Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [1]

Bagikan:

Oleh: Shalih Hasyim

SESUNGGUHNYA Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air (dari satu lokasi). Dengan itu seluruh makhluk dapat hidup. (Dalam Kanzul ‘Ummal, hadits no. 10464).

Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang dengan bashirah (mata hati), maka hati kita akan tersayat. Seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Yaitu sosok manusia yang kehilangan jati dirinya sendiri. Kehadirannya bukan sebagai anugrah/mitra bagi orang lain. Tetapi, manusia yang menjadi ancaman/rivalitas bagi sesama. Muncullah sebuah pameo, hari ini makan apa, dan esok hari memangsa siapa ?. Banyak bermunculan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Manusia bagaikan srigala bagi yang lain.

Fakta membuktikan, bukankah kita seringkali menjumpai manusia sipil berwatak militer, manusia sehat secara pisik, ruhaninya sakit. Manusia maju, tapi ia primitive. Ia terasing dari kehidupan sosialnya.

Banyak orang  mengalami split personality. Ketika di masjid ia khusyuk beribadah, tapi ketika di tengah-tengah kehidupan sosial ia lihai menipu dan mengkhianati saudaranya.  Memalsukan angka-angka kwitansi.

Inilah sumber persoalannya. Agama dipandang sebagai urusan privasi. Allah tidak boleh mencampuri urusan sosial. Alangkah kejinya mereka memposisikan kedudukan Allah. Peran-Nya diberi ruang pada lorong yang pengap dan sempit.

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain. Oknum partai politik tertentu mengancam pesaing politiknya, karena kalah dalam pemilihan pilkada.

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya?  Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?

Efek Virus Takatsur

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat (kasih sayang) pada diri manusia karena telah terjangkiti penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, berebut massa/pengikut (al Atba’), tidak untuk memenangkan kebenaran dinul Islam). Tetapi, untuk kepentingan perut dan di bawah perut.

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu. Penyakit-penyakit tersebut adalah pemicu pelanggaran pertama anak Adam di muka bumi ini dengan berbagai bentuk dan variasinya (hunna ashlul khathiah).

إيَّاكُمْ وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)

“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).

Ketika virus ruhani tersebut penyebab pemiliknya salah dalam menempatkan dirinya, lupa kepada Pemilik Hakiki. Memandang wasilah (alat) sebagai ghoyah (tujuan). Ia salah kaprah dalam mempersepsikan harta, tahta, dan wanita. Ia tidak menyadari bahwa dunia adalah lahan untuk menanam benih kebaikan untuk dipanen di akhirat.

Serakah (thoma’)

Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong. Sombong itu asalnya dari Iblis ketika ia enggan (keberatan) bersujud (hormat) kepada Nabi Adam as sehingga ia terkutuk (terlaknat).

Rakus asalnya dari Adam ketika dikatakan kepadanya bahwa semua yang ada di dalam surga itu boleh dikonsumsi kecuali satu pohon. Namun sikap thoma’ menghinggapi dirinya sehingga ia memakannya lantas ia dikeluarkan dari surga. Sedangkan dengki berasal dari Qabil bin Adam ketika membunuh saudaranya (Habil) sehingga ia menjadi kafir dan kekal di neraka (dalam Tanbihul Ghafilin, jilid 1).

Ada dua macam rakus. Rakus yang tercela. Dan rakus yang tidak tercela. Rakus yang pertama melalaikan syariat Allah. Dan rakus yang kedua tidak sampai melupakan perintah dan larangan-Nya.

Jika, direnugkan maka rakus itu merugikan. Karena, apa yang ada ditangan kita tidak permanen. Timbul  dan tenggelam. Bisa saja, atas kuasa-Nya, yang ada digenggaman kita diambil oleh pemilik-Nya. Orang yang beriman tidak perlu mempertanyakan, apakah yang menjadi kepemilikan kita sudah resmi (formal), tetapi apakah karunia yang kita terima menambah barakah (tambahan kebaikan). Alangkah menyakitkan, jika yang kita usahakan dan kita peroleh justru secara bertahap membuat lubang kehancuran citra diri kita (istidraj).

Kita tidak akan memperoleh bagian rizki kecuali yang sudah ditentukan oleh-Nya. Ada rizki itu yang kita buru. Dan ada karunia itu yang memburu kita. Adapun kerja keras itu adalah dalam rangka ibadah kepada-Nya. Banyak sekali sumber rizki tidak berkaitan langsung dengan ikhtiar kita. Tidak menggunakan logika manusia. Misalnya, silaturrahmi, takwa, memperbanyak sedekah, dll. Yang menarik, binatang cecak yang menempel di dinding. Justru, sumber rizkinya binatang yang bisa terbang.

اَللَّهُمَّ لَامَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مَعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam membaca Al Hakumut Takatsur .. hatta zurtumul maqabir (bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam liang lahat), kemudian beliau bersabda;  “Manusia selalu berkata, Hartaku, hartaku, dan bukanlah termasuk hartamu kecuali apa yang kamu makan lantas kamu habiskan, atau kamu pakai lalu kamu rusakkan, dan kamu sedekahkan lalu kekal (pahalanya) bagimu.”

Orang yang memiliki sifat rakus merasa tidak adil dalam memandang pembagian rizki dari Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, pengalaman empiris mengajarkan bahwa rakus tidak menambah jatah rizki seseorang.

Dan sifat qonaah tidak mengurangi rizki. Qonaah adalah kekayaan hati yang sangat mahal. Justru, dengan memelihara sifat tercela ini, bagaikan meminum air laut, semakin banyak yang diteguk, bertambah haus. Tidak akan sembuh penyakit yang berbahaya ini kecuali kematian. Jika manusia diberi satu lembah emas, maka ia akan mengharapkan tambahan satu lembah lagi, dst.

Adil itu tidak harus sama, tetapi proporsional. Meletakkan sesuatu pada tempatnya secara pas. Sedangkan zhalim adalah kebalikannya.

Suasana kehidupan sosial yang saling ta’aruf (kenal mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling bersinergi), takaful (saling menanggung), tanashuh (saling memberi nasihat), taakhi (saling bersaudara), adalah karunia yang terbaik melebihi dari yang dikumpulkan manusia berupa kekayaan itu sendiri.

Karena, pada dasarnya karunia itu disamping yang bersifat lahiriyah pula berbentuk nikmat batiniyah. Kehidupan sosial yang menyeimbangkan kebutuhan ruhani dan jasmani, indikator kehidupan sosial yang sehat.

Orang yang memahami posisi harta, memiliki kecerdasan finansial. Ia tidak sekedar pandai mencari uang, tidak sekedar pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tidak sekedar trampil membuka gembok-gembok rizki, tidak sekedar membuka pintu-pintu karunia. Tetapi, gemar pula berinfak, sebagai hak dari harta itu sendiri. Jadi kaya itu berkaitan dengan sikap mental.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah memberikan definisi yang jelas tentang orang yang mempunyai kecerdasan finansial.

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

“Yang disebut al-ghina (orang yang cerdas finansial) itu bukanlah mereka yang sekedar memiliki harta yang banyak, tetapi al-ghina itu mereka yang kaya jiwa.” (HR. Bukhari).

Bukan disebut cerdas finansial orang yang memiliki harta yang banyak tetapi serakah dan kikir. Apa gunanya memiliki banyak kekayaan tetapi tidak dibelanjakan. Seharusnya berapa pun yang diinfakkan tidak masalah. Satu rupiah pun pantang dibelanjakan  untuk maksiat.

Harta bagi orang yang terjangkiti virus ruhani kikir adalah segala-galanya. Semakin banyak yang ia terima, ia semakin rakus. Bagaikan meminum air laut, semakin banyak meminumnya semakin haus.  Ia mengira harta itu mengekalkan kehidupannya. Ia memandang harta sebagai hak milik, bukan hak pakai atau hak guna (titipan dari Allah Subhanahu Wata’ala).

Ancaman Allah pada Orang Yang Mengumpulkan Harta

Allah Subhanahu Wata’ala mengancam terhadap orang yang memiliki pandangan negatif/miring dengan harta.

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

كَلَّا لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah], dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak!  Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al Humazah (104) : 1-4).

Tidak termasuk cerdas finansial orang yang kaya raya tetapi serakah. Sekalipun kaya secara lahiriyah tetapi jiwanya miskin. Sekalipun kaya, tapi masih menginginkan harta orang lain dengan menghalalkan segala cara. Sekalipun hartanya banyak, tetapi tidak cukup.

Perhatikan, para koruptor itu bukanlah orang-orang miskin. Mereka bukan orang yang tidak punya duit. Mereka punya rumah besar, mobil mewah, dan harta berlimpah, tapi karena mereka serakah, masih saja tega merampok harta negara. Mereka terjangkiti penyakit “Takatsur” (menumpuk-numpuk harta, pengaruh, massa, pengikut, dll).* (bersambung)

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Membangun Mental Pemenang! [1]

Membangun Mental Pemenang! [1]

“Lahir”, dan Kembali ke Masjid

“Lahir”, dan Kembali ke Masjid

Bangun Karakter dan Jiwa Bangsa dengan Adab! (2)

Bangun Karakter dan Jiwa Bangsa dengan Adab! (2)

Bahaya Meninggalkan Muhasabah (2)

Bahaya Meninggalkan Muhasabah (2)

Orang yang Memelihara Amalan Sunnah (2)

Orang yang Memelihara Amalan Sunnah (2)

Baca Juga

Berita Lainnya