Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Sejarah

Kritik Hasbi Ash-Shiddieqy terhadap Pikiran Sekuler Soekarno

Kritik Hasbi Ash-Shiddieqy terhadap Pikiran Sekuler Soekarno
Bagikan:

Tanggapan yang ditulis Hasbi dan ulama-ulama lainnya terkait pemikiran liberal dan sekuler, menarik untuk dijadikan teladan. Mereka tidak diam menghadapi tokoh yang berbicara Islam tapi isinya bertentangan ajaran Islam, salah satunya mengkritik Presiden Soekarno

Hidayatullah.com | TAHUN 40-an, dalam majalah Pandji Islam, Soekarno menulis artikel yang sangat sarat dengan pemahaman sekuler terhadap Islam. Judulnya “Memoedakan Faham (Pengertian) Islam”. Isinya begitu kontroversial sehingga membuat ulama-ulama mengkritisinya.

Di antara pengkritiknya adalah A. Hassan. Selain A. Hassan (yang waktu itu menggunakan nama pena M.S.), ada banyak yang mengkritik secara tertulis artikel Soekarno berjudul “Memoedakan Pengertian (Faham) Islam”.

Dalam majalah Pandji Islam asuhan Z.A. Ahmad No. 37 (16 September 1940), setidaknya ada beberapa ulama dan tokoh lain yang membantah artikel Soekarno yang kontroversial kala itu, yaitu: Teungku Hasbi Ash-Shiddieqiy, Buya Hamka, A. Moechlis (Natsir) dan Sirajuddin Abbas.

Tulisan ini akan menyampaikan secara ringkas contoh kritik Hasbi Ash-Shiddieqy yang dimuat dalam majalah Pandji Islam sejak nomer 37 hingga 46. Beliau menulis bantahan dengan judul “Memoedahkan Pengertian Islam”. Tak tanggung-tanggung, bantahan beliau ditulis sebanyak tujuh edisi atau nomer.

Sebelum mengkritik, Teungku Hasbi mengapresiasi ketokohan Soekarno. Bagaimana pun juga, umat Islam memerlukannya untuk mempercepat penyebaran ajaran Islam dengan potensi yang dimilikinya. Meski begitu, tak semua yang disampaikan bisa ditelan mentah-mentah, terlebih dalam masalah agama yang dinilai banyak keliru.

Kritikan Hasbi dibagi menjadi 21 poin. Masing-masing dari poin diambil dari artikel Bung Karno “Memoedakan Faham (Pengertian) Islam”. Sayangnya, kritik Hasbi yang bisa penulis baca dalam madjalah Pandji Islam hanya pada edisi 37, 41, 42, 45 dan 46 (Bantahan No. I, IV, V, VI dan VII).

Meski begitu, secara garis besar bisa menggambarkan bagaimana cara Hasbi mengkritik tulisan Soekarno dengan sangat bijak dan arif.

Di antara poin yang dikritik Hasbi dari Soekarno: perlunya mengkoreksi kembali pengertian Islam; kaum anti taqlid tidak mau mengoreksi fahamnya dengan ijtihad dan mereka berkepala batu; hukum Islam bersifat karet; kejumudan orang yang berpegang teguh pada pengertian ulama masa lalu; permintaan perubahan pengertian tentang: ibadat, fiqih, tafsir, hadits, kedudukan perempuan dan perkara lainnya dalam Islam; cara ulama menerangkan Al-Qur`an dan hadits tidak cocok atau tidak sesuai dengan akal; menuduh ulama menerima apa saja dalam Al-Qur`an walau tidak sesuai dengan akal; meminta mentakwil yang tidak sesuai dengan akal; ilmu fiqih anti rasionalisme; sistem masyarakat Islam tidak sesuai dengan kemajuan zaman dan masih banyak lagi. Semua dijawab oleh Hasbi Ash-Shiddieqy.

*

Berikut ini contoh kritikan dari Teungku Hasbi dari artikel Soekarno terkait poin: Ilmu Fikih pada waktu itu menurut Bung Karno disebut anti-rasionalisme.
Hasbi menjawab dengan jawaban berikut:

“Toedoehan ini agaknja karena t. Soekarno beloem menjelami benar2 dasar2 fiqih Islamy fiqih jg dipetik dari Al-Qoer’an dan As-Soennah. Toean Soekarno menoedoeh ini, tentoe karena barangkali melihat keadaan fiqih dalam kitab2 meotaachirien.

Fiqih, ialah faham jg haloes. Faham jg haloes selamanja tidak dapat dipoekaukan, selamanja tidak anti-rationalisme. Bila ia telah anti-rationalisme, boekanlah lagi ia fiqih. Fiqih jgn sebenarnja fiqih, senantiasa dapat berdjalan berkepit tangan denganr masa. Karena fiqih itoe berqaedah: “Menolak kemelaratan didahoeloekan atas menarik kemaslahatan”. Fiqih Islamy selaloe memelihara kemaslahatan. Ia tidak pembangkang. Ilmoe fiqih tidak dapat disihirkan, hanja orang2 fiqihlah jg sebahagiannja jg telah dapat dipoekau dan disihirkan, hingga mereka ta’ dapat mempergoenakan akal dan ketjerdasannja lagi. Kesalahan orang fiqih tidaklah mendjadi tanggoengan fiqih. Dan tiap2 masa itoe ada orang jg tegak mendirikan kebenaran mengembalikan fikiran manoesia dari bentjana taklid ‘ama dsb. Dan oentoek mengetahoe fiqih Islam itoe, tentoelah kita sendiri sedikit2nja haroes dapat hendaknja mendjangkaunja dari bahasa originielnja.” (Madjalah Pandji Islam No. 45 [11 November 1940])

*
Itulah gaya mengkritik Teungku Hasbi. Halus, lembut, tapi menukik.

Tuduhan Soekarno bahwa fikih Islam anti-rasionalisme karena Soekarno kurang banyak bacaannya tentang ilmu fikih, terutama terkait dasar-dasar fimih yang berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah.

Ketika ada ulama fikih yang produknya tak rasional, bukan berarti yang salah fijih Islam, dan itu tidak bisa digeneralisir. Fikih Islam selalu relevan dan tidak bertentangan rasionalisme.

Tanggapan yang ditulis Hasbi dan ulama-ulama lainnya terkait pemikiran liberal, menarik untuk dijadikan teladan. Mereka tidak tinggal diam ketika ada tokoh yang berbicara Islam tapi isinya bertentangan dengan ajaran Islam.

Penyelesaian utama dan prioritas menghadapi masalah ini bukan dengan cara kekerasan, tapi dengan tulisan-tulisan ilmiah juga sehingga bisa mencerdaskan umat dan bangsa. Yang menarik lagi, meski mereka berpolemik dengan keras dalam tulisan, tapi tetap hangat dalam pergaulan.

Sebuah contoh luar biasa yang sekarang semakin langka ditemui. Kita harus banyak belajar dari mereka: berbeda tapi tetap bersaudara. */Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Sinergi Khubusyani dan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Pembebasan Bumi Kinanah

Sinergi Khubusyani dan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Pembebasan Bumi Kinanah

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Bersatunya Muslimin pada Perang Salib: Damaskus 1147-1154 (1)

Hari-hari Terakhir Dinasti Fatimiyah (2)

Hari-hari Terakhir Dinasti Fatimiyah (2)

Jalan Panjang Maktab Daimi Menelusuri Nasab Alawiyyin

Jalan Panjang Maktab Daimi Menelusuri Nasab Alawiyyin

Mengenang KH. Zainal Musthafa ‘Sang Singa Singaparna’ [1]

Mengenang KH. Zainal Musthafa ‘Sang Singa Singaparna’ [1]

Baca Juga

Berita Lainnya