Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Sejarah

RM Tirto Adhi Surjo dan Lahirnya Sjarekat Dagang Islam di Bogor

RM Tirto Adhi Soerjo
Bagikan:

Hidayatullah.com | Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dengan menggunakan busana ala seorang “priyayi” jawa, resmi menetapkan nama RM Tirto Adhi Soerjo sebagai pengganti salah satu nama ruas jalan di kota Bogor, persis pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2021 lalu. Nama yang digantinya itu adalah jalan Kesehatan yang berada di kawasan Tanah Sareal, dekat dengan Gelanggang Olah Raga (GOR) Dan Pemuda Pajajaran Bogor.

Nama Jalan Kesehatan itu sendiri sudah mulai muncul sejak dilokasi tersebut terdapat Kantor Dinas Kesehatan (DINKES) Kota Bogor. Jalan Kesehatan dahulunya merupakan bekas arena Pacuan Kuda yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda yang pada akhir tahun 60-an disulap masa Wali Kotanya Achmad Syam menjadi sebuah pemukiman elit dan komplek kegiatan olah raga yang diperuntukan bagi warga kota, antaranya adalah Lapangan Sepak Bola Purana yang kelak dikemudian hari, namanya dirubah menjadi Pajajaran.

Bagi warga kota Bogor, RM Tirto Adhi Soerjo bukan tidak punya alasan namanya layak untuk diabadikan, karena tokoh Pers Indonesia ini memang telah menjadi bagian penting dari sejarah serta pertumbuhan kota Bogor sejak sebelum Indonesia Merdeka. Paling tidak, pemilik nama asli Raden Mas Djokomono ini pernah menetap untuk sementara waktu sejak kota ini masih bernama Buitenzorg.

Bahkan jasadnya kini, dibaringkan untuk selama-lamanya dengan penuh penghormatan dalam komplek TPU Blender – Pondok Rumput Bogor, setelah sebelumnya sejak kematiannya pada tahun 1918, makamya ada di Jakarta.

Selama di Buitenzorg itulah, kurang lebih sembilan tahun sebelum kematiannya, Tirto bersama dengan Saudager Arab di kampung Empang mendirikan perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah pada 5 April 1909. Nama dan perkumpulan serupa juga ada di Surakarta (Solo) yang dalam sejarah nama Raden Samanhoedi tercatat sebagai pendirinya.

Tapi tidak sedikit pula dari para pegiat sejarah yang berpendapat, bahwa perkumpulan Sjarekat Dagang Islam di Solo itu tak lain dan tak bukan merupakan cabang dari SDI bentukan Tirto yang didirikan dan berpusat di Buitenzorg. Hanya saja seringkali dalam literasi sejarah dan yang berpendapat kedua perkumpulan itu berbeda lantaran dari kedua namanya, yaitu Sjarekat Dagang Islam (Solo) yang konon sudah ada sejak tahun 1905.

Sedangkan yang didirikan oleh Tirto itu sesudahnya dan dinamainya Sjarekat Dagang Islamijjah (+Ijjah). Tapi tetap kedua perkumpulan tersebut disingkat dengan SDI.

Dalam buku “Api Sejarah” yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara, disebutkan bahwa lahirnya SDI versi Tirto sengaja dibentuk sebagai tandingan yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap SDI yang dibuat oleh Hadji Samanhoedi di kampung Laweyan Solo. Selain para saudagar Arab, disebutkan pula ada tiga orang tokoh Bumipoetra yang duduk dalam kepengurusan SDI versi Tirto, mereka adalah Muhamad Dagrim, Mas Ralioes dan Hadji Mohammad Arsjad.

Selama masa proses pendirian serta pengembangan Sjarekat Dagang Islamijjah, sebuah bangunan tua di kawasan Pecinan yang berada dekat dengan klenteng Hok Tek Bio menjadi saksi bisu Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang menghabiskan hari-harinya selama berada di kota Bogor. Bangunan tua itu adalah bekas “Hotel Passer Baru” tempat ia menginap yang sekarang kondisinya sangat memprihatinkan dan hanya tinggal menunggu waktu akan rata dengan tanah.

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo sebagai seorang tokoh jurnalis yang telah bekerjasama dengan saudagar-saudagar Arab di Empang, dalam mewujudkan ambisinya kelak oleh sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, sosoknya dilukiskan dalam buku sastra non-fiksi karyanya sebagai “Sang Pemoela”. Dalam buku itu disebutkan Tirto tampil menjadi aktor intelektual dibalik lahirnya Sjarekat Dagang Islamijjah yang kerap kali sering melontarkan kritik pedasnya kepada sang penguasa, pemerintah Hindia Belanda.

Pramoedya seolah ingin menyeru, sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa, titik tolak kebangkitan intelektual Indonesia pertama untuk sebuah kebangkitan nasional dalam rangka melepaskan diri dari belenggu penjajahan menuju Indonesia Merdeka, telah dimulai oleh Tirto melalui perkumpulan-perkumulan yang didirikannya dan melalui media yang dirintisnya “Medan Prijaji”. Koran berbahasa melayu pertama itu dijadikannya sebagai alat kritik terhadap kebijakan penguasa karena telah merugikan serta menyengsarakan rakyat, salah satunya yang menimpa seorang buruh perkebunan di Deli-Sumatra Timur pada tahun 1909.

Karena itu dapat dipandang keliru jika ada yang berpandangan pembentukan Sjarekat Dagang Islamijjah di Bogor dibentuk sebagai organisai tandingan yang dibuat oleh Belanda, sebagai reaksi atas lahirnya Sjarekat Dagang Islam di Laweyan Solo. Selain inisiatornya adalah Raden Mas Tirto Adhi Surjo sendiri sebagai seorang jurnalis yang di anggap berbahaya oleh Pemerintah Belanda, disebutkan tujuan utama Sjarekat Dagang Islamijjah adalah “Mendjaga kepentingan kaoem Moeslimin di Hindia”. (tirto.id).

Diperkuat lagi dengan adanya motivasi Tirto dalam mendirikan Sjarekat Dagang Islamijjah merupakan cara dia menjaga jarak dari lingkaran keningratan yang selama ini selalu menyertainya. Bagi Tirto, salah satu cara untuk dapat memajukan kaum “terprentah” atau “seperempat manusia”, janganlah memiliki keterikatan atau ketergantungan kepada bangsawan maupun pejabat pemerintah. Akan tetapi harus bergerak bersama dengan individu yang mandiri dan bebas bergerak, salah satunya dengan golongan saudagar atau pengusaha swasta.

Terungkap pula bahwa perkumpulan Rekso Roemekso di Solo yang dipimpin oleh Hadji Samanhoedi pernah dibantu dalam pengurusan aspek legalnya oleh Tirto yang berkat bantuannya, perkumpulan Rekso Roemekso di Solo tetap terjaga eksistensinya dari ancaman pembubaran oleh pemerintah kolonial. Bahkan disebutkan pula, Tirto ikut membantu membuatkan rancangan Anggaran Dasar perkumpulan tersebut bersamaan dengan pengukuhan statusnya yang telah mendapatkan izin sebagai Badan Hukum.

Rekso Roemekso adalah perkumpulan tandingan dari kampung batik di Laweyan Solo yang dibentuk untuk melawan dominasi Kong Sing, ormas yang didirikan para cukong batik keturunan Tionghoa. Kaum cukong bermaksud memonopoli pasokan bahan baku batik maka Rekso Roemekso akhirnya kerap bentrok dengan Kong Sin.

Dari dua hal diatas, yang pertama motivasi Titro dalam melahirkan gagasan terbentuknya Sjarekat Dagang Islamijjah di Bogor (1909), dan kedua adanya interaksi kongkrit Tirto yang justru  telah membantu menjaga eksistensi Rekso Roemekso yang atas permintaan sendiri dari pemimpinnya Hadji Samanhoedi pada tahun 1911, merupakan argumentasi  yang cukup kuat serta beralasan untuk membantah, bahwa Tirto bukanlah kaki tangan Belanda yang ditugaskan untuk mendirikan SDI tandingan yang disokong penuh oleh para Saudagar Arab di Buitenzorg.

Menjadi terang benderang bahwa pada tahun 1911 itu, Tirto bukanlah menyerah kalah dengan membubarkan Sjarekat Dagang Islamijjah di Bogor bentukannya karena tidak sanggup bersaing dengan SDI pimpinan Hadji Samanhoedi di Laweyan Solo, akan tetapi justru ditahun itu Ia telah memainkan peranan pentingnya bagi kelangsungan perkumpulan yang dipandangnya memiliki semangat yang sama selama ini dengan keinginannya. Adapun masa periode SDI Empang di Bogor mengalami kemerosotan itu terjadi justru sesudah akhir tahun 1912, akibat Tirto ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah Belanda, setelah sebelumnya sekitar awal tahun 1910 sempat mendekam dalam penjara selama 2 bulan karena di dakwa telah menghina pemerintah Belanda melalui surat kabar yang dipimpinnya.

Tidak ada bukti valid yang dapat dipertangung jawabkan SDI di Bogor membubarkan diri. Pun tidak ada peristiwa yang mencatat adanya deklarasi peleburan kedalam SDI pimpinan Hadji Samanhoedi. Tapi secara personal sejak masih dalam tahun 1912, tokoh-tokoh penyokong utama SDI Bogor, yakni saudagar-saudagar Arab tersebut terlihat sudah terlibat aktiv dalam Syarekat Islam setelah nama itu mulai muncul menggantikan nama lamanya dari Sjarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sjarekat Islam (SI). Sejak setelah berlangsungnya kongres Syarekat Islam di kota Surabaya yang dipelopori oleh seorang tokoh pergerakan Nasionalis Islam Indonesia Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, guru bangsa yang digelari “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Sebagai seorang yang dianggap berbahaya oleh Belanda, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar berbahasa Melayu yang dipakai sebagai alat propaganda dalam membentuk pendapat umum. Dia telah berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap kebijakan dan perangai pemerintahan kolonial Belanda dalam surat kabar yang dipimpinnya. Lagi-lagi ini dapat membantah salah satu argumentasi yang menyebutkan pembentukan SDI “tandingan” buatan Belanda di Bogor itu tidak memiliki dasar yang cukup kuat

Sekembalinya dari tempat pengasingan yang menjadi “penjaranya tanpa jeruji besi” di bumi Maluku, kondisi kejiwaan Tirto jatuh terpuruk. Ia selalu dalam pengawasan yang ketat oleh pemerintah kolonial hingga mentalnya semakin terlemahkan dan kesehatan fisiknya semakin memburuk. Bahkan disebutkan Tirto mengalami goncangan kejiwaan yang sangat dahsyat hingga membawanya pada kematiannya pada 7 Desember 1918.

Tirto yang dilahirkan di Blora – Jawa Tengah pada tahun 1880, wafat bersama kesunyian hidupnya tanpa kawan dan lawannya di kawasan “Mangga Doea Abdat” di Batavia (Jakarta) dalam usia 38 tahun. Usia muda tapi segudang prestasi, bahkan mampu berjuang menyulut amarah murka penguasa penjajah Belanda melalui pena dan gerakannya, saat dirinya masih berusia 20-an.

Sebagai seorang jurnalis, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo pernah menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) serta Putri Hindia (1908). Medan Prijaji dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani oleh orang-orang pribumi Indonesia asli, yang karena itulah sosoknya digelari oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai “Bapak Pers Indonesia”.

Satu-satunya sumber yang tercatat tentang susunan pengurus awal Sjarekat Dagang Islamijjah di Bogor ada pada buku sastra-non fiksi yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer “Sang Pemoela”;

Presiden: Sjech Achmad bin Abdoerachman Badjenet (saudagar), Wakil Presiden: Mohamad Dagrim (dokter), Komisaris-Komisaris: Sjech Achmad bin Said Badjenet (tuan tanah), Sjech Galib bin Said bin Tebe (tuan tanah), Sjech Mohamad bin Said Badjenet (tuan tanah), Mas Ralioes (tuan tanah) dan Hadji Mohamad Arsyad (saudagar).

Kasir: Sjech Said bin Abdoerachman Badjenet dan Sekretaris Advisor: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo

Disebutkan kantor pusatnya berada di gedung sewaan yang berada di Jalan Tanjakan Empang. Diduga kuat lokasinya yang kini menjadi SDN Empang dekat dengan Bogor Trade Mall di Jalan Raden Saleh Sjarif Boestaman.

Sebagai sebuah perkumpulan yang inisiatornya dianggap berbahaya oleh pemerintah Belanda, secara administratif perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah mengantongi izin hanya dari kepala kantor Pengadilan Negeri Bogor dan belum mendapatkan pengesahan resmi dari Gubernemen. Namun demikian hal izin diabaikan dan kegiatan perkumpulan itu tetap berjalan yang bahkan mengangkat C.J. Feith, pejabat Asisten Residen di Buitenzorg sebagai pelindungnya.

Sjech Galib bin Said Tebe merupakan tokoh dari kalangan saudagar Arab yang paling berpengaruh dan memiliki andil cukup penting dalam kelahirannya. Perannya dalam pergerakan kebangsaan terus di ikutinya hingga ia menjadi tokoh dalam pergerakan Sjarekat Islam di Batavia (Jakarta) dan di Buitenzorg (Bogor). Ia juga merupakan tokoh penting pada periode awal kelahiran organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang dipelopori oleh Syaikh Ahmad Soorkatty tahun 1914 di Batavia, dan ikut terlibat dalam pembukaan cabangnya di kota Bogor pada tahun 1928.

Sjech Ghalib bin Said Tebe adalah seorang Arab totok (wulaiti) kelahiran Hadramaut-Yaman Selatan yang pernah diangkat sebagai Hoofd der Arabieren pertama berpangkat Luitenant di Buitenzorg (sebelum 1914). Koleganya di perkumpulan Sjarekat Dagang Islamijjah, Sjech Achmad bin Said Badjenet pernah meneruskan jabatannya sebagai Hoofd der Arabieren tersebut untuk masa jabatan 1921-1929.

Keluarga fam “Badjened” yang semuanya menduduki jabatan inti dalam perkumpulan ini, merupakan penyokong utama lahirnya Sjarekat Dagang Islamijjah. Sjech Ahmad bin Said Bajened merupakan pemerakarsa berdirinya sebuah lembaga “Student Hadharimah” di Mesir, dimana salah seorang bekas pengajarnya Ali Ahmad Bakatsir, dikemudian hari tampil menjadi tokoh spirit dan propagandis kemerdekaan Indonesia melalui karya sastranya yang terkenal “Audatul Firadus” yang kini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Nabil A.Karim Hayaze dengan judul “Kembalinya Surga Yang Hilang”.

Sedangkan nama Hadji Mohammad Arsjad, diduga kuat oleh penulis adalah Goesti Hadji Mohammad Arsjad, seorang tokoh buangan Belanda  yang ditempatkan di Empang bersama dengan istrinya Ratoe Zaleha bersama anggota keluarga pagustian asal Kesultanan Banjarmasin lainnya. Gusti Hadji Mohammad Arsyad adalah menantu sekaligus penerus perjuangan Pangeran Antasari yang memberontak dan melawan kepada penjajah Belanda yang berhasil ditangkap dan diasingkan bersama istrinya ke Buitenzorg di Kampung Arab Empang, yang sekarang kita kenal kawasan bekas rumah pengasingannya tersebut dengan nama Gang Banjar.*/Abdullah Abubakar Batarfie,  Ketua Pusat Dokumentasi & Kajian Al-Irsyad Bogor

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Abdul Qadir Jailani: Antara Akidah dan Karamahnya

Abdul Qadir Jailani: Antara Akidah dan Karamahnya

Pesan Mohammad Natsir: Palestina Bukan Soal Tanah

Pesan Mohammad Natsir: Palestina Bukan Soal Tanah

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (1)

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (1)

Sayyid Ustman: Jejak Kontroversial Mufti Betawi [1]

Sayyid Ustman: Jejak Kontroversial Mufti Betawi [1]

Tokoh Pemurnian Akidah di Pulau Bawean

Tokoh Pemurnian Akidah di Pulau Bawean

Baca Juga

Berita Lainnya