Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Ciri-ciri Hati yang Unggul

Ilustrasi
Hati yang unggul adalah yang selalu menggantungkan diripada Dzat Yang maha kaya, Dzat Yang dapat menentramkan hati
Bagikan:

Imam  as Syafi’I  memberikan arahaan agar  terhindar  dari  ujub  dalam ketaatan,  “Bila  Anda khawatir  muncul  penyakit  ujub  atas  amalan  Anda,  maka ingatlah keridhaan dari pihak yang hendak Anda cari, nikmat apakah yang hendak Anda inginkan? Siksaan apa yang Anda takuti. Barangsiapa yang berfikir ke arah situ maka dia akan menganggap kecil amalannya.” (dalam kitab Siyarul ‘Alamin Nubala’, jil. X,hal. 111)

d. Akan  timbul  rasa  hina  dan  bersalah  saat  melakukan  dosa.Orang yang melakukan dosa sedangkan dia biasa-biasa  saja  maka  ini  pertanda hatinya  sedang sakit.  Jangan-jangan Allah sudah mengunci hatinya.

e. Mengukur keuntungan dan kerugiaan dengan ukuran akhirat. Sebagaimana Rasulullah pernah menyembelih seekor kambing lalu  disedekahkan  dan  yang  tersisa  hanya  pahanya  saja, hingga ‘Aisyah berkata, “Hanya paha saja yang tersisa?” Rasulullah menjawab  sebaliknya dengan  timbangan  akhirat,  “Semuanya  masih tersisa kecuali pahanya saja.”

Yang ketiga, Hatinya selalu memusuhi kelalaian.

Ada  beberapa  ilustrasi  yang  mewanti-wanti  kita  terhadap kelalaian  dan  panjangnya  angan-angan.  Sebagaiamana  hal tersebut digambarkan oleh para ulama, di antaranya :

a.    Bisyr  bin  Harist  menceritakan  tentang  seekor  semut  yang sibuk mengumpulkan biji-bijian di musim panas dengan angan-angan agar dapat dimakan di musim dingin, tiba-tiba seeokor burung datang mematuknya dan biji tersebut. ( Lihat: Bisyr bin Harist  hal.  65)

b. Ibnu  Jauzi,  “Dunia  adalah  perangkap,  sedangkan  manusia adalah burungnya. Burung-burung itu menginginkan biji (yang ada  dalam  perangkap),  tapi  lupa  akan  jerat  perangkap.” (Dalam Shaidul Khathir, hal. 373)

c. Hasan  Al-Bashri,  “Wahai  anak  Adam,  pisau  tengah  diasah, perapian  tengah  dinyalakan,  sedangkan  domba  itu  tengah menikamati makanannya.” (Dalam Siyaru ‘alamin Nubala’, jil. IV, hal.586)

Maka dari itu hati yang unggul selalu waspada dan tidak terlena dengan kenikmatan yang sesaat dan menipu serta angan-angan dunia  yang  melenakan,  menipu,  dan  menjerat,  sehingga membuat dia lalai dari kehidupan yang abadi.

Keempat, hati yang senantiasa ingin membalas.

Maksudnya  adalah  membalas  kesalahan  dengan  kebaikan.Kerena  kebaikan  akan  menghapus  kesalahan,  sebagaimana firman Allah;

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفاً مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan  dirikanlah  shalat  itu  pada  kedua  tepi  siang  (pagi  dan petang)  dan  pada  bahagian  permulaan  daripada  malam.Sesungguhnya  perbuatan-perbuatan  yang  baik  itumenghapuskan  (dosa)  perbuatan-perbuatan  yang  buruk.” (QS.Hud  [14]: 114)

Dalam hadis Rasulullah bersabda

اهحمت ةنسحلا ةئيسلا عبتاو

“Hendaklah ia mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscayakeburukan  itu  akan  menghapus  keeburukan.”  (HR.  Ahmad)

Sesungguhnya balasan kebaikan adalah kebaikan yang dating setelahnya,  sedangkan  balasan  keburukan  adalah  keburukan yang datang setelahnya, sebagaimana firman Allah.

Dengan  kata  lain,  barangsiapa  yang  melakukan  ketaatan  dan telah  paripurna,  maka  tanda-tanda  diterimanya  ketaatan tersebut  adalah diikuti  dengan ketaatan yang lain.  Sedangkan tanda  tidak  diterimanya  adalah  diikuti  dengan  kemaksiatan setelahnya. Na’uzdubillah.

Umar r.a  suatu ketika  pernah disibukkan dengan kebun senilai 200.000 dirham sehingga beliau terlambat shalat Ashar-nya, maka beliau  membalasnya  dengan  menyedekahkan  kebun  tersebut.

Hal  yang  senada  juga  pernah  dilakukan  oleh  Thalhah,  dia menyedekahkan kebunnya sebagai kafarah (pengganti) karena ketika shalat, hatinya  pernah  tersibukkan  dengan  burung  yang  hinggap  di kebunnya tersebut.

Kelima, hati yang tidak mengenal rasa malas

Orang  yang  malas  sering  menyepelekan  sesuatu  yang  kecil,dengan  kemalasannya  ia  selalu  menunda-nunda  sampai  tidak sempat  dilaksanakannya.  Padahal  hakekat daripada  sebuah gunung adalah kumpulan kerikil-kerikil dan hakekat banjir besar adalah  kumpulan  dari  sejumlah  tetesan  air.

Rasulullah  telah memotifasi  umatnya  agar  bersegera  melakukan  kebaikan,jangan menunda-nundanya walaupun waktu yang dimiliki sangatsempit.

اهسرغي ىتح موقي ل نأ عاطتسا نإف ةليسف مكدحأ دي يفو ةعاسلا ةماق نإاهسرغيلف

“Bila  kiamat  terjadi  sedang  di  tangan  salah  seorang  di antara kalian memegang bibit, maka bila ia mampu untuk tidak bangkit hingga  menanamnya,  maka  hendaklah  ia  menanamnya.”  (HR.Bukhrari)

Maka hati yang memiliki ciri-ciri sebagaimana tertera di atas lah yang akan selalu unggul,  tidak pernah depresi, tidak mengenal kata lelah dan  menyerah,  tidak  menggoyahkan  sedikitpun  tekadnya  dengan komentar-komentar  orang  lain.  Karena  yang  diharapkankan  bukan wajah manusia, tapi keridhaan dari Rabb Yang menciptakan manusia.

Namun  untuk  memperolehnya  tidak  hanya  dengan  duduk  santai menunggu mu’jizat dan karamah yang tiba-tiba muncul,  mustahil  bisa.  Tapi  butuh usaha semaksimal  mungkin  untuk dapat memilikinya.*/Nashihul Umam

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Giat Bekerja Mencari Nafkah (2)

Giat Bekerja Mencari Nafkah (2)

Menumbuhkan Fitrah Bijaksana

Menumbuhkan Fitrah Bijaksana

Memburu Sumber Energi Utama Umat (1)

Memburu Sumber Energi Utama Umat (1)

Seni Menghadapi Kegagalan (1)

Seni Menghadapi Kegagalan (1)

Apakah Asy-Syiah Mencintai Ahli Bait?

Apakah Asy-Syiah Mencintai Ahli Bait?

Baca Juga

Berita Lainnya