Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Bekerja Keras untuk Membangun Rumah Di Surga (2)

Bagikan:

Oleh: Shalih Hasyim

AHLI sastra Arab pernah mengatakan, “Apabila engkau membawa keranda mayat ke kuburan, ingatlah suatu saat engkau akan dibawa. Apabila engkau diserahi suatu urusan oleh kaum (bangsa) ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan).”

Kita akan diusung ke sebuah rumah dalam tanah yang luasnya hanya 1 x 1.5 m2 saja. Harta yang melimpah tidak lagi dapat kita nikmati. Saat kematian, kita hanya dibekali dengan beberapa lembar kain kafan yang menutupi tubuh kita. Pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak lagi berguna, karena kita sudah kaku, tangan kita tidak dapat menggenggam seperti saat kita dilahirkan, tidak bisa lagi bergerak dan berbicara, serta kantor dan tempat bermain kita dibatasi sebuah tempat sempit yang bernama liang lahat di dalam bumi sana. Isteri, anak dan keluarga yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa saat jasad kita ditimbun dengan tanah yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan mereka. Mereka terpaksa meninggalkan kita sendirian di dalam kubur setelah pemakaman selesai. Tidak ada seorang isteri, atau anak, atau keluarga, teman, anak buah dan sebagainya yang mau mendampingi kita dengan setia setelah kita dikubur.

Semua ini adalah fakta bahwa semua apa yang ada dan kita miliki di dunia ini hanya sebatas di dunia. Peristiwa kematian akan memutus semuanya dengan kita. Sebab itu, orang yang cerdas ialah orang yang dapat melihat kebenaran fakta tersebut dan dia mensiasatinya dengan siasat yang akan menguntungkannya setelah mati, bukan sebelum kematian.

Rasulullah Muhammad bersabda :

“Orang yang pintar itu ialah orang yang mampu mengevaluasi diriniya dan beramal (mencurahkan semua potensinya) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Attirmizi).

Salah satu bukti kita tidak tertipu oleh kesenangan dan syahwat dunia ialah kita tidak terlena/terpedaya dalam kehidupan dunia ini. Pada waktu yang sama, kita dapat memfokuskan hidup kita di dunia ini untuk mencapai kehidupan akhirat. Kita optimalkan semua potensi yang ada pada kita, khususnya jiwa, raga, isteri, anak, harta dan waktu kita untuk membangun rumah abadi kita di surga, bukan rumah di dunia yang fana dan yang kita diami hanya sementara. Karena istana dan rumah surga sangat jauh perbedaanya dengan istana dan rumah di dunia.

Sebagaimana membangun rumah di dunia yang tak seberapa memerlukan kerja dan perhatian, maka membangun rumah di surga memerlukan kerja lebih keras lagi. Banyak cara dan strategi yang dapat kita lakukan untuk membangun rumah dan istana di surga.

Di antaranya ialah :

Pertama, iman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa, seperti yang Allah firmankan dalam surat As-Shaf (61) ayat 10 – 12 ).

ؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?(10) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (11) Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal (rumah) yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS: As-Shaf (61) ayat 10 – 12 ).

Kedua; memperbanyak amal shaleh; melalui pendengaran, penglihatan, hati, lisan, ilmu dan harta yang kita miliki. Sebagaimana dalam surat Saba’ (34) ayat 37) :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (rumah-rumah) yang tinggi (dalam surga).”

Ketiga, mengimani Allah dan membenarkan risalah para Rasul Allah serta melaksanakan konsekuensi iman pada Allah dan para Rasululllah, khususnya Rasul Muhammad. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya para penghuni surga itu saling melihat penghuni kamar-kamar dari atas mereka (di surga) sebagaimana mereka melihat bintang-bintang bercahaya yang lewat di ufuk timur atau barat disebabkan kelebihan di antara mereka. Mereka (Sahabat) berkata : Wahai Rasulullah, yang demikian itu rumah-rumah para Nabi yang tidak mungkin dicapai oleh selain mereka ? Nabi berkata : Bukan, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya… mereka adalah orang-orang yang beriman pada Allah dan membenarkan ajaran para Rasul Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian, semoga Allah menolong kita untuk melakukan berbagai amal ibadah di atas dan juga amal ibadah lainnya, agar rumah dan istana impian kita di surga dapat terwujud. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di surga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassalam, para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Allahumma amin.

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa (4) : 69).*

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Jadilah Manusia yang Bisa Menundukkan Nafsu

Jadilah Manusia yang Bisa Menundukkan Nafsu

Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (2)

Ke Mana Kebahagiaan Harus Diburu? (2)

Bila Sakit Menyapa, Jangan Bersedih

Bila Sakit Menyapa, Jangan Bersedih

Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (1)

Bersikap Sabar Saat Menghadapi Ujian (1)

Lidah Pangkal Bencana

Lidah Pangkal Bencana

Baca Juga

Berita Lainnya