Kamis, 20 Januari 2022 / 16 Jumadil Akhir 1443 H

Sejarah

74 Tahun Raja Arab Saudi Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Pengakuan Mesir atas Kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pasa Senin petang (9/6/1947). Terlihat H. Agus Salim (Ketua Delegasi RI) dan Pangeran Faisal, Menlu Saudi (tengah), bercakap-cakap, sedang HM. Amin Husaini, Mufti Besar Palestina menunggu giliran
Bagikan:

Raja Abdul Azis Al Sa’ud menyerahkan surat pengakuan Kerajaan Arab Saudi terhadap kemerdekaan Indonesia kepada H. Rasjidi dan Sultan Abdul Hamid

Hidayatullah.com | TEPAT 74 tahun yang lalu ada peristiwa bersejarah yang harus diketahui bangsa Indonesia. Tatkala M Rasjidi dan Sultan Hamid al-Gadri (Sultan Pontianak) mewakili bangsa Indonesia diterima oleh Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Al Sa’ud yang di damping Menteri Luar Negerinya Faisal bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman as-Saud, dikenal dengan sebutan Malik Faisal, dan kelak dikemudian hari menjadi raja.

Penerimaan Raja Abdul Azis Al Sa’ud di istananya menerima delegasi Indonesia HM. Rasjidi dan Sultan Abdul Hamid untuk menyerahkan surat pengakuan Kerajaan Arab Saudi terhadap kemerdekaan Indonesia.  M. Rasjidi yang berangkat atas perintah Haji Aggus Salim untuk melanjutkan misi pengakuan kemerdekaan Indonesia ke wilayah Timur Tengah, setelah AR Baswedan (Kakek Anies R Baswedan) dan anggota delegasi lainnya diperintah untuk kembali ke tanah air guna menyerahkan dokumen pengakuan kemerdekaan dari Negara Mesir dan Lebanon. (Lihat Utang Republik Pada Islam, 2021, hal 318).

Peristiwa bersejarah yang terjadi 24 Nopember 1947 itu dicatat oleh seorang wartawan Belanda, Kampuhuzen. Ia menuliskan; “Dua orang dari Indonesia dating ke Arab Saudi bernama Sultan Hamid dari Pontianak, dan satunya lagi adalah H Rasjidi. Keduanya diterima dan dihormati oleh Pemerintah Saudi Arabia.

Kepada Sultan Pontianak diberikannya sebilah pedang emas sesuai dengan kedudukannya. Adapun H. Rasjidi diberi Surat Pengakuan Arab Saudi kepada Republik Indonesia, suatu hadiah yang jauh lebih besar dan lebih berharga daripada sebilah pedang emas.”

Dalam keadaan sulit sepeti itu, Raja Saudi menegaskan, “Nahnu laa nata akhkharu (Kami tidak akan ketinggalan),

Bangsa Arab Akui Kemerdekaan RI

Setelah Perjanjian Linggarjati disetujui, hasrat bangsa-bangsa Arab untuk membantu Indonesia tidak bisa dibendung lagi. Persis satu pekan sejak KNIP menyetujui Linggarjati, Konsul Jenderal Mesir di Mumbai India, Mohammad Abdul Mun’in mendarat di ibukota RI di Jogjakarta.

Mun’in datang sebagai utusan Liga Arab yang ingin mengakui kemerdekaan Indonesia, dan mengharapkan segera dikirim delegasi RI ke Negara-negara Arab.

Pada 16 Maret 1947, berangkatlah delegasi diplomatik RI yang di pimpin oleh H. Agus Salim, H. Rasjidi sebagai sekretaris merangkap bendahara, dengan tiga anggota lainnya yaitu Nair ST. Pamuntjak, Abdul Kadir dan AR Baswedan. Tepat 10 Juni 1947, tim delegasi mendapat surat pengakuan dari Negara Mesir. Dan diikuti oleh Lebanon pada 29 Juni 1947.*

Rep: Akbar Muzakki
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Gagalnya Usaha “Menghapus” Islam dari Jawa

Gagalnya Usaha “Menghapus” Islam dari Jawa

KH Kahar Mudzakkir: Pahlawan yang Hampir Terlupakan

KH Kahar Mudzakkir: Pahlawan yang Hampir Terlupakan

Belajar dari Syeikh Jamil Jaho dan A. Hassan: Lawan Pikiran dengan Pikiran, Bukan Cercaan!

Belajar dari Syeikh Jamil Jaho dan A. Hassan: Lawan Pikiran dengan Pikiran, Bukan Cercaan!

Abu Ayyub Al-Anshary dan Kesuksesan  Al-Fatih dalam Pembebasan Konstantinopel

Abu Ayyub Al-Anshary dan Kesuksesan  Al-Fatih dalam Pembebasan Konstantinopel

Pertempuran Balat al-Syuhada

Pertempuran Balat al-Syuhada

Baca Juga

Berita Lainnya