Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Cara Lain Memandang Penyakit

Bagikan:

SEBAGIAN besar penderitaan kehidupan kita akhir-akhir ini yang jauh dari arahan Al-Quran, bahkan kondisi fisik yang kronis, merupakan penyakit makna. Penyakit fisik diakibatkan oleh penyakit psikis. Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat (al-‘Aqlus Salim Fil Jismis Salim). Dan sebaliknya, badan yang tidak sehat merupakan turunan (derivat) dari pikiran yang buruk. Penyakit kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan berbagai gangguan lain yang kemungkinan besar didahului oleh depresi, rasa lelah, alkoholisme, dan kecanduan obat adalah bukti dari krisis kekosongan makna yang merasuk ke dalam sel-sel tubuh kita.

Pada akhirnya kematian pun dialami dengan rasa sakit dan kengerian, akibat miskin makna sebagai bekal mengelola kehidupan ini secara utuh, alamiah dan normal. Tidak ada jalan untuk mati secara damai, penuh rahmat dan berkah. Bahkan, baru-baru ini seorang kriminolog Eropa, setelah meneliti tingkat kriminalitas di Negeri Paman Sam yang sangat tidak masuk akal, dia menulis buku yang berisi cara mudah mengakhiri kehidupan (bunuh diri). Setelah membandingkan angka setahun kriminal bangsa Eropa, sama dengan 10 tahun bangsa Arab, dia sendiri menjatuhkan dirinya dari gedung pencakar langit. Diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul: Kaifa inha’ul hayati bisuhulah (bagaimana mengakhiri kehidupan dengan mudah).

Beberapa dokter spesialis dan kaum profesional di bidang kesehatan telah mulai memandang penyakit dari sudut pandang yang berbeda (nonmedis). Mereka mempersepsikan penyakit sebagai jeritan tubuh pemiliknya, agar mendapatkan perhatian khusus dalam kehidupan, yang apabila diabaikan dan ditinggalkan akan berefek pada kerusakan yang bersifat fatal dan permanen, ketidakseimbangan pertumbuhan fisik, emosi dan spiritual, bahkan mengakibatkan kematian yang mengenaskan. Mungkin sikap atau gaya hidup kitalah yang mengakibatkan timbulnya berbagai masalah dan kerumitan dalam nilai-nilai, hakikat atau makna kehidupan.

Inilah inti filsafat Victor Frankle, seorang psikiater besar dari Wina yang hidup pada zaman Freud, seabad yang silam. Ia disekap dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman bersama seluruh keluarganya. Ia disiksa, dibiarkan kehausan dan kelaparan, disuruh kerja paksa, anak istrinya dibunuh. Tetapi, ia tetap hidup. Justru karena itulah ia menemukan makna kehidupan. Ia mengelola berbagai kesulitannya dengan optimisme. Ia pandai memaknai sesuatu di balik peristiwa.

Nazi Jerman boleh mengerangkeng dia, menyiksa habis (tanpa sisa) seluruh anggota tubuhnya, membunuh semua orang terdekatnya, tetapi mereka tidak bisa mencengkeram jiwa dan pikiran yang melayang bebas bersama Tuhan yang dijadikan tumpuhan akhir harapannya. Inilah makna kehidupan yang ditemukan orang asing Victor Frankle.

Makna hidup bisa bersifat umum dan universal, tapi bisa pula sangat sederhana dan mudah. Unik, spesifik dan sangat privat bagi kita masing-masing. Makna hidup adalah tanpa pura-pura dan pamrih. Makna hidup adalah untuk makna hidup itu sendiri. Dan makna hidup itu ditemukan bukan berbentuk barang (materi) yang diburu di mall, tempat-tempat wisata. Makna hidup diperoleh dari cahaya Allah SWT yang menerangi hati hamba yang dicintai-Nya.

Jika kita masuk dalam kategori barisan orang-orang yang dipandang sukses materi, hidup berkecukupan, pakaian serba wah, kendaraan mengkilat, ladang yang luas, tempat tinggal yang layak, bahkan berlebih, tetapi kebingungan mencari makna hidup, cobalah kita melakukan hal yang sederhana dan mudah. Buatlah program kehidupan Anda bermulti guna bagi orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang lebih banyak manfaatnya untuk orang lain (HR. Bukhari dan Muslim). Kehidupan kita berarti jika kita mengedepankan tradisi berkorban, memberi. Bukan berapa yang bisa saya ambil dari orang lain.

Carilah anak-anak yatim piatu, kaum dhu’afa (grass root) dan mustadh’afin (tertindas) untuk diasuh di rumah kita. Carikan orang yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja. Buatlah agar komunitas yang termarginalkan oleh pemodal dan penguasa itu tersenyum bahagia, berkat uluran tangan Anda. Berilah apa yang berlebih pada diri Anda dan jangan dihitung berapakah pemberian yang kita keluarkan. Pemberian kita harus di atas standar minimal. Sekalipun banyak orang tidak mau memberi, biarlah. Kita tetap memberi, karena semua pemberian itu akan kembali kepada kita (QS. Al Isra (17) : 7).

Allah SWT Yang Maha Pemberi, tidak pernah menghitung pemberian-Nya. Dengan suka memberi, kita tertantang untuk kreatif, produktif, dan inovatif. Yang tidak memiliki, tidak memiliki kemampuan untuk memberi (faqidusy syai’i laa yu’thihi). Setelah sukses satu pekerjaan, angkatlah pekerjaan baru yang lebih menantang (QS. Al Insyirah (94) : 7).

Makna hidup tidak harus orang lain tahu. Justru makna hidup yang sejati adalah sepi ing pamrih, rame ing gawe (beramal shalih tanpa hiruk pikuk). Hanya kita sendiri yang merasakan, memaknai, dan menikmatinya. Belajarlah makna hidup dari binatang penyu. Sekali bertelur berjumlah 500-3000 buah. Mencari tempat yang sepi dan gelap. Pemiliknya sendiri, tidak mengetahuinya. Binatang penyu boleh dikata, contoh kongkrit keikhlasan. Orang yang ikhlas, kata ibunda Amin Rais : Dicokot dadi otot, dijiwit dadi kulit, syetan ora doyan, dhemit ora ndulit. Orang ikhlas itu memiliki jiwa besar. Selalu bersikap positif dengan orang-orang yang menjahatinya. Justru dengan jiwa besar, setan dan makhluk halus lainnya tidak akan mampu menggodanya.

Barangsiapa yang awal kehidupannya tanpa makna, ending-nya akan sengsara. Sesungguhnya berbagai keluhan, protes, kejenuhan, gundah gulana, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan terhadap sesuatu secara berlebih-lebihan, disebabkan oleh rusaknya cara pandang dalam melihat dan mencermati makna kehidupan (innama tatawalladud da’awaa min fasadil ibtida).

Hiduplah dalam keadaan mulia, kehidupan sekali yang berarti, dengan memberi manfaat kepada orang lain atau jangan sekedar hidup, dan matilah dengan kesan yang sulit dilupakan bagi yang kita tinggalkan (‘isy kariman au mut syahidan). Jika dalam kehidupan kita tidak seimbang antara kebutuhan aktualisasi diri dan potensialisasi diri, akan mengalami kesepian. Dan kesepian cenderung melakukan tindakan destruktif. Dengan cara hidup mulia dan mati syahid, kehadiran kita selalu dirindukan dan kematian kita selalu dikenang. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah dari pelajaran “krisis makna”.

Ahmad Syauqi, sastrawan terkenal dari Mesir mengatakan: “Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan sebutan baik, sesungguhnya sebutan baik bagi manusia merupakan umur kedua.” [Semarang, 22 April 2010/hidayatullah.com]

Penulis adalah dai, sekarang tinggal di Kudus

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mewaspadai Fitnah, Musibah, dan Rintangan (2)

Mewaspadai Fitnah, Musibah, dan Rintangan (2)

Ridha Kepada Allah (1)

Ridha Kepada Allah (1)

Membatasi Kebutuhan Kita terhadap Dunia (2)

Membatasi Kebutuhan Kita terhadap Dunia (2)

Saat Hari Pembalasan (1)

Saat Hari Pembalasan (1)

Gerakan Tarbiyah Imaniyah

Gerakan Tarbiyah Imaniyah

Baca Juga

Berita Lainnya