Pengaruh Psikologis Nafsu Lawwamah

Gugatan perasaan bersalah terhadap batin, tidak kalah hebatnya dengan rongrongan amarah, ketakutan, dendam, iri hati

Terkait

Oleh: Shalih Hasyim*

DI antara nama dari asmaul husna (nama Allah SWT yang indah) adalah al ‘Adlu (Maha Adil). Allah SWT Maha Bijaksana dalam aturan-Nya. Adil dalam perintah dan larangan-Nya. Dia akan membalas secara setimpal terhadap orang yang taat dengan pahala dan akan menghukum orang yang mendurhakai-Nya dengan siksa. Hanya saja kasih sayang-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Sedikitpun Allah SWT tidak berbuat aniaya terhadap makhluk-Nya.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat (41) : 46).

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al Isra (17) : 7).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az Zalzalah (99) : 7-8).

Benar, pahala dan hukuman Allah SWT itu secara adil akan diterima kelak di hari pembalasan (yaumuddin). Realitasnya tidak ada keadilan sepenuhnya di dunia ini. Yang banyak hanya kantor pengadilan. Hanya saja, tidak berarti keadilan-Nya itu belum dirasakan di bumi ini. Bentuk penjabaran keadilan Yang Maha Adil di antaranya dalam bentuk perasaan bahagia bagi orang yang berbuat baik dan perasaan bersalah/berdosa bagi yang berbuat jahat.

Perasaan berdosa bagi orang yang berbuat jahat secara transparan maupun terselubung adalah bentuk hukuman baginya sebagai bentuk penjabaran keadilan-Nya. Ada kepuasan batin bagi yang suka berbuat baik dan ada perasaan mencekam (ketakutan yang tidak beralasan yang muncul dalam jiwa) bagi orang yang senang berbuat dosa. Dalam al-Quran disebut dengan “nafsu lawwamah” (gugatan batin). Ia menggugat atas dosa yang telah dilakukan seseorang. Boleh jadi ada saat-saatnya gugatan itu mereda, tetapi pada saat yang lain akan muncul dengan hebatnya, ia akan selalu ada selama kesalahan dan dosa itu belum diselesaikan.

Gugatan batin itulah yang dikenal dalam ilmu jiwa sebagai perasaan bersalah. Gugatan perasaan bersalah terhadap batin tidak kalah hebatnya dengan rongrongan amarah, ketakutan, dendam, iri hati, dan lain-lain. Efek yang ditimbulkan dari nafsu lawwamah ini berupa gangguan kesehatan jasmani tidak kurang pula hebatnya. Para profesional di bidang medis di zaman modern ini memahami betul akal gejala kejiwaan ini.

Kini, banyak pusat kesehatan membuka Bagian Psychosomatik. Para ahli pada bagian ini dapat bercerita banyak tentang berbagai penyakit jasmani yang timbul sebagai akibat dari perasaan berdosa ini. Pada umumnya penyakit yang tampak secara lahiriyah luka pada fisik tidak bisa disembuhkan secara total dengan semata-mata pengobatan medis saja, sebelum diterapi penyebab pokoknya. Yakni, diatasi perasaan bersalahnya terlebih dahulu.

Berbagai kasus penyakit jasmani yang disebabkan oleh perasaan bersalah itu tidak ada benang merah antara penyakit dan penyebab utamanya oleh mata orang awam, bahkan kaitan itu sama sekali tidak disadari oleh si penderita karena perasaan berdosa itu sudah masuk bawah sadarnya, dan baru kemudian disadarinya setelah seorang ahli berhasil menggali kembali dan menemukan faktor utama penyebabnya. Ada satu ungkapan ahli hikmah: Al ‘Aqlus Salim fil Jismis salim (akal/jiwa yang sehat berbanding lurus dengan badan yang sehat). Sebaliknya, pikiran yang buruk akan menurunkan luka di badan.

Kemungkinan kita pun merasakan perasaan serupa. Sekalipun kesalahan yang kita kerjakan termasuk dosa kecil, tetapi yang kecil itu menimbulkan perasaan penyesalan yang mendalam dan perasaan itu mengganggu serta merisaukan kita. Kita dibayangi perasaan cemas, ketakutan secara berlebih-lebihan.

Kita harus segera menghilangkan gangguan perasaan berdosa itu. Tetapi, cara mengatasinya tidak dengan teknik yang memberikan hasil yang semu. Bagaikan burung onta yang ingin menyelamatkan diri dari serangan pemburunya, dengan membenamkan kepala dalam pasir karena ia mengira bahwa dengan cara demikian tidak bisa melihat bahaya yang mengancam, artinya bahaya itu tidak akan datang. Dengan beriman kepada Allah SWT akan menghilangkan perasaan yang merisaukan itu sampai ke akar-akarnya. Di antara kiat untuk mengelola perasaan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, bersyukur kepada Allah SWT karena kita memiliki kepekaan batin terhadap dosa yang kita lakukan. Ini merupakan indikator bahwa jiwa kita masih relatif bersih, sehingga sedikit khilaf sudah cukup menjadikan kita gelisah. Ada banyak orang di dunia ini yang hatinya telah kesat dan berwarna hitam akibat dosa yang dilakukan secara berkesinambungan, sehingga datangnya noda baru tidak menggoncangkannya. Hanya kemudian timbunan noda hitam itu membangkitkan gugatan batin yang tak terpikulkan di samping bentuk-bentuk keadilan Allah SWT yang lain. Dengan kesadaran mahal tersebut kita akan melangkah menuju kiat berikutnya.

Kedua, Istighfar dan bertaubat kepada-Nya. Dalam beristighfar kita mohon kelemahan kita semakin hari ditutupi. Oleh sebab itu kita harus terbuka kepada Allah SWT. Kita curahkan segala perasaan penyesalan tanpa ditutup-tutupi. Tidak boleh ada yang tersisa. Dalam sebuah hadis, orang yang menyesali dosa-dosanya menunggu datangnya rahmat Allah SWT. Sekiranya kita didominasi oleh perasaan berdosa dengan cara menangis, maka puaskanlah tangisan kita di hadapan-Nya. Kita tidak perlu khawatir dengan Allah SWT. Sekalipun tidak kita ungkapkan, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati kita.

Dengan berterus terang kepada-Nya semoga perasaan yang mengganjal dihilangkan. Setelah itu kita mohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosa kembali. Tidak ada dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Kita yakin, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Kita ucapkan doa berikut secara berulang-ulang dengan penuh penghayatan.

Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang (al Hadits).

Ketiga, apabila kesalahan kita ada hubungannya dengan hak orang lain (haqqul adami), yakni kita pernah merugikan orang lain baik moril maupun material, maka sebelum Allah SWT mengampuni kita, kita dituntut menyelesaikan persoalan itu dengan yang bersangkutan. Mungkin kita banyak berkorban dalam hal ini. Sebenarnya kita tidak perlu merasa demikian, toh untuk kebaikan diri kita sendiri secara lahir dan batin.

Dan jika tidak berhasil menemukan jalan untuk mengurai persoalan dengan pihak yang kita rugikan, kita adukan saja hal ini kepada Allah SWT mohon petunjuk-Nya agar menemukan jalan keluar yang terbaik. Dengan cara melakukan shalat malam dan melantunkan doa berikut.

Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (QS. Al Isra (17) : 80).

Kita mendoakan kepada orang yang kita rugikan, berdoa kepada-Nya agar berkenan memberikan ampunan dan kebahagiaan kepadanya. Kita singkirkan dendam kesumat, kedengkian kepadanya, mungkin kita menemukan penyelesaian dengan cara gruis loos.

“Wahai Tuhanku, berilah ampunan untukku, untuk kedua orang tuaku, untuk orang yang ada haknya atasku dan untuk semua muslim dan muslimah dan semua orang mukmin dan mukminah baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” (al Hadits).

Keempat, memperbanyak amal saleh. Karena amal saleh itu akan mengangkat derajat kita, menghapus kesalahan kita dan sebagai wasilah untuk mengurai kerumitan kehidupan kita. Bersedekah, berbuat jasa, bermakna bagi orang yang memerlukan uluran tangan kita.

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud (11) : 114).

“Dan susullah perbuatan dosa itu dengan kebajikan dan ia akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi dari Abu Dzar).
Kita tidak perlu ragu dengan kasih sayang Allah SWT. Sekalipun kita jatuh pada lumpur dosa, sesungguhnya Dia selalu menerima kehadiran kita dalam keadaan bagaimanapun. Asalkan, kita ingin kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Jika kita selalu berdoa, biasanya akan dikabulkan secara kontan ataupun kredit. Apabila doa kita dikabulkan secara kredit, karena Allah ingin menikmati suara kita. Atau agar suara kita dikenal di penduduk langit, sehingga ketika sewaktu-waktu meminta, mereka mudah menerima permohonan kita. Atau proposal kita disimpan terlebih dahulu, dan diberikan kepada kita pada saat memerlukannya secara mendadak, misalnya terhindar dari kecelakaan secara tiba-tiba. [ Kudus, 28 Mei 2010/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !