Kamis, 9 Desember 2021 / 4 Jumadil Awwal 1443 H

Sejarah

Peran Majalah Islam dalam Pembaharuan Islam di Indonesia

Bagikan:

Peran media Islam dalam pembaharuan di Indonesia sangat signifikan. Bukan saja menanamkan nilai-nilai keislaman, bahkan membangkitkan umat  melawan penjajah

Hidayatullah.com | DALAM sejarah pembaharuan Islam di Indonesia, peran majalah Islam tidaklah bisa diabaikan, bahkan sangatlah signifikan. Bila dibaca secara cermat, golongan-golongan reformis di Indonesia seperti Haji Rasul (Syekh Abdul Karim Amrullah dkk), Syekh Ahmad Syurkati, KH. Ahmad Dahlan dan A. Hassan misalnya, terpengaruh dengan paham pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di antaranya karena peranan majalah Islam.

Dalam buku “Ayahku” (1982: 93-111) karya Buya Hamka, disebutkan tajuk menarik mengenai mengalirnya pembaharuan Islam ke Indonesia. Di antaranya adalah melalui pengaruh bacaan majalah. Majalah pelopor adalah Al-Urwatul Wutsqa yang diterbitkan oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abdu di Prancis.

Edisi pertama terbit pada 13 Maret 1984 (Jumadil Ula, 1301 H) dan hanya terbit 18 edisi saja sampai bulan Dzulhijjah tahun 1301 H. Karena majalah ini membawa semangat pembaharuan, menentang penjajahan, dan mengobarkan kebangkitan, maka di banyak negara penjajahan majalah ini dilarang keras. Oleh karena itu, untuk mendapatkannya kadang dengan cara sembunyi-sembunyi.

Setelah itu, Rasyid Ridha bersama Muhammad Abduh kemudian menerbitkan majalah Al-Manar pada tahun 1315 H (1898 H). Majalah ini boleh dikatakan sebagai penyambung majalah Al-Urwatul Wutsqa. Hanya saja, lebih lengkap dan menyajikan pandangan-pandangan baru seputar pemahaman keislaman. Dengan berbagai tantangan dan rintangannya, majalah ini bisa terbit selama 18 tahun (1898-1937).

Majalah yang juga memasukkan spirit pembaharuan dan dipengaruhi oleh Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar adalah : Majalah Al-Imam (1906-1909). Didirikan oleh seorang keturunan Arab yang tinggal di Singapura yaitu Syekh Muhammad bin Salim Alkalali yang berkawan dengan Syekh Thahir Jalaluddin (yang baru lulus dari Al-Azhar Mesir). Majalah ini terbit pertama kali pada Jumadil Akhir 1324 H (1906).

Syekh Thahir Jalaluddin (sahabat Syekh Rasyid Ridha) ini adalah termasuk guru Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) yang termasuk pengusung pemahaman pembaharuan atau kaum muda.

Mengingat majalah Al-Imam sudah tak terbit lagi, maka diterbitkanlah majalah Al-Munir yang juga membawa spirit pembaharuan. Awal mula majalah ini terbit adalah pada 1 April 1911. Untuk membantu penulisan di majalah Al-Munir, Haji Rasul akhirnya pindah ke Padang atas permintaan Abdullah Ahmad. Di kota ini, beliau mengajar sembari membatu penulisan di Al-Munir. Menurut catatan Hamka, majalah ini tersebar luas di seluruh Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Malaya.

Masih dalam buku yang sama (1982: 101), Hamka menyebut bahwa salah satu pelanggan tetap majalah Al-Munir di Jogjakarta adalah KH. Ahmad Dachlan. Sebelum Al-Munir, KH. Ahmad Daclan juga rajin membaca majalah Al-Manar.

Tak mengherankan ketika H. Hussein Badjerei dalam bukunya “Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” (1996: 28) mengisahkan cerita menarik terkait pertemuan Syekh Ahmad Syurkati dengan KH. Ahmad Dachlan.

Berikut kisahnya, “Pada tahun 1912 Ahmad Surkati mengadakan perjalanan ke kota Soli untuk mengunjungi sahabatnya di sana, Awad Sungkar Al-Urmei. Dalam perjalanan dengan kereta api inilah Ahmad  Surkati berkenalan dengan seorang “pribumi” yang asyik membaca majalah Al-Manar. Tentu saja sebagai pendukung pemikiran ‘Abduh, Surkati kagum pada orang itu yang mampu membaca literatur Arab. Orang itu ternyata Ahmad Dahlan. Terbukalah komunikasi antara mereka berdua sepanjjang perjalanan, dan kian akrab setelah perjalanan itu. Kedua tokoh ini seringkali bertukar fikiran dan akhirnya sampailah mereka kepada suatu kesimpulan yang mengandung tekad mereka berdua, yaitu untuk sama-sama mengambangkan pemikiran ‘Abduh di Indonesia.”

Dalam sejarah, diketahui bahwa KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sedangkan Syurkati mendirikan Al-Irsyad. Semuanya  awalnya terpengaruh dengan pemikiran tokoh pembaharu seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abdu dan Rasyid Ridha yang mana pemikiran-pemikiran mereka diterima melalui majalah-majalah yang diterbitkan.

Rupanya tokoh-tokoh ini, untuk mendukung pemikiran kaum muda atau golongan reformis diterbitkan pula majalah. Misalnya Al-Irsyad Surabaya pada 1920-1921, menerbitkan majalah As Salam dan Al-Irsyad. Hal ini bisa dibaca dalam buku “Syaikh Ahmad Syurkati 1874-1943; Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia.” (1999: 22).

Sedangkan KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1915 menerbitkan majalah juga yang bernama “Suara Muhammadiyah” yang tujuannya, selain meneruskan pikiran pembaharuan, juga melaksanakan dakwah islamiyah amar ma’ruf nahi mungkar. Menurut catatan Dr. Haidar Nashir dalam “Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan” (2010: 122), awalnya majalah ini ditulis dengan bahasa Jawa, kemudian diubah ke bahasa Melayu.

Demikian pula dengan A. Hassan, Guru Utama Persatuan Islam (Persis). Pemikiran pembaharuannya sejak di Singapura hingga akhirnya bergabung dengan PERSIS, di antaranya juga berawal dari bacaan majalah tokoh pembaharu.

Dalam buku “Riwayat Hidup A. Hassan” (1980: 110) karya Tamar Djaja disebutkan tulisan menarik dari Deliar Noer mengenai pengaruh bacaan Tuan A. Hassan saat di Singapura. Di antara bacaan yang mempengaruhi beliau adalah majalah Al-Manar (sekitar tahun 1906/1907) di mana ipar A. Hassan, A. Gani berlangganan majalah Al-Manar, terbitan Mesir. Saat itu, A. Hassan juga membacanya, meski belum sepenuhnya mengerti.

Selanjutnya adalah majalah Al-Imam yang awalnya dipimpin Syekh Al-Hadi, kemudian Syekh Thahir Jalaluddin dan akhirnya oleh Haji Abbas Al-Imam. Syekh Thahir Jalaluddin ini sepengatahuan A. Hassan oleh kalangan tua, dikenal sebagai “pengubah agama” karena membawa pemahaman baru kaum muda, karenanya tidak disukai oleh golongan tua.

Mengingat  majalah Al-Imam terbit tahun 1906-1909, maka diperkirakan usia A. Hassan saat membaca majalah ini sekitar 19-22 tahun. Dan kelak, saat beliau terjun dalam gerakan pembaharuan bersama Persis, beliau dengan Natsir dan kawan-kawan, mendirikan majalah yang sedikit banyak terpengaruh dengan majalah bercorak pembaharuan seperti Al-Manar dan Al-Imam ini. Diterbitkanlah majalah Pembela Islam (1929), Al-Lisan (1935) bahkan kelak Al-Muslimun (1954) oleh putranya: Abdul Qadir Hassan.

Dari fakta-fakta tersebut, nyatalah bahwa peran majalah Islam dalam pembaharuan di Indonesia sangat signifikan. Bila dilihat dari fungsi dan perannya, bukan saja menanamkan nilai-nilai pembaharuan dan keislaman saja, tapi lebih dari itu juga sebagai pemantik kesadaran dan kebangkitan umat yang kala itu yang sedang berada dalam cengkraman penjajah. Sebagai pendahulu, para tokoh pembaharu di nusantara sudah menyontohkan dengan baik peran majalah dalam perubahan. Lalu, bagaimana peran generasi selanjutnya dalam mengambangkan peran majalah Islam?*/Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Ramadhan dan Sejarah Al-Azhar

Ramadhan dan Sejarah Al-Azhar

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin yang Adil [2]

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin yang Adil [2]

74 Tahun Raja Arab Saudi Mengakui Kemerdekaan Indonesia

74 Tahun Raja Arab Saudi Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Eksotisme dan Geliat Dakwah di Papua

Eksotisme dan Geliat Dakwah di Papua

Hamid Algadri dan Sumbangsih Keturunan Arab pada NKRI

Hamid Algadri dan Sumbangsih Keturunan Arab pada NKRI

Baca Juga

Berita Lainnya