Rabu, 17 Februari 2021 / 5 Rajab 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Merasakan Kelezatan Spiritual

Bagikan:

Tokoh penting Singapura, Lee Kuan Yew, pernah mengingatkan generasi mudanya : “ Hidup bukan cuma untuk sepotong roti. Masih ada bianglala di langit Singapura. Keberhasilan pembangunan fisik bukan segala-galanya dalam hidup ini. ”Ungkapan arif demi melihat kembali keluhuran tujuan hidup bukan tanpa alasan. Sekarang kita melihat generasi muda bangsa di dunia rata-rata berfikir dan berorientasi jangka pendek (mata’).

Pertanyaan umum klasik rata-rata calon mahasiswa di Amerika dari dulu sampai sekarang berkisar tentang kebimbangan, ketidakpastian tujuan hidup. “Bagaimana saya harus memutuskan apa yang harus saya lakukan setelah saya dewasa ?”. Tapi sayang, perguruan tinggi tak bisa menjawab kegelisahan batin remaja dunia seperti itu. Bentuk baru kemiskinan idealisme generasi muda zaman ini ketika setiap fakultas hanya melaksanakan mandat mengajarkan kepada anak-anak bangsa untuk menjadi “mesin pembuat uang”. Di seberang lain, perguruan tinggi harus merespon permintaan pasar sehingga berurusan dengan tujuan karir-profesi dan penambahan income belaka.

Pada saat yang sama, para guru bangsa, mereka yang berada di koridor kekuasaan, kelas menengah bangsa, merasakan ketiadaan makna hidup semacam itu. Tidak sedikit yang bertanya sendiri dalam hati, hidup ini untuk apa, ketika sudah di puncak ? Ketika semuanya sudah diperoleh dan sangat berlebih ?. Tetapi mengapa seperti terus saja terasa ada yang belum tuntas dan belum terjawab dengan tuntas ? Seperti ada yang belum terselesaikan ?. Pesona gemerlapan material, prestise, terbukti membuat pemburunya kecewa ?.

Kata orang, itulah fenomena “sakit jiwa” dalam kehidupan modern. Bentuk kekosongan spiritual insan berdasi karena tidak tepat memilih dan memutuskan tujuan hidup. Kecenderungan hidup untuk memiliki, bukan untuk menjadi bermakna dengan memberi. Kebanyakan mereka mempersepsikan, aktifitas memberi dan berkorban untuk sesama itu kehilangan, bukan mendapatkan. Sungguh, dunia tenggelam dalam kubangan lumpur materialisme.

“Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun.” [QS. An-Nur (24) : 39].

Disadari, ternyata hanya pemuasan kebutuhan psikologis, yang tak kunjung terpuaskan. Akibatnya orang yang mempercayakan kebahagiaan hidupnya pada kebendaan berubah karakternya. Mereka cenderung agresif, kompetitif, dan antagonistis. Bangsa sipil yang bertabiat militer. Bangsa maju yang berkarakter primitif. Bangsa yang bugar secara phisik, tetapi terluka jiwanya. Indikasinya, ketakutan akan kehabisan alat pemuas sesaat yang dianggap dapat mengancam kehilangan makna hidup itu, sehingga orang tak henti menimbun dan menumpuk harta. Berebut pengaruh, posisi, nasi dan kursi. Sekalipun harus menghalalkan segala cara. Persetan dengan aturan halal dan haram.

Dari kecil, anak-anak bangsa di dunia, diajarkan kecanduan pada bendawi. Mainan, makanan, dan hal-hal kebendaan. Mereka menambah deretan panjang barisan kelas konsumen dunia, bukan di mata Tuhan. Mereka dibiasakan terbius oleh pemenuhan sesaat. Memperlakukan diri sendiri sebagai komunitas, tapi tak terjawabkan semua itu sejatinya untuk apa. Pertanyaan klasik yang tak kunjung terjawab dengan memuaskan. Hidup ini dari mana, untuk apa dan mau kemana ?.

Anak-anak di dunia diajarkan menjadi manusia yang hidup menurut standar sosial yang labil. Menghargai orang lain atas apa yang dimiliki, bukan pada apa yang orang sikapi dan lakukan untuk hidup. Selubung materialisme yang menjadikan mereka sering merasakan kekeringan, kegersangan dan kehampaan hidup.

Materialisme yang membuat nilai-nilai, ikatan dalam keluarga dan masyarakat makin longgar dan rapuh. Jarang berkumpul bersama dalam keluarga, serta bingung mengisi waktu senggang menjadi pola kejenuhan baru orang modern. Tak habis-habisnya mereka sibuk dan kekurangan waktu. Makin terasing ditengah keramaian dan kerumunan manusia, menambah kerumitan hidup manusia. Sebuah keprihatinan sosiologis di ujung abad globalisasi.

“Industri hati yang sepi”, menjadi bisnis baru dunia yang kini banyak diminati masyarakat modern. Mereka merasakan kesepian dan kekosongan jiwa, kian terpojok pada rasa nihilistik. Generasi muda Jepang sekarang membenci orang tua mereka sendiri yang pandangan hidupnya cuma untuk kerja dan kerja (karosi). Mereka mengucilkan orang tua yang telah membuat hidup keluarga mereka terlanjur tak bahagia. Orang sekarang mengisi kehidupannya di malll dan diskotik, tempat rekreasi, di ajang politik, free seks, dugem, narkoba, yang penging have fun, dan entah apa lagi. Tetapi sayang, mereka tidak menemukan yang dicarinya di sana. Karena kebahagiaan bukan berbentuk barang yang harus diburu di tempat tertentu. Apa yang diidamkan terwujud, hanya saja membuat pemiliknya justru kehilangan.

Contoh sederhana adalah kisah Stuart Donnelly, remaja kaya-raya yang justru mati muda. Ia ditemukan tewas pada usia 29 tahun di rumah mewah yang dibelinya, setelah memenangkan hadiah hampir 2 juta pound, saat ia masih berumur 17 tahun.

Stuart Donnelly mendadak kaya setelah memenangkan jackpot tahun 1997, berbagi total hadiah sebesar 25 juta pound dengan 12 pemenang lainnya. Dengan kekayaannya, dia mampu membeli rumah mewah di barat daya Skotlandia, tepatnya di bungalonya di Buittle Bridge dengan harga Rp10,2 miliar.

Tapi,menjadi orang kaya justru membuat Donnelly tidak bahagia. Kata teman-temannya, ia sepertinya tidak sanggup mengatasi tekanan hidup sebagai seorang jutawan. Rupanya, kekayaan hanya mampu membeli lampu penerang rumahnya yang mewah, namun tetap tak bisa menerangkan hatinya yang paling dalam.

“Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang, diatasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. An-Nur (24) : 40).

Sekarang Amerika tercatat sudah menjadi mall terbesar di dunia. Lebih banyak mall dibangun di dunia dibanding dengan sekolah. Lebih banyak alat elektronik canggih diciptakan. Semua untuk pemuas kehidupan manusia. Hanya saja, tidak bisa menolong orang dengan krisis spiritual dalam kehidupan yang glamor. Kelaparan orang modern berbentuk miskin orientasi dan sikap hidup.

Alan Thein Durning melihat gaya hidup konsumerisme Barat tak membuat kebahagiaan orang meningkat. Peningkatan gizi, minim sekali sumbangannya bagi kebahagiaan orang seorang di Amerika Serikat, dari tahun 1957 sampai sekarang tetap saja sepertiganya. Padahal selama lebih dari tiga dasawarsa, pola hidup konsumerisme telah berlipat kali lebih besar.

Anak di dunia harus menggendong cita-cita, ambisi, dan falsafah hidup yang keliru yang bukan miliknya sendiri. Mereka hanya memikul ambisi orangtua, kemauan politik, dan kesalahan sistem pendidikan bangsanya. Mereka disetting agar siap sukses dan berprestasi di mata dunia. Mereka dipilihkan jalan hidup yang terbukti salah.

Kita terlanjur mengajarkan pada anak-anak untuk menjadi “nomor satu”, seperti dilazimkan dalam kredo bangsa Amerika. Tapi tak pernah mengajarkan sikap legawa (sportif) jika menjadi kalah. Ternyata itu pun tak membuat mereka menjadi kaya di mata Tuhan. Itulah agaknya tuntutan kodrati mesin kapitalis mondial. Semua anak digiring bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau apa saja bukan lantaran keterpanggilan, melainkan lebih karena profesi semacam itu dinilai orang potensial meraup uang. Tapi alpa mendidik mereka apa yang tidak mungkin diperoleh dengan uang dalam menempuh ziarah panjang kehidupannya.

“Pendidikan modern tidak mengajarkan air mata pada mata, dan kekhusuan di hati”, serta karakter, kata Mohammad Iqbal.

Kita memerlukan guru dan orangtua, senior bangsa, sesepuh pinisepuh, dan birokrat yang mengajarkan kepada anak-anak bagaimana membangun proyek kehidupan ini lebih sejuk, rekreatif dan edukatif serta beradab. Sebab, makin bertambah orang modern yang kini gunda gulana dan minta bantuan ahli jiwa, ahli agama, dan ahli filsafat, bagaimana cara yang tepat mengorganisasikan kehidupan pribadi mereka yang mulai retak-retak dan terbelah (split personality).

Hidup menghajatkan struktur, komunitas, dan makna. Kehidupan orang sekarang terancam kehilangan unsur penting itu. Kita dan anak-anak kita memerlukan logoterapi, bentuk terapi agar hidup yang pecah menjadi utuh dan bernilai. Sekarang kita membutuhkan kembali ilmu kehidupan itu bagi semua anak bangsa agar tahu bahwa menemukan cara hidupnya yang indah sama baiknya dengan cara matinya yang mempesona. Kematian yang berkesan dihati banyak orang (‘isy kariiman au mut syahiidan).

Maka tak ada pililah lain. Kembali kepada pemahaman, penghayatan dan pengamalan beragama secara benar (iqamatul haq, iqamatud din) adalah jawabannya. Agama bukan sebatas serimonial formallistik, tetapi miskin aplikasi. Agama menyeru kepada arti hidup, iman, kesucian, kejujuran, kebenaran, petunjuk, perjuangan dan segala yang berkaitan dengan kebahagiaan hidup kedisinian dan nanti.

Jika sekiranya kita bisa merasakan manisnya kelezatan iman dan spiritual itu sekarang, mengapa harus menunggu lama lagi?[www.hidayatullah.com]

Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!

Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!

Memahami Epistemologi Islam

Memahami Epistemologi Islam

Tumbuhkanlah Rasa Takut pada Allah

Tumbuhkanlah Rasa Takut pada Allah

Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Ikuti Kebiasaan Sahabat Menghafal Al-Qur’an

Bekerja Keras untuk Membangun Rumah di Surga

Bekerja Keras untuk Membangun Rumah di Surga

Baca Juga

Berita Lainnya