Rabu, 20 Oktober 2021 / 13 Rabiul Awwal 1443 H

Sejarah

Aksi ‘Gila-gilaan’ Rakyat Mesir Mendukung Kemerdekaan Indonesia – 1947

mesir kemerdekaan indonesia
Bagikan:

Oleh: Mohammad Iqbal

Hidayatullah.com | SETELAH seruan dari Mufti Palestina untuk mendukung Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1943, maka negara berdaulat yang berani terang-terangan mengakui dan mendukung perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia adalah Mesir, tepatnya pada tahun 1947. Sebuah organisasi massa dan politik Islam terbesar di Afrika Utara, Ikhwanul Muslimin, yang dipimpin oleh Hassan Al Banna, terus-menerus memperlihatkan dukungannya pada kemerdekaan Indonesia.

Selain menggalang opini publik lewat pemberitaan media, organisasi ini juga memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia di Mesir, untuk menulis artikel tentang kemerdekaan Indonesia di berbagai koran lokal milik Ikhwanul Muslimin, serta menggelar berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi besar-besaran untuk menggalang dukungan dari dunia Islam dan internasional bagi bangsa Indonesia.

Para pemuda-pelajar Mesir, dengan berbagai cara, berulangkali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, juga melalui aksi pembakaran ban, pelemparan batu dan teriakan permusuhan terhadap Belanda, kerap kali dilakukan.

Kondisi Ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo kewalahan. Mereka pun dengan tergesa-gesa mencopoti berbagai atribut kebangsaan, bahkan bendera negaranya sendiri demi keamanan karena ketakutan melihat aksi rakyat Mesir mendukung Kemerdekaan Indonesia, sebuah negara yang jauh sekali letaknya dari Mesir dan tidak pernah memberikan apapun kepada mereka sebelumnya.

Di jalan-jalan, terjadi demo besar-besaran setiap hari, mendukung Indonesia dan mengecam Belanda. Ketika Inggris menyerang Surabaya dengan kekuatan satu divisi penuh pada 10 November 1945, yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa di pihak Indonesia, terutama penduduk sipil, demonstrasi kini juga mendemo Inggris yang telah mendukung Belanda.

Hal ini terjadi di seluruh Timur Tengah, khususnya Mesir. Sholat ghaib pun dilakukan di masjid-masjid, bahkan juga di lapangan-lapangan, untuk mendoakan para syuhada‘ yang gugur dalam pertempuran dahsyat tersebut.

Mesir sebagai pimpinan Liga Arab, menyerukan dunia untuk segera mengakui Kemerdekaan bangsa Indonesia, bahkan membuat petisi ke PBB pada tanggal 18 November 1946. Seluruh negara anggota Liga Arab dan dunia Islam pun langsung mengakui dan mendukung secara penuh Kemerdekaan RI. Setelah Palestina dan Mesir, menyusul kemudian adalah Suriah, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan.

Pada tanggal 15 Maret 1947, utusan Mesir selaku perwakilan negara Arab dan dunia Islam, terbang menuju ke ibu kota RI pada saat itu, Yogyakarta, dengan membawa bantuan dalem bentuk uang tunai, makanan, pakaian dan obat-obatan. Bantuan ini yang merupakan hasil sumbangan terkumpul dari Liga Arab dan dunia Islam.

Utusan Mesir ini adalah Mohammad Abdul Mounim, menyerahkan bantuan tersebut disaksikan oleh Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono IX, kepada Presiden Soekarno dan Wapres M. Hatta. Pesawat mereka sempat akan dihentikan dan ditembaki Belanda, namun berhasil tiba dengan selamat di Maguwo.

Pesawat pemburu Belanda tidak berani melanjutkan aksinya karena pesawat yang disewa oleh Abdul Mounim adalah pesawat berbendera Amerika Serikat. Rombongan itu juga membawa nota perjanjian hubungan diplomatik dan perdagangan yang telah ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmud Fahmi Nokhrasyi Pasha. Selanjutnya teks kesepakatan diplomatik ini ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri RI, H Agus Salim.

Tak hanya Mesir, Saudi Arabia bahkan mengundang perwakilan RI ke Riyadh dengan fasilitas lengkap berupa pesawat kerajaan Saudi berikut segala akomodasinya (pesawat kerajaan Saudi dijamin langsung keamanannya oleh AS dan Inggris, terkait kepentingan eksplorasi minyak bumi di wilayahnya). Utusan RI pada saat itu, HM Rasjidi dijamu langsung oleh Raja Saudi, Abdul Aziz Ibnu Saud, di istana kerajaan.

Hingga bulan Desember 1949, hanya negara-negara Arab yang mengakui dan mendukung penuh kedaulatan penug bangsa Indonesia. Bukan Eropa, Amerika Serikat atau China.

Aksi “gila-gilaan” yang telah dilakukan oleh rakyat Mesir dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai “Peristiwa Volendam”. Peristiwa Ini terjadi ketika Kapal Perang “Volendam” yang membawa tentara Belanda bersenjata lengkap, berlabuh di Port Said, Mesir, hendak berlayar ke Indonesia, setelah terjadi Agresi Militer Belanda ke-1, 21 Me 1947.

Ketika kapal ini memasuki memasuki pelabuhan, mendadak ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir, yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin, dengan menggunakan puluhan tag boat yang dipasangi bendera kebangsaan RI, sang Dwi Warna, Merah Putih, memblokade jalan-jalan masuk ke Port Said agar Kapal Volendam dan kapal Belanda lain, termasuk kapal Inggris, tidak bisa memasuki pelabuhan dan berlayar menuju ke Suez. Blokade ini bahkan berlaku juga bagi kapal lain yang hendak menyuplai kebutuhan Kapal Volendam.

Akhirnya, dengan sebuah kapal boat besar, dijaga oleh 20 orang polisi di bawah pimpinan Blackfield, Konsul Belanda asal Inggris, bersama direktur pengurus kapal Belanda di Port Said. Namun mendadak terjadi perlawanan: ribuan orang Mesir meneriaki dan melempari batu ke arah kapal tersebut.

Menurut wartawan Koran Al-Balagh tanggal 10 Agustus 1947: “Para buruh pelabuhan mengejar kapal Belanda tersebut dengan kapal motor sementara ribuan orang di darat, termasuk wanita dan anak-anak meneriaki dan melempari batu ke arah kapal Belanda yang dikawal polisi tersebut. Anggota kepolisian pelabuhan yang berkebangsaan Mesir, tidak mau menembak walau telah diperintahkan oleh orang Inggris komandannya.

Para buruh pelabuhan tersebut sebagian bahkan berhasil naik ke kapal motor penyuplai, lalu menahan juru mudi dan awak kapalnya, kemudian membelokkan arah kapal, sehingga menjauh dari Volendam.” Peristiwa Ini terjadi pada tanggal 10 Agustus 1947.*

Guru SMP Lukman al – Hakim Surabaya
 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Jejak Intelektual Muslim dan  Ulama  Membangun Indonesia [1]

Jejak Intelektual Muslim dan Ulama Membangun Indonesia [1]

Catatan Panjang Penghinaan Agama (2)

Catatan Panjang Penghinaan Agama (2)

Kisah Kaum Merah Pemecah Belah: Belah Bambu Tempo Doeloe

Kisah Kaum Merah Pemecah Belah: Belah Bambu Tempo Doeloe

Kisah Tentang Nabi-Nabi Palsu

Kisah Tentang Nabi-Nabi Palsu

Rihlah Ibn Jubair

Rihlah Ibn Jubair

Baca Juga

Berita Lainnya