Bekerja Keras untuk Membangun Rumah di Surga

Masihkah mata kita buta sehingga tidak dapat membedakan antara kenikmatan dunia yang sementara (mata’) dan tidak seberapa

Bekerja Keras untuk Membangun Rumah di Surga

Terkait

Oleh: Shalih Hasyim

SAAT ini kita sedang hidup di zaman yang mengikuti paham campur aduk. Inilah kehidupan sekuler yang menceraikan antara hubungan makhluk dari Sang Khalik. Saat ini, di mana kita hidup dengan standar/ukuran/barometer yang didasarkan pada materi yang dimiliki dan dikuasai. Semua aspek kehidupan kita telah dijangkiti virus materialisme yang membahayakan.

Bahkan virus materialisme telah pula menggerogoti kehidupan beragama kita. Hampir sulit kita temukan aktivitas keagamaan, seperti ibadah, dakwah, sosial, pendidikan, politik dan sebagainya yang tidak digerogoti oleh materialisme. Inti semua itu adalah bergesernya standar nilai dan kemuliaan dari keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, kepada materi dan status sosial. Padahal yang pailing mulia di sisi Allah adalah orang yang paling baik kualitas taqwanya.

Materialisme ini telah melahirkan dampak/efek negatif dalam banyak kehidupan kita seperti, perlombaan hidup dan persaingan yang tidak sehat, serakah, sombong dan dengki, termasuk dalam keluarga sehingga isteri tidak percaya dan hormat lagi pada suami, anak kepada orang tua, putus hubungan atara saudara dan karib kerabat. Yang lebih dahsyat lagi, materialisme telah mendorong tindakan kejahatan ekonimi seperti, korupsi, kolusi, nepoteisme, monopli, kecurangan dalam timbangan, takaran, ukuran, kualitas dan sebagainya.

Demikian pula materialisme melahirkan sifat membabi buta dalam mencari kebutuhan hidup dan sarana kehidupan sehingga tidak peduli halal atau haram, berfoya-foya dalam menikmati kehidupan dunia, mubazir, tidak jujur dalam bekerja dan berbisnis, egois, rakus terhadap harta, pelit, tidak mau peduli terhadap nasib kaum fakir dan miskin, sombong, angkuh dan bahkan sampai ke tingkat mempertuhankan harta benda. Pikiran dan jiwa berbalik arah. Dengan kerja keras, seakan-akan kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Hati juga berubah orientasi, tujuan dipandang sarana dan sarana dipandang tujuan. Maka, tidak heran jika materialisme ini telah pula melupakan kita dari kehidupan akhirat yang merupakan tempat kembali dan tempat tinggal kita yang hakiki lagi abadi/permanen.

Materialisme adalah penyakit yang tersembunyi dalam diri kita sendiri. Sumbernya adalah syahwat (keinginan-keinginan bersifat duniawi). Ia akan tumbuh subur dan bahkan dapat mengendalikan diri kita jika kita tidak mampu mengelola dan mengendalikan syahwat tersebut. Memang, terkadang pemicunya bisa saja faktor luar seperti lingkungan keluarga atau life syle (gaya hidup) materialisme dan konsumtif yang berkembang dalam masyarakat.

Pada umunya ada tiga macam syahwat dunia yang tertanam dalam diri kita yang harus selalu diwasapadai dan dikendalikan, syahwat kepada anak keturunan, yakni syahwatul bathn (syahwat perut) dan syahwatul farj (syahwat di bawah perut, kemaluan).

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS: Ali Imran (3): 14)

Dari ayat tersebut kita dapat memetik pelajaran penting, apabila ketiga syahwat tersebut telah menjadi tujuan hidup kita sehingga melupakan pada balasan Allah di akhirat, maka ingatlah, saat itu berarti kita sudah dikuasasi dan dikendalikan olehnya. Inilah musuh yang paling berat, karena tidak terlihat secara kasat mata/abstrak. Awalnya memang bisa hanya sekedar kesenangan dan kecintaan biasa sebagai manusia. Namun, lama kelamaan bisa berubah menjadi orientasi hidup duniawi semata, dan kemudian dengan tidak disadari bisa meningkat dan berubah menjadi ketergantungan/ Tuhan yang disembah dan ditaati. Betapa ironis saat ini, tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang menjadikan wanita, anak-anak dan harta menjadi tandingan Allah.

Bagi orang-orang semacam ini, mereka tidak akan pernah mau peduli halal atau haram. Yang penting mereka meraih apa yang mereka inginkan dari wanita, anak dan harta.

Wanita, anak-anak dan harta telah melalaikan dan memperdayakan mereka dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala. Wanita, anak-anak dan harta telah memalingkan mereka dari jalan hidup yang Allah ciptakan untuk mereka. Dengan tanpa disadari, mereka membangkang kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada ajaran Islam yang Allah turunkan dan Rasulullah ajarkan untuk menyelamatkan dan membahagiakan kehidupan mereka di dunia dan sekaligus di akhirat kelak.

Agar hidup kita di dunia yang sementara dan fana ini tidak menjadi hamba syahwat dan kesenangan dunia, pada ayat berikutnya Allah menawarkan kepada kita suatu kehidupan yang lain dan balasan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih dahsyat dari apa saja yang mungkin kita peroleh di dunia ini.

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Katakanlah: “maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?.” Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS: Al Imran: 15)

Inilah tawaran Allah Subhanahu Wata’ala pada kita semua. Masihkah mata kita buta sehingga tidak dapat membedakan antara kenikmatan dunia yang sementara (mata’) dan tidak seberapa dengan kenikmatan akhirat dan surga yang sangat luar biasa (nikmat)? Masihkah hati kita keras bagaikan batu sehingga tidak mampu meyakini kebenaran tawaran Allah Subhanahu Wata’ala itu? Masihkah telinga kita pekak dan tuli sehingga tidak mampu mendengar tawaran Allah itu denga baik? Masihkan pikiran kita picik dan sempit sehingga tidak bisa mencerna dan memahami tawaran dan janji Allah yang maha dahsyat itu?

Jika panca indera kita mengalami disfungsi, berarti diri kita menjadi anggota tetap neraka jahannam.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS: Al Araf (7):179).

Bahkan, kita akan dijuluki oleh Allah sebagai sejelek-jelek makhluk di muka bumi ini.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah, orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.“ (QS: Al Anfal (8) : 21-22).

Tuli yang dimaksudkan, mereka mendengarkan tapi hati mengingkarinya. Maksudnya , manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran.

Sebuah fakta yang tak terbantahkan yang selalu kita saksikan bahwa setiap individu dan komunitas memiliki masa ajal. Jabatan juga ada masa pensiun. Harta juga ada masa kepemilikannya. Karena, pada hakikatnya semua yang kita miliki hanya sebagai hak pakai, hak guna, titipan-Nya. Pemilik sejati, hanyalah Allah. Jika ajal sudah datang, tidak bisa digeser jadualnya sedikitpun. Saat kematian tiba, tak ada lagi manfaat harta, anak, isteri, teman, handai tolan, pangkat, jabatan, karir dan apa saja yang kita miliki di dunia ini. Semuanya akan kita tinggalkan. Rumah mewah tidak lagi berguna. Orang yang tidak memahami kesementaraan dunia dan keabadian akhirat, akan tertipu.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS: Al Hadid (57) : 20).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !