Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Menuju Megaproyek Pembangunan Iman

Bagikan:

Oleh: Shalih Hasyim

AlHAMDULILLAH iman masih melekat dalam diri kita. Sekalipun kita tinggal di gubug reot, di hotel prodeo, di hutan belantara, di padang sahara atau hotel, asal masih ada nikmat iman, itu jauh lebih berharga dunia dan seisinya. Karena iman ini hanya diberikan oleh Allah SWT kepada hamba yang dipilih dan dicintai-Nya.

Rasulullah Muhammad pernah berpesan;

لَوْ كاَنَتِ الدُّنْياَ تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ماَ سَقَى مِنْهاَ شُرْبَةَ ماَءٍ

“Kalau sekiranya kenikmatan dunia masih ada nilainya di sisi Allah seberat sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir meskipun seteguk air.” (HR. At Tirmidzi).

Sebaliknya betapa sengsara dan menderitanya kehidupan ini jika lepas dari iman. Apa gunanya harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, posisi yang strategis, hidup enak, tidur nyeyak, jika tidak ditemani oleh Iman. Semua itu akan menggali lubang kehancuran kita sendiri (istidraj). Bahkan, di dunia ini kita tidak akan mampu memaknai dan menikmati kepemilikan kita, jika iman tidak mendominasi dan menjadi panglima di dalamnya.

Oleh karena itu, mumpung kita sehat, memiliki harta, ada momentum dan kesempatan, mari kita mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan segala potensi yang kita miliki untuk membangun keimanan kita. Pengorbanan yang kita lakukan untuk meraih manisnya iman (halawatul Iman), akan mendatangkan kelezatan spiritual di dunia dan keselamatan di akhirat.

Membangun iman dalam perspektif Islam diletakkan dalam skala prioritas dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pembangunan dalam aspek keyakinan ini dilakukan dengan penuh keseriusan, bukan asal-asalan. Pembangunan iman juga dilakukan secara sistemik. Seluruh komponen ummat terlibat dalam menseriusi pekerjaan ini. Hal ini tercermin jelas pada perencanaan hingga alokasi sumber dana dan sumber daya.

Segala kegiatan yang kontra produktif bagi akselerasi pembangunan iman ditiadakan dari diskursus perencanaan pembangunan. Jangan sampai terjadi, dengan alasan pembangunan, maksiat di buka lebar-lebar, demoralisasi dan dehumanisasi dibiarkan hanya karena perlindungan HAM

Sekedar contoh, demi menghindari wabah HIV/AIDS dipersilahkan orangn memakai kondom terhadap pasangannya (tanpa melihat sah dan tidaknya pasangan tersebut). Demi stabilitas politik dan keamanan politik machiavelli di halalkan.

Iman yang ditegakkan dalam kehidupan adalah iman yang hakiki, bukan iman yang bersifat formalistik. Tidak sekedar puas dengan melaksanakan kegiatan ritual, serimonial, upacara keagamaan, peringatan hari-hari besar islam, tabligh akbar, tetapi KKN tetap dilestarikan.

Membangun masjid di mana-mana, tempat ibadah megah, tetapi praktek kekerasan dan kezhaliman politik dan ketidakadilan distribusi ekonomi tetap berlangsung.

Limpahan Berkah

Pembangunan iman merupakan landasan gerak, motivasi, titik tolak (muntholaq), dalam membangun sistem kehidupan. Mengakui keberadaan Allah dan hubungan yang berketuhanan, humanisme, mengedepankan nilai-nilai kesucian, moral, keadilan, kebenaran, supremasi hukum. Iman memposisikan Allah sebagai Zat yang mutlak, Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Mengetahui tentang apa dan bagaimana yang terbaik bagi manusia. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan jauh dari segala sifat kekurangan.

Karenanya, topeng-topeng kemunafikan tidak lagi ditoleransi dalam pembagunan iman.

Iman melahirkan manusia yang berguna sekecil apapun potensi (thoqoh) yang dimilikinya, bakat (syakilah) yang diberikan oleh Allah Swt. Iman melahirkan kekuatan dalam segala aspek kehidupan. Kekuatan material dan spiritual, idealisme dan realistik, individual dan kolektifitas. Termasuk otak dan batin, intlektual dan keyakinan.

Iman menumbuhkan kepedulian, dedikasi, wawasan jauh ke depan, kedisiplinan, amanah, jujur, militan, integritas dan keadilan. Dengan iman mengantarkan manusia menjadi produktif, dinamis, inovatif dan kreatif. Karenanya, iman yang benar akan jauh dari sikap mental malas dan konsumtif.

Membangun iman memerlukan pengorbanan, perjuangan dan kerja keras. Pengurbanan jiwa, harta yang dilakukan untuk meraih manisnya beriman (halawatul iman) akan dibeli oleh Allah dengan surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”(QS. At Taubah : 111).

Dia telah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman dengan surga, ini adalah permisalan dalam puncak keindahan gaya bahasa dan sastra untuk memberikan ganjaran mujahid.

Allah membuat perumpamaan bahwa balasan mereka dengan surga atas pengorbanan harta dan jiwa di jalan-Nya dalam bentuk transaksi jual beli.

Berkata Al Hasan: Allah membeli mereka dengan harga yang mahal, perhatikanlah kemurahan Allah. Dia yang menciptkan jiwa, Dia pula yang membelinya. Dia yang memberikan rezeki harta, Dia pula yang menghibakannya kepadanya, kemudian Dia membelinya dengan harga yang mahal demi memberikan keuntungan yang berlipat (Shafwatut Tafasir I : 564).

Iman menjadikan manusia, tenang, bahagia, lapang dada, karena telah berbuat kebaikan. Iman menyadarkan kita bahwa dunia adalah lahan ujian keikhlasan dan cobaan serta penuh dengan tantangan (QS. Al Mulk : 2).

Bahkan memandang problem sebagai peluang dan tantangan untuk meningkatkan kualitas. Dengan iman melihat setiap kejadian dengan kaca mata positif dan mengembalikan seluruh persoalan kepada Allah Swt.

Jika sedang tertimpa musibah dia mengatakan : innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya dikembalikan). Dan apabila sedang sukses bersyukur kepada Allah. Ini adalah karunia dari Rabbku untuk mengujiku apakah saya bersyukur atau ingkar (QS. An Naml : 40).

Iman secara otomasti membuat orang lebih sabar, tahan uji dalam kesulitan dan bersyukur pada saat lapang. “Ash Shabru qorinul yaqin” (shabar adalah teman akrab keyakinan). Iman memandang fluktuasi kehidupan dengan semangat yang sama. Kegagalan dan kesuksesan akan dipergilirkan dan digulirkan oleh Allah kepada yang di kehendaki-Nya. Iman mengajarkan sikap independen. Iman melahirkan sikap optimisme dan kekuatan rohani yang maha dahsyat dalam menghadapi persoalan yang melilit kehidupan. Karena tidak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Allah. Tidak ada persoalan rumit yang tidak ditemukan solusinya, jika Allah turun tangan (tadakhul rabbani).

Walhasil, iman yang mencerahkan tadi, akan membukakan limpahan berkah dari langit dan bumi. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakawa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al A’raf : 96).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97). *

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Awas, Kesyirikan Zaman Sekarang Lebih Parah! (3)

Awas, Kesyirikan Zaman Sekarang Lebih Parah! (3)

Menjadi Manusia Senang di Dunia dan Akhirat

Menjadi Manusia Senang di Dunia dan Akhirat

Bersaudara Karena Allah (1)

Bersaudara Karena Allah (1)

Keutamaan dan Kemuliaan bulan Muharram (1)

Keutamaan dan Kemuliaan bulan Muharram (1)

Mengukuhkan Kekuatan Kepribadian Muslim (1)

Mengukuhkan Kekuatan Kepribadian Muslim (1)

Baca Juga

Berita Lainnya