Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Sejarah

Alatas Land: Orang Betawi di Antara Para Diplomat Indonesia yang Mendunia

Ali Alatas di pertemuan PBB
Bagikan:

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

 

Hidayatullah.com | CIKINI termasuk salah satu kawasan yang cukup terkenal di Jakarta sejak masa Hindia Belanda, semenjak kota itu masih bernama Batavia. Namanya bahkan dibuat menjadi sebuah lirik pada lagu khas Betawi “Cikini di Gondangdia, badan begini lantaran dia.” 

Meski ada banyak nama yang sudah berubah, termasuk Gondangdia, menurut Abah Alwi “masih disyukuri kedua nama itu hingga kini tetap mentereng, diabadikan menjadi dua nama stasiun kereta api yang saling bersebelahan, Cikini dan Gondangdia”.( Alwi Shahab; Quenn of the East, penerbit Republika 2002).

Masih di kawasan Cikini, terdapat seorang ulama masyhur Betawi yang terkenal dengan sebutan Habib Cikini. Nama aslinya adalah Sayyid Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi, ayah dari Sayyid Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, atau yang disebut orang dengan panggilan Habib Ali Kwitang.

Salah seorang puteranya bernama Sayyid Abdurrahman, menikahi wanita keturunan Belanda bernama Maria Van Engels, oleh cucu-cucunya, termasuk Alwi Shahab, meyebutnya Jidah Enon, dan Wan Enon oleh warga setempat.

Selain Rumah Sakit Cikini, bangunan bersejarah lainnya yang berada di kawasan Cikini adalah Masjid Al-Makmur, yang dibangun di atas tanah wakaf Raden Saleh pada pertengahan abad ke-18. Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya adik dari maestro lukis Raden Saleh, merupakan istri pertama Habib Cikini.

Cikini di masa lalu dan pada masa sesudah kemerdekaan memang banyak menyimpan sejuta kisah dan memiliki sejarah panjang, mulai keberadaan Kebun Binatang Cikini yang kemudian berubah menjadi Taman Ismail Marzuki, hingga bekas kediaman pelukis ternama Indonesia, Raden Saleh yang sekarang menjadi RS Cikini di Jalan Raden Saleh Raya No.40. Sejak rumah itu dijual “murah” oleh ahli waris Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas kepada Koningen Emma Stichting, Yayasan milik Belanda yang namanya didedikasikan kepada Adelheid Emma Wilhelmina Theresia, ibunda Ratu Wilhelmina, penguasa monarki kerajaan Belanda (1890-1948)

Raden Saleh Sjarif Boestaman, pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang menjadi pionir seni modern Indonesia, adalah pemilik asal rumah itu, yang semasa beliau masih hidup telah menjualnya kepada Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas, seorang saudagar Arab-Betawi yang memiliki banyak lahan luas di Batavia. Maka dari itu orang-orang dulu menyebut wilayah Jalan Raden Saleh dengan sebutan Alatas Land.

Ali Alatas merupakan satu di antara tokoh nasional yang lahir di Cikini pada 4 November 1932, dan wafat pada 11 Desember 2008 di Singapura.  Karena memiliki banyak jasa kepada negara, Ali Alatas dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Prosesi upacara pemakamannya dipimpin langsung oleh presiden RI ke 6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY dalam sambutan pemakamannya menyatakan, Ali Alatas sepanjang hidupnya telah mengabdikan diri untuk bangsa dan negara di dunia diplomasi dan hubungan internasional. ”Almarhum dikenal sebagai diplomat andal serta negosiator cerdas, tangguh, dan piawai dalam mewakili negara kita di berbagai perundingan, didasari kecintaannya kepada bangsa dan tanah air.”

Seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu hadir di pemakaman Ali Alatas, demikian pula para duta besar negara sahabat. Tun Haji Abdullah bin Haji Ahmad Badawi, Perdana Menteri Malaysia menyempatkan diri bertakziah ke rumah duka, menyampaikan ucapan bela sungkawa atas nama negara dan bangsa serumpun di Asia Tenggara.

Banyak pihak mengatakan, bahwa Ali Alatas “lebih besar” dari Asia Tenggara, sementara kiprahnya di kancah internasional menjadi daftar panjang yang mungkin akan sulit ditandingi oleh siapapun.  Ali Alatas diakui memiliki prestasi gemilang, saat tercatat sebagai diplomat yang berhasil mewujudkan perdamaian di Kamboja.

Bersama Hun Sen, Ali Alatas berhasil mengakhiri perang melawan Khmer Merah yang telah menewaskan lebih dari 2.2 juta jiwa warga sipil dalam peperangan tersebut.

Sebagai figur yang karismatik, dan diakui karena jasa berikut pengalamannya di bidang diplomasi, tokoh yang disegani di kawasan Asia Pasifik, namanya pun sering digadang menuju kursi jabatan Sekjen PBB.

Dr. H.C. Ali Alatas, S.H adalah salah seorang diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (1988-1998) pada era orde baru, masa kepemimpinan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto. Jabatan lainnya ialah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden RI untuk masalah Timur Tengah dan Ketua Dewan Pertimbangan Kepresidenan.

Ali Alatas, dapat dikatakan menjadi seorang Menteri Luar Negeri RI pertama yang memulai jenjang kariernya dari bawah. Ia memiliki ciri-ciri alamiah yang membuat pribadinya amat cocok berkembang menjadi seorang diplomat ulung.

Ali Alatas Anak Cikini

Meski lahir dalam keluarga terpandang dan berpengaruh di masanya, tapi sebagaimana umumnya anak-anak di Betawi, Ali Alatas sejak kecil tumbuh dalam lingkungan masyarakat Betawi yang kental. Rumahnya yang berada di kawasan Cikini, tepian sungai Ciliwung menjadi tempatnya bermain bersama sohib-sohib sebayanya.

Terkadang, ia menyusuri sungai yang membelah kota Jakarta itu dengan menggunakan rakit yang dibuatnya dari batang pohon pisang.

Masjid al Makmur – Cikini

Ali Alatas kecil juga sering bermain bola dalam sebuah lapangan kampung di Cikini. Ciri yang paling menonjol adalah posturnya yang mudah dikenali, Ali Alatas tumbuh menjadi remaja paling jangkung diantara bocah sebayanya. Masih dI kawasan Cikini itulah, dekat dengan Theater Schouwburg Weltevreden, juga disebut dengan Gedung Komedi yang sudah ada sejak 1821 di Batavia, Ali Alatas lahir sebagai putra ketiga pasangan Sayyid Abdullah bin Salim Alatas dan Syarifah Saadiyah Azis Effendi.

Selain Ali Alatas, Abdullah dan Saadiyah, dari kedua pasangan ini mereka memiliki putera puteri yang terdiri dari Farida, Alwie dan Hasyim.

Farida menikah dengan Heyder bin Heyder, atau anak dari Raden Sayyid Hasan bin Heyder, putera pasangan Sayyid Ali Al-Hamid dengan RA Secha Diponogoro. RA Secha Diponegoro merupakan cicit Pangeran Diponegoro, salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Hasyim pernah menikah dengan Syarifah Rogoan Al-Idrus, yang karena kecantikannya disebut orang di Betawi dengan sebutan ibu rogoan gambar. Syarifah Rogoan juga merupakan ibu dari Prof. DR. Syed Muhammad al Naquib Al-Attas bin Ali bin Abdullah bin Muchsin Al-Attas, anak dari suami keduanya yang bernama Sayyid Ali Al-Attas, putera Sayyid Abdullah bin Muchsin Al-Attas yang dikenal orang sebagai Habib Keramat Empang di Bogor.

Prof. Dr. Syed Muhammad al Naquib Al-Attas merupakan cendekiawan dan filsuf terkenal muslim saat ini yang tinggal di Malaysia. Sedangkan saudara kandungnya Syed Hussein Al-Attas, adalah seorang akademisi, sosiolog dan politisi senior Malaysia yang mendirikan Partai Gerakan Rakyat Malaysia.

Abdullah Ayah Ali, Murid Syaikh Ahmad Surkati, Pendiri Al Irsyad

Sayyid Abdullah Salim Alatas, ayah Ali Alatas memiliki darah Arab, tapi lahir dan tumbuh hingga dewasa di Betawi, semasa negeri ini masih disebut sebagai Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Sayyid Abdullah Salim Alatas memulai pendidikan dasarnya di perguruan Jamiatul Khair yang berada di Pekojan. Tapi kemudian pindah dan sekolah pada perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jalan Jati Petamburan, setelah gurunya Syaikh Ahmad Surkati mengundurkan diri dari Jamiatul Khair tempat awalnya berkhidmat, lalu mendirikan Jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah 6 September 1914.

Di sekolah barunya itu, Sayyid Abdullah Salim Alatas menjadi salah satu murid kesayangannya dan bahkan boleh dibilang, sebagai anak asuh Syaikh Ahmad Surkati. Ibu Nurjanah atau yang belakangan dikenal orang dengan nama Nurjanah Alwaini setelah dinikahi oleh Said Alwaini, juga merupakan murid yang menjadi anak angkat Syaikh Ahmad Surkati.

Ibu Nurjanah merupakan wanita pertama di Tanah Air yang menyuarakan suaranya membaca Al-Qur’an yang disiarkan oleh Radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij, radio pemerintah Hindia Belanda yang setelah kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi Radio Republik Indonesia).

Ibu Nurjanah termasuk ikut mencetuskan dan satu-satunya wanita yang duduk sebagai dewan juri pada penyelenggaraan pertama Musbaqoh Tilawatil Qur’an Indonesia. Beliau juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis dari PNI termasuk BM Diah.

Sayyid Abdullah Salim Alatas teman satu perguruan Ibu Nurjanah di Al-Irsyad, sepanjang waktunya memilih lebih lama tinggal dalam lingkungan sekolah, karena adanya internaat yang memang sengaja didirikan bagi siswa yang menginap.

Di antara sekolah dan internaat itulah, Syaikh Ahmad Surkati tinggal dan mendiami rumah dinasnya yang sudah dipersiapkannya secara khusus, sehingga pembekalan ilmu dibarengi dengan pembinaan dapat sepenuhnya sepanjang hari, siang dan malam dicurahkan kepada anak-anak para peserta didiknya.

Internaat yang diambil dalam bahasa Belanda, merupakan model sekolah ber-asrama yang diciptakan dan dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Surkati yang pola didikannya dapat secara menyeluruh membentuk kecerdasan siswa agar memiliki pemamahaman spirtual (Mabda’ Al-Irsyad), kemampuan intelektual (ber-ilmu pengetahuan), ber-ahlaq, moral (ber-etika) dan ber-kepribadian (memiliki karakter).

Model sekolah ber-asrama atau Internaat van de Al-Irsjad schoool ini, menjadi ciri dari madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah asuhan Syaikh Ahmad Surkati, sekaligus dipersiapkan untuk menampung minat para peserta didik yang datang dari luar Batavia.

Meski berpindah-pindah, sekolah Al-Irsyad berikut asramanya tersebut selalu dihadirkan, baik sejak di Molenvliet west (Mangga Besar), Gang Kenari, Petodjo Djaga Monjet, hingga dimana Syaikh Ahmad Surkati wafat pada 16 September 1943 di Chaulan Weg, atau disebut orang sebagai Gang Solang, belakangan dirubah menjadi Jalan Kemakmuran dan terakhir hingga kini menjadi Jl.KH Hasyim Asy’ari No.27.

Melalui model madrasah (sekolah) ber-asrama inilah kelak melahirkan lulusan-lulusannya yang terintegrasi pada semua aspek pendidikan yang telah dihasilkannya, mulai dari pembentukan kepribadian, karakter, pengetahuan, hingga ke sikap dan kemampuan untuk tampil menjadi pemimpin (leadership). Hasil itulah yang nampak dalam diri Sayyid Abdullah Salim Alatas sebagai salah satu lulusan terbaiknya yang kemudian diberikan kepercayaan oleh almamaternya untuk memimpin madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di kota Tegal, saat untuk pertama kalinya membuka cabang di kota itu pada 29 Agustus 1917.

Sayyid Abdullah Salim Alatas, juga pernah menjadi kepala madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah cabang kota Surabaya, menggantikan Syaikh Abul Fadhel Sati Al-Anshari, saudara kandung Syekh Ahmad Surkati yang memimpin madrasah itu sejak pembukaannya sebagai cabang ke 5 Al-Irsyad pada tahun 1919.

Pembukaan Cabang Surabaya ini dinilai sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al-Irsyad, karena kedudukan Surabaya waktu itu sebagai pusat kegiatan pergerakan Islam dan tempat berdomisilinya para pemuka masyarakat muslimin, khususnya yang tersebar di wilayah Jawa Timur.

Menurut H.Hussein Badjeri dalam bukunya “Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” tahun terbit 1996; Sebagai akibat “benturan” Syaikh Ahmad Surkati dengan pihak Jamiatul Khair yang “tergolong dari kelompok sayyid”, meski tidak duduk dalam Pengurus, atau Hoofdbestuur (HB) Al-Irsyad menurut pengertian waktu itu, dari golongan sayyid seperti antaranya Sayyid Abdullah bin Abubakar Al-Habsyi, Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas, termasuk antaranya Sayyid Abdullah Salim Alatas mendapatkan posisi amat terhormat dalam perhimpunan dan merupakan tokoh-tokoh yang terpercaya.

Setelah kemerdekaan, Sayyid Abdullah Salim Alatas, murid dan anak angkat Syaikh Ahmad Surkati, atau ayah dari mantan Menlu RI Ali Alatas ini, tercatat pernah sebagai Dosen Sastra dan bahasa Arab pada Universitas Indonesia.

Saadiyah Ibu Ali, Purteri Bekas Konjen Turki di Batavia

Saadiyah adalah puteri Syed Aziz Effendi Al-Musawi, konsul jenderal kehormatan Turki Utsmani di Batavia yang sudah menjalankan tugasnya sejak tahun 1882. Syed Aziz sendiri yang berasal dari Baghdad, merupakan konsul pertama Turki yang berhasil membuka perwakilannya di Hindia Belanda, setelah sebelumnya sempat gagal karena pihak Belanda menganggap keberadaan konsulat Utsmani tersebut dianggap akan menjadi simbol dari persatuan umat Islam. (Sumber ; Jurnal Ferial Ramadhan Supratman ; Rafet Bey: The Last Ottoman Consul in Batavia During The First World War 1911-1924, diterbitkan oleh Studia Islamika).

Menurut Alwi Shahab dalam bukunya: Saudagar Baghdad dari Betawi yang diterbitkan oleh Republika; Syed Azis Al Musawi menikah dengan Siti Rohani, putri pejuang kemerdekaan Pangeran Sentot Alibasyah yang menjadi anak angkat Sultan Bengkulu terakhir. Di antara puterinya yang bernama Syarifah Mariam, kemudian menikah dengan Sayyid Abdullah bin Alwie Alatas.

Sayid Abdullah bin Alwi Alatas yang lahir di Pekojan, Jakarta Barat ini, oleh orang Betawi dijuluki “Tuan Tanah Baghdad”, karena termasuk salah satu orang terkaya dan pemilik banyak lahan luas di Batavia. Bekas rumahnya adalah yang sekarang menjadi museum tekstil di Tanah Abang. Rumah itu sebelumnya menjadi kediaman resmu Konsul Turki di Batavia, Syed Aziz Effendi Al Musawi mertuanya.

Saat dia menempati rumah itu, semangat gerakan Pan Islam tengah berkobar di Jakarta. Bahkan ia sendiri merupakan salah satu tokoh dari gerakan yang sangat ditentang Belanda itu dan kawan dari Shaikh Mohamad Abduh, murid Sayid Jamaluddin Al-Afghani, pencetus Pan Islam.

Sayid Abdullah bin Alwi Alatas juga pernah menerbitkan majalah Borobudur berbahasa Arab dan menyokong penerbitan harian Utusan Hindia, surat kabar berbahasa Melayu yang redakturnya dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.

Sayyid Abdullah Bin Alwie Alatas yang wafat pada tahun 1929, oleh Syaikh Ahmad Surkati selalu didoakan seraya mengangkat kedua belah tangannya tinggi-tinggi, kala namanya acap kali disebut, karena sokongannya yang besar terhadap Al-Irsyad. Sayyid Abdullah Bin Alwie Alatas tercatat telah memberikan donasi besar kepada Al-Irsyad saat organisasi ini pertama kalinya didirikan, sebanyak 60 ribu gulden, atau yang pada waktu itu menurut H. Hussein Badjerei bisa dibelikan sekitar sepuluh ribu ton beras di pasar Boplo.

Boplo berasal dari bahasa Belanda, Bouwploeg, yang punya arti tempat penjualan alat-alat bajak dan pengolah pertanian. Bila diintip dari sejarahnya, Bouwploeg sangat erat kaitannya dengan cikal bakal kawasan Menteng.

De Bouwploeg adalah sebuah perusahaan yang memberikan jasa perumahan mewah di kawasan Menteng dan Gondangdia. Di gedung yang kini menjadi Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat, Moojen selaku Direktur Utama NV de Bouwploeg membangun Menteng dengan menjadikannya sebagai kota taman pertama meniru kawasan Minerva (laan) di Amsterdam.*

Ketua Pusat Dokumentasi Dan Kajian Al-Irsyad Bogor

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Sejarah Islam indonesia

Amanat Sejarah Umat Islam Indonesia (1)

Partai Islam Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (2)

Partai Islam Masyumi dan Kebijakan Melawan Korupsi (2)

Kemal Attaturk, Orang Amerika Kaya yang Semena-mena Mengubah Nasib Hagia Sophia

Kemal Attaturk, Orang Amerika Kaya yang Semena-mena Mengubah Nasib Hagia Sophia

Aqidah Syaba’iyya dan Sejarah Benih Perpecahan Umat (2)

Aqidah Syaba’iyya dan Sejarah Benih Perpecahan Umat (2)

Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa

Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa

Baca Juga

Berita Lainnya