Sabtu, 16 Oktober 2021 / 9 Rabiul Awwal 1443 H

Sejarah

Pemikiran Syeikh Nuruddin Ar Raniry dan Kontribusinya dalam Pembaruan Peradaban Aceh

Syeikh Nuruddin Ar Raniry
Syeikh Nuruddin Ar Raniry
Bagikan:

Oleh: Arri Fadli Gunawan

Hidayatullah.com | SYEIKH Nuruddin Ar Raniry memiliki nama lengkap Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi. Beliau dilahirkan  kira – kira pada abad ke 16 Masehi di daerah Ranir (Rander) yang merupakan kota pelabuhan tua di pantai  Gujarat (India), dan wafat pada 22 Dzulhijjah 1096 H / 21 September 1658 M di India . Nama panggilan beliau Ar Raniry sesuai tempat beliau dilahirkan. Beliau menganut aliran Ahlusunnah wal jamaa’ah dan dalam ilmu fiqh beliau bermazhab Imam syafi’i.

Beliau merupakan ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II). Pendidikan beliau dimulai di tanah kelahirannya yaitu Ranir, kemudian lanjut ke Hadramaut, setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya ke wilayah Tarim (Arab selatan). Dan pada tahun 1030 H (1582 M) beliau berangkat  ke Makkah untuk menjalani ibadah Haji serta melakukan ziarah ke Madinah .

Di Ranir beliau melakukan pendidikan pertamanya, beliau belajar ilmu agama. Setelah itu dilanjutkan ke Hadramaut dan berguru kepada Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syayban al-Tarimi al- Hadhrami,biasa dipanggil Sayyid Umar Al-Laydrus yang bermadzhab ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, sedangkan dari segi keilmuan fiqih, beliau menganut madzhab Imam Al –Syafi’i.

Kemudian ada guru lainnya yaitu  Abu Nafs Sayyid Imam bin Abdullah bin Syaiban yaitu merupakan tokoh dari Tarekat Rifa’iyah, yang juga keturunan Hadramaut . Setelah beliau mempelajari ilmu-ilmu islam yang ia kaji di Ranir, Hadramaut, Makkah , serta Madinah.

Pada tanggal 6 Muharam 1047 H (31 Mei 1637 M) Syeikh Nurudin Ar Raniry tiba di Nanggroe Aceh Darussalam untuk menyusul jejak pamannya yaitu Syeikh Muhammad Jaylani bin Hasan Muhammad Hamid Al Raniry yang terlebih dulu tiba di Aceh yang  pada tahun 1588 M. Untuk diketahui bahwasanya Syeikh Nuruddin Al Raniry datang  ke Aceh sebanyak 2 kali.

Pada kedatangan pertama beliau tidak lama tinggal di Aceh dikarenakan buruk nya penerimaan Syeikh Nurudin Al Raniry pada saat itu pada masyarakat dan tokoh-tokoh aliran Wujudiyah, karena pada saat itu masyarakat aceh masih mengenal paham aliran wujudiyah . Lalu pada kedatangan kedua pada tahun 1637 M Syeikh Nurudin Al Raniry tiba dan bertepatan wafatnya Sultan Iskandar Muda yang menjadi raja Kerajaan Aceh. Lalu digantikan oleh sultan Iskandar Tsani . Pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Tsani inilah Syeikh Nurudin Al Raniry diangkat menjadi Mufti Kerajaan Aceh Darussalam. (Muhammad Fayrus, ‘Nuruddin Ar-Raniry: Kajian Pemikiran Tokoh Muslim Indonesia’, Siasat, 4.2 (2019), 15–23).

Peranan Nurudin Ar Raniry di Aceh

Nurudin Ar Raniry melakukan pembaruan setelah mendapat kepercayaan oleh Sultan Iskandar Tsani yang pada saat itu memerintah, dan beliau mendapatkan kesempatan baik untuk menentang ajaran wujudiyyah Hamzah Fansuri yang saat itu menjadi pemeluk masyarakat Aceh. Nuruddin Ar Raniry tinggal di Aceh selama tujuh tahun sebagai ulama, penulis, serta penentang ajaran wujudiyyah.

Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat pada tahun 1641 M dan digantikan oleh permaisurinya yaitu Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah binti Sultan Meukuta Alam Iskandar Muda, yang memerintah Aceh sekitar 34 tahun lamanya. Pada masa inilah, Nuruddin Ar Raniry menulis buku khusus untuk menganalisa ajaran wujudiyyah Hamzah Fansury dan muridnya Syamsuddin as-Sumatrani yang berjudul Tibyan fi Ma’rifah al-Dyan. Karena pembaruan utamanya di Aceh ialah memberantas aliran wujudiyyah yang menurutnya sesat.

Nuruddin Ar Raniry sangat berperan penting pada saat keberhasilannya memipin ulama Aceh dan menghancurkan ajaran tasawuf falsafi oleh Hamzah Fansuri. Beliau merupakan tokoh ulama sufi anti-ajaran wujudiyyah,karena ajaran tersebut dinilai dapat dikhawatirkan akan memicu kerusakan akidah umat Islam awam yang pada saat itu baru memeluknya.

Beliau juga mengemukakan fatwa pengkafiran  aliran wujudiyyah pada saat aktifitas berkhutbahnya dan tertulis juga  pada buku- buku beliau yaitu  Tibyan fi Ma’rifah al-Dyan, Hill Al-Zill, Jawahir Al-Ulum fi Kasyf Al-Ma’lum, Ma’al- Hayah li Ahl Al –Mamat, Hujjat al-Shiddiq li Daf’il al- Zindiq dan lain sebagainya.

Selain membasmi ajaran wujudiyyah, peran dan konstribusi Nurudin Ar Raniry dalam kemajuan peradaban Aceh ialah menetapkan hukum Islam di Aceh.  Nurudin Ar Raniry beserta tokoh ulama lainnya di Aceh yang telah menjadi pelopor tegaknya syariat Islam. (Musyaffa Musyaffa, Pemikiran Dan Gerakan Dakwah Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, Jurnal Ilmiah Syi’ar, 18.1 (2018), 72–89).

Penulis Mahasiswa Pendidikan Agama Islam  Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Beberapa Alasan Turunnya Nubuwah di Hijaz

Ruhul Islam Sultan Abdul Hamid II (bagian 2)

Ruhul Islam Sultan Abdul Hamid II (bagian 2)

Mamalik Bahriyah, “Pasukan Elit” yang Pelajari Al Qur`an dan Fiqih

Mamalik Bahriyah, “Pasukan Elit” yang Pelajari Al Qur`an dan Fiqih

poligami indonesia

Beda Kelompok Partai Nasional Indonesia dan Masyumi dalam Praktik Poligami 

Hasan al Banna, Ikhwanul Muslimin dan Nasionalisme

Hasan al Banna, Ikhwanul Muslimin dan Nasionalisme

Baca Juga

Berita Lainnya