Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Membangun Mental Pemenang! [1]

Bagikan:

Oleh: Shalih Hasyim

SETIAP kali kita berhari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Qurban, seharusnya kita sudah memetik kemenangan. Kemenangan memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain. Barangsiapsiapa yang kalah dalam mengelola diri sendiri akan gagal memimpin orang lain. Kemenangan mengendalikan/mengelola panca indra, syahwat perut (syahwatul bathn) dan syahwat kemaluan (syahwatul farj) agar tunduk kepada keinginan Allah SWT. Sebagaimana al-Quran mengatakan;

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapatkan kemenangan.” (QS.An Naba (78) : 31).

Kemenangan bahwa menemukan jalan keluar dari kerumitan hidup, memperoleh rizki di luar planning, perhitungan manusiawi dan tanpa menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, mendapatkan berbagai kemudahan dalam menapaki pasang surut kehidupan termasuk terhapusnya dosa dan jaminan memperoleh pahala yang agung. Tentu ini, sebuah kemenangan yang bersifat spektakuler. Sebagaimana janji Allah SWT;

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath Thalaq (65) : 2-4).

Sebagai pemenang sejati, tak ada salahnya kita gemakan alunan takbir, tahmid dan tahlil. Kita gemakan ucapan Allahu Akbar, Allah Maha Besar, termasuk dalam keyakinan kita. Betapa kecilnya ilmu yang kita miliki, betapa kecilnya harta dan jabatan kita. Subhanallah. Maha Suci Allah. Betapa kotor diri kita. Bukankah kita seringkali tidak kuasa mengendalikan mulut, telinga, tangan, pikiran, perut dan farji (kemaluan) kita dari dosa dan masiat.

“Laa ilaaha illallah, Tiada Ilah selain Allah.” Kita diperintahkan untuk memperbanyak ucapan tahlil artinya kita dianjurkan untuk mengukir sebanyak mungkin prestasi karena dorongan iman.

Kalimat tahlil yang kita hayati dalam hati, diucapkan dengan lisan dan digerakkan dengan anggota tubuh, mudah-mudahan iman (tauhid) terpatri dalam jiwa kita.Tanpa menunggu banyak orang bertahlil di malam Jumat. Setiap saat, jika perlu kita harus bertahlil.

Dengan berpuasa secara benar kita bisa merasakan nikmatnya hari lebaran/hari raya. Laksana perasaan seorang pengembara (as Saihun) yang menemukan oase di tengah padang sahara. Bagaikan seorang musafir kehausan yang menemukan telaga yang jernih dan tempat berteduh di tengah-tengah teriknya perjalanan. Seperti perasaan seorang petani yang menemui tibanya masa panen. Seperti seorang pebisnis yang memperoleh keuntungan usaha yang berlimpah. Seperti seorang atletik yang mengungguli para kompetitornya.

Ketika menang, kekalutan dan kegelisahan hati menjadi terobati. Seakan-akan hilang keletihan, pengorbanan yang kita rasakan sebelumnya. Sehingga pasca kemenangan ada tambahan kekuatan, motivasi, harapan dan energi baru. Dengan stamina, spirit baru itu merupakan modal untuk melawan tekanan eksternal dan internal diri kita, mengusir rintangan, menyingkirkan duri, menolak rayuan dan godaan, memikul beban, dan menikmati kelelahan dan penderitaan.

لَيْسَ اْلعِيْدُ مَنْ يَلْبَسُ الْجَدِيْدَ اِنَّمَا الْعِيْدُ اِذَا كَانَتْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَعَنِ الْمَعْصِيَةِ بَعِيْد

“Bukanlah orang yang berlebaran itu orang yang berpakaian baru, hanyalah orang yang berhari raya itu jika ketaatannya (kepada Allah) meningkat dan terhadap perbuatan masiat menjauh.”

Memasuki bulan Syawal adalah momentum untuk mengadakan evaluasi secara radikal mutu/standar kelulusan kita pada madrasah Ramadhan. Semoga, pada sebelas bulan mendatang terjadi peningkatan kualitas pribadi, organisasi, sosial dan amal shalih, sesuai dengan arti dari bulan Syawwal itu (bulan peningkatan).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS. Ali Imran (3) : 133-135).

Mewaspadai Kebangkrutan

Alangkah ruginya jika kita tidak bisa mempertahankan kualitas (bobot kepribadian) yang kita serap dari Ramadhan. Pengaruh tarbiyah amaliah yang tersimpan dari kata Ramadhan. Yaitu, Ra (rahmat, kasih sayang), Mim (maghfirah, ampunan), Dhi’fun (berlipat ganda), Alif (amina minan nar, aman dari siksa), Nun (nur, bercahaya).
Seharusnya, terjadi peralihan bentuk setelah berpuasa. Sebelum berpuasa karakter kita bagaikan ulat yang menjijikkan. Bodinya tidak menarik. Kulitnya membuat gatal yang tak terperikan. Setelah berpuasa di dalam kepompong selama empat puluh hari berubah menjadi kupu-kupu yang sedap sejauh mata memandang.
Kita juga tidak ingin seperti perempuan tua jahiliyah dahulu yang pagi harinya rajin menenun, tetapi pada sore harinya hasil tenunannya itu diurai selembar demi selembar.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain[*]. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An Nahl (16) : 92)

Atau orang yang fisiknya puasa, namun panca indera lain tetap melakukan maksiat. Sehingga puasa yang dilakukan tidak berefek pada perubahan pola pikir dan perilaku kehidupan sehari-hari. Poso (puasa) identik dengan – opo-opo kerso (tidak ingin melakukan, Jawa red)

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ ؟ قَالُوْا : اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ وَلَا مَتَاعَ , فَقَالَ : اِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتيِ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ , وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذاَ , وَسَفَكَ دَمَ هَذَا , وَضَرَبَ هَذاَ , فَيُعْطِي هَذَا مِنْ حَسَنَا تِهِ وَ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِ, فَاِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ, أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فيِ النَّارِ

Nabi bersabda; “Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab, Menurut kami orang yang bangkrut itu ialah yang tidak memiliki harta dan benda. Beliau bersabda : orang bangkrut dari ummatku tampil pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Dia pun datang dengan membawa dosa karena memaki orang, menuduh seseorang berzina, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu, dan memukul si anu. Kemudian diberikanlah sebagian kebaikannya kepada si anu dan si anu (yang dahulu dizaliminya). Jika kebaikannya telah habis sebelum dosa kezalimannya berakhir, maka kesalahan orang diambil lalu ditimpakan kepadanya.Akhirnya dilemparkanlah dia ke neraka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).

Karena itu, kemenangan ruhaniah adalah modal yang amat berharga agar kita memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan sesaat yang menggoda, menggiurkan atau menyilaukan dan menukarnya dengan kesabaran dan keteguhan menunggu kepuasan akhir, abadi dan permanen. Karena kita yakin, sesungguhnya hasil yang kita nikmati sekarang tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disimpan untuk mereka, yaitu (berbagai kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. Al Sajdah (32) : 17).*/bersambung bagian KEDUA

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawah Tengah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ujian Bukti Cinta Allah (2)

Ujian Bukti Cinta Allah (2)

Shalat Bekal Rohani dan Sarana Pendidikan

Shalat Bekal Rohani dan Sarana Pendidikan

Inputnya Tauhid , Outputnya Akhlak Mulia

Inputnya Tauhid , Outputnya Akhlak Mulia

Shalatlah untuk Mengingat Allah

Shalatlah untuk Mengingat Allah

Kuatkan Jati Diri, Tata Ulang Keimanan [2]

Kuatkan Jati Diri, Tata Ulang Keimanan [2]

Baca Juga

Berita Lainnya