat dan Sukses Selamanya dengan Mengingat Mati

Melaksanakan Sifat Amanah

Melaksanakan Sifat Amanah

Membangun Mental Pemenang! [1]

Membangun Mental Pemenang! [1]

Tazkiyatu Nafs:  Menerangi Kegelapan Hati

Tazkiyatu Nafs: Menerangi Kegelapan Hati

Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Baca Juga

Berita Lainnya