Rabu, 1 Desember 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Sejarah

AR Baswedan: Sumpah Pemuda Arab dan Nasionalisme

AR Baswedan (tengah)
Bagikan:

Hidayatullah.com | SEJAK para pemuda Peranakan Arab bersumpah dalam Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada 4-5 Oktober 1934 di Semarang, aktivitas ini terus disorot penjajah Belanda. Sementara kaum pergerakan nasional menyambut gembira kehadiran dan kesungguhan keturunan Arab Indonesia mengakui Tanah Air Indonesia sebagai tanah airnya.

Pada 4-5 Oktober 1934 para pemuda keturunan Arab dari beragam kota di Nusantara bersama-sama dijadikan satu golongan di Semarang. Pada waktu itu warga Arab semua Indonesia gempar karena beradanya Konferensi Peranakan Arab di Semarang ini.

Dalam konferensi PAI di Semarang AR Baswedan pertama-tama mengajukan pertanyaan di mana tanah cairannya. Para pemuda yang menghadiri kongres itu memiliki cita-cita bahwa bangsa Arab Indonesia harus disatukan untuk berikutnya berintegrasi penuh ke dalam bangsa Indonesia.

Dalam konferensi itu para pemuda Indonesia keturunan Arab membuat sumpah: “Tanah Cairan kami satu, Indonesia. Dan keturunan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri (isolasi)”. Sumpah ini dikenal dengan Sumpah [Pemuda] Indonesia Keturunan Arab. (Majalah TEMPO: AR Baswedan, Seorang Nasionalis Berdarah Arab, 2008).

Menurut AR Baswedan persatuan adalah modal utama untuk Arab peranakan untuk berikutnya bersama-sama kaum pergerakan nasional bersatu melawan penjajah.  Sejak 4 Oktober 1934 itu keturunan Arab bersatu bersama pergerakan nasional dan meninggalkan identitas ke-Araban, lalu berubah identitas dari semangat kearaban dijadikan semangat keIndonesiaan.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari keturunan Arab yang ada di Indonesia. AR Baswedan, yang saat itu berusia 27 tahun mengumpulkan warga keturunan Arab dan mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI), yang juga mendukung perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.

Banyak peranakan Arab yang mendukung dan mengikuti pergerakan dan gagasan ini. Gagasan sangat berjasa melahirkan kesadaran Indonesia sebagai tanah cairan untuk orang Arab.

Peranakan Arab pada berakhir diakui adik-beradik setanah cairan. Sejarah mencatat pendirian PAI ini selanjutnya memberi efek luhur untuk komunitas Arab di Indonesia.

Banyak tokoh-tokohnya ikut berjuang saat itu duduk dalam pemerintahan dan aktif dalam warga Indonesia. Anak dan keturunannya pada masa sekarang juga tidak sedikit yang berkiprah sebagai tokoh nasional.

Pengamat masalah keturunan Arab di Indonesia, Hasan Bahanan mengatakan bahwa yang dilakukan AR Baswedan dan kawan-kawan itu terinspirasi Sumpah Pemuda 1928. “Sumpah Pemuda 1928 yang melintasi batas-batas etnik dan agama berpengaruh pada orientasi kebernegaraan komunitas Arab Hadrami di Hindia Belanda,” kata Hasan sebagaimana dikutip BBC Indonesia, 28 Oktober 2015 seperti dikutip detikcom, 28 Oktober 2017.

Dalam buku AR Baswedan, Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan (2014), ditulis;  “Sumpah Pemuda keturunan Arab” itu memiliki tiga butir pernyataan:

Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Tokoh pemuda keturunan Arab, Tsamara Amany mengatakan bahwa Sumpah Pemuda menjadi momen untuk menumbuhkan nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. Keturunan Arab yang lahir di Indonesia bukanlah pendatang, melainkan memiliki identitas Indonesia, sehingga harus juga memiliki kecintaan terjadap tanah air Indonesia seperti yang tercantum dalam Sumpah Pemuda keturunan Arab.

“Yang harus ditekankan dalam sumpah (sumpah pemuda keturunan Arab) ini adalah meskipun kita keturunan Arab, tapi kita harus tetap ingat bahwa kita adalah warga negara Indonesia, kita ini orang Indonesia,” kata Tsamara.

Keturunan Arab di Indonesia, kata Tsamara, harus memiliki nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. “Nasionalisme seperti ini perlu dibangun, karena pada akhirnya kita ini Indonesia, sudah seharusnya kita mencintai Tanah Air sendiri. Mencintai saudara sebangsa kita dan jangan membiarkan bangsa kita ini terpecah-pecah.”

Dalam catatan dan tulisan AR Baswedan secara rutin melontarkan pemikiran-pemikiran tentang pentingnya integrasi, persatuan orang Arab di Indonesia, untuk bersama-sama bangsa Indonesia yang lain memperjuangkan kemerdekaan untuk Indonesia Dalam situasi gawat itulah pemuda Arab justru bangkit dan memproklamasikan keyakinan dan sikapnya. Pemikiran yang revolusioner terlontar yang bermula dari ikatan Islam sebagai agama yang rahmah.

Bagi kalangan Arab sendiri sumpah pemuda Arab dan lahirnya Partai Arab Indonesia (PAI) hingga meleburkan diri menjadi warga pribumi bisa menyatukan 2 kubu keturunan Arab yang sebelumnya selalu bertikai antara kubu Al Irsyad dan Ar Rabithah Al Alawiyah. Mereka akhirnya bisa bersatu atas keyakinan baru sebagai putra bangsa Indonesia.

Mereka keluar dari isolasi berpikir diri sendiri dan kesukuan berpuluh-puluh tahun.  Lalu dengan kebangkitan ini serta merta keturunan Arab melebur menjadi pribum dan memasuki lorong-lorong pergerakan nasional yang bercita-cita kemerdekaan utk bangsa Indonesia.

AR Baswedan

Itulah sebabnya, PAI dan masyarakat keturunan Arab dalam waktu singkat bergerak secara progresif . semua pimpinan PAI dari daerah hingga pusat segera bergabung dengan Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Bergabungnya PAI ke GAPI merupakan pengakuan resmi bahwa peranakan Arab diterima sebagai pemuda pemudi sesama bangsa Indonesia.

Hal menarik yang terlontar dalam pemikiran kaum keturunan Arab yang sering disebut sebagai kaum perkauman ditolak. Pandangan dan penyebutan ‘Pekauman’ untuk kalangan keturunan Arab ditolak karena anggapan sebagai minoritas.

Padahal AR Baswedan tegas menyatakan bahwa keturunan Arab adalah pribumi bangsa Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan keikutsertaanya dalam kemerdekaan RI.

Salah satu saksi sekaligus bukti sejarah, saudara Mustafa Baisa dan Al Bahfen, keduanya pemuda PAI diutus oleh Komite Nasional Indonesia Pusat. (KNIP) ke Sumatera untuk menyiarkan berita kemerdekaan Republik Inonesia (Lihat: AR Baswedan, Saya Muslim, Saya Nasionalis, Pustaka Al-Kautsar).

Pembukian lain yang dilakukan oleh AR Baswedan adalah ketika dia berpakaian adat Jawa bersama sahabatnya bernama Tuan IM Soeljo Adikoesoemo saat berkunjung di Malang rumah kawannya. Foto berpakaian adat Jawa itu dilakukan dalam kegiatan di Jong Islamieten Bond (JIB) sebagai tanda persahabat bersama kawan dan menunjukkan kecintaannya pada bangsa Indonesia dan sepertinya ingin menjukkan dirinya bahwa dirinya keturunan Arab pribumi Indonesia.

Islam dan Nasionalisme

Islam dan nasionalis adalah dua kata yang selalu mendapat perhatian luas oleh siapa saja. Tak pelak AR Baswedan pun mencurahkan pikiran dan sikapnya tentang Islam dan nasionalisme.

Uraian pandangan soal ini bisa kita lihat dalam buku berjudul “AR Baswedan. Saya Muslim, Saya Nasionalis.” “Jika saja Negara ini bukan  Negara kesatuan, barangkali tidak akan ada nama bangsa Indonesia. Buktinya saja Malaysia. Walaupun mereka itu masih satu rumpun dengan Indonesia, tetapi tidak bisa disebut bangsa Indonesia, karena Malaysia berdiri sebagai negera sendiri. Demikian pula dengan Brunei Darussalam,” demikian katanya.

Ketika ia memulai dengan Partai Arab Indonesia (PAI), Ia dan teman-teman pendiri yang lain mengakui adanya Indonesia di dalam ide dan di dalam pengakuan adanya nasionalisme Indonesia. “Ini perlu dikemukakan, karena ada satu hal yang kelihatannya kecil di zaman Belanda, yakni terjadinya petentangan keras antara apa yang disebut dengan golongan nasionalis dengan golongan Islam.”

“Kaum nasionalis mengangggap seakan-aka golongan Islam itu tidak nasionalis. Itu keliru! Sebab Sarekat Islam yang memelopori politik non co itu nasionalis, tertapi perjuangannya berdasarkan Islam,” kata AR Basweda.

AR Baswedan mencontohkan apa yang ada di dunia Arab. Menurutnya, Partai di Maroko disebut  Partai Nasional. “Padahal kita tahu, Maoko itu Negara Islam. Maka, nasionalisme itu artinya antipenjajah.”

Namun menurutnya, di Indonesia, nasionalisme tidak dipahami demikian. “Di zaman Belanda, nasionalisme itu dipahami sebagai orang yang tidak memakai dasar Islam. Sayangnya, sampai sekarang pemahaman seperti itu masih ada.”

Ketika pada tahun 1950an AR Baswedan masuk partai Masyumi, banyak orang terkejut. “Kalangan nasionalis heran. Mengapa saya yang nasionalis masuk Masyumi, “ kata dia.

“Dari dulu sampai sekarang saya ini nasionalis. Hanya saja nasionalisme saya berdasarkan Islam,” tambahnya.

Nah, sesungguhnya menjadi seorang muslim di Indonesia pastilah seorang yang nasionalis.*

Rep: Akbar Muzakki
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Aisyah Istri Rasulullah dan Syariat Tayamum

Aisyah Istri Rasulullah dan Syariat Tayamum

Tidurnya Rasulullah ﷺ

Tidurnya Rasulullah ﷺ

Jerat Utang dan Jatuhnya Khilafah Ustmani

Jerat Utang dan Jatuhnya Khilafah Ustmani

karbala

Sejarah Karbala dalam Pandangan Ahlus Sunnah

Politik Kristenisasi dan Perlawanan KH Ahmad Dahlan

Politik Kristenisasi dan Perlawanan KH Ahmad Dahlan

Baca Juga

Berita Lainnya