Senin, 6 Desember 2021 / 30 Rabiul Akhir 1443 H

Sejarah

Ummu Haram, Mujahidah Pertama yang Syahid di Samudera

Bagikan:

Hidayatullah.com | TAHUKAH Anda siapa Muslimah pertama yang berjihad di samudera itu? Dialah Ummu Haram bint Milhan ibn Khalid ibn Zaid ibn Haram ibn Jundub ibn Amir ibn Ganam ibn Adi ibn Najjar radhiyallahu ‘anha. Beliau seorang perempuan Anshar yang berasal dari Suku Najjar dan lebih dulu masuk Islam serta berbai’at kepada Rasulullah .

Ummu Haram juga termasuk tokoh perempuan terkemuka karena peran-perannya yang sangat besar. Beliau juga disebut sebagai “syahiidatul bahr” (perempuan syahid di laut) yang selalu merindukan syurga Allah subhanahu wata’ala, sehingga Rasulullah  memberinya kabar gembira bahwa beliau akan mati syahid di jalan Allah ‘azza wa jalla.

Beliau adalah the real wonder woman, Muslimah pertama yang berjihad di samudera, beliau adalah saudari kandung Al-Ghumaisha’ atau yang lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Keduanya termasuk perempuan-perempuan yang mendapat kabar gembira akan masuk Surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang paling menyenangkan.

Beliau juga merupakan bibi seorang sahabat terkemuka, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan setia Rasulullah , yang telah memenuhi seluruh ruang di dunia ini dengan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Ia juga merupakan sahabat yang memiliki keistimewaan tersendiri yang sulit dicari bandingannya.

Ummu Haram memiliki dua saudara kandung yang tergolong kesatria gagah berani dan syuhada, yakni Haram dan Sulaim radhiyallahu ‘anhuma, semuanya putra Milhan. Keduanya ikut dalam Perang Badar dan Uhud, dan terbunuh sebagai syahid dalam tragedi Bi’r Ma’unah.

Putra Ummu Haram, Qais bin ‘Amr bin Qais, dan suaminya, ‘Amr bin Qais bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ikut dalam perang uhud dan gugur sebagai syuhada dalam perang tersebut. Setelah itu, beliau menikah dengan Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dan dikaruniai anak laki-laki yang bernama Muhammad ibn Ubadah ibn Shamit.

Gambaran di atas, menjelaskan bahwa keluarga Ummu Haram adalah keluarga yang sangat agung, sehingga garis-garis keagungannya mencapai permukaan bintang-gemintang yang sangat tinggi. Sebuah keluarga mulia karena memiliki keimanan, keluhuran, keagungan, dan pengorbanannya yang tidak pernah berhenti untuk membela dan menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla.

Keteladanan Ummu Haram  

Ummu Haram adalah perempuan yang hafal al-Qur’an dan banyak meriwayatkan hadits. Haditsnya banyak diriwayatkan oleh suaminya sendiri, Ubadah ibn Shamit, dan kedua keponakannya Ata’ ibn Yasar dan Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah  sangat memuliakan Ummu Haram.

Beliau mengunjungi rumahnya dan Quba’, bahkan terkadang tidur di sana, seperti halnya beliau terkadang juga tidur di rumah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu diceritakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ وَكَانَتْ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمًا فَأَطْعَمَتْهُ وَجَعَلَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ قَالَتْ فَقُلْتُ مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ شَكَّ إِسْحَاقُ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَدَعَا لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقُلْتُ مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَا قَالَ فِي الْأُولَى قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ قَالَ أَنْتِ مِنْ الْأَوَّلِينَ فَرَكِبَتْ الْبَحْرَ فِي زَمَانِ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنْ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ

“Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Yusuf], Telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah], ia mendengar [Anas bin Malik] mengatakan, Rasulullah ﷺ pernah menemui Ummu Haram bint Milhan yang diperistiri oleh ‘Ubadah bin Shamit. Suatu hari beliau ﷺ menemuinya, dan Ummu Haram memberinya makanan dan mencari kutu di kepalanya. kemudian Rasulullah ﷺ tertidur, lantas bangun dan tertawa. Kata Ummu Haram; saya bertanya; ‘Apa yang menjadikanmu tertawa ya Rasulullah?’, Beliau menjawab: “Sekian orang dari umatku diperlihatkan kepadaku dalam keadaan berperang fii sabiilillah, mereka mengarungi permukaan lautan sebagai raja-raja diatas permadani, -atau dengan redaksi- seperti raja-raja diatas permadani “- Ishaq ragu kepastian redaksinya.- Kata Ummu haram; ‘ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menjadikan diriku diantara mereka? ‘ maka Rasulullah ﷺ mendoakan untuknya. Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan kepalanya, kemudian bangun dengan tertawa, maka aku (Ummu Haram) bertanya; ‘Apa yang menjadikan dirimu tertawa ya Rasulullah? ‘ Nabi menjawab; “ada beberapa manusia dari kalangan umatku menjadi pejuang fii sabilillah, ” dan seterusnya sebagaimana diatas. Ummu Haram berkata; ‘ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menjadikan diriku diantara mereka! ‘Nabi bersabda: “engkau termasuk rombongan pejuang yang pertama.” Kemudian Ummu Haram mengarungi lautan di zaman pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dan hewan tunggangannya terpeleset ketika keluar dari lautan, sehingga Ummu Haram terjatuh dan meninggal.” (Hadits Riwayat Bukhari).

Penaklukan Kaum Muslimin di Negeri Qabrus

Bertahun-tahun pasca Rasulullah ﷺ meninggal dunia, pasukan muslimin terus berperang dalam upaya menumpas kekafiran. Perjuangan mereka pun terus berlanjut hingga masa kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Memang pada masa kekhalifahan Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau menentang para tentara kaum muslimin untuk berlayar ke laut.

Namun dalam masa peralihan dan pergantian khalifah ke Utsman Bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau lebih terbuka dan mengizinkan. Itulah kenapa, umat muslim mulai melakukan pengembangan transportasi lewat laut dalam upaya mobilisasi pasukan.

Dalam penaklukan negeri Qabrus, Ummu Haram bint Milhan radhiyallahu ‘anha ikut dalam pasukan yang berjuang pada masa kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu tersebut. Berangkat melalui jalur laut, yang memimpin pasukan angkatan laut tersebut adalah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan.

Mu’awiyah kala itu memang menjabat sebagai Gubernur Syam. Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu memperbolehkan adanya mobilisasi lewat jalur laut kepada Muawiyah dan pasukannya namun dengan syarat bahwa Mu’awiyah harus ikut serta membawa istrinya.

Utsman juga memberikan dorongan untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu. Tujuan kaum muslimin menginvasi Qabrus kala itu hanya satu, yaitu melemahkan tirani dari angkatan laut Byzantium (Romawi) yang dikenal sangat kokoh. Hal ini didasari dari kebutuhan untuk mempertahankan lepas pantai Suriah dan Mesir dari serangan angkatan Laut Byzantium.

Bila pasukan Byzantium dibiarkan lebih lama menguasai laut tanpa pertentangan, maka tak seorangpun dari sepanjang pantai Suriah, Mesir maupun Palestina yang akan selamat. Itulah kenapa, Qabrus menjadi tempat yang strategis dalam upaya menghalau pasukan Byzantium. Berjarak 100 km dari lepas pantai Negeri Syam, pasukan muslimin pun berangkat menuju Qabrus.

Menaiki kapal-kapal layar yang diisi oleh pasukan-pasukan bersenjata, kaum muslimin melakukan penyerangan kepada pulau yang dikuasai oleh armada Byzantium tersebut. Pertarungan cukup sengit. Ini merupakan awal dari benturan kekuatan Arab melawan kekuatan Barat. Namun karena kegigihan kaum muslimin, mereka pun berhasil memukul mundur pasukan Byzantium dan menaklukkan Qabrus.

Mereka adalah angkatan pertama pasukan Muslim yang melakukan perjalanan jihad melalui laut dan kemudian mendarat di Kota Larnaca yang terletak di bagian selatan pulau Qabrus. Pasukan muslim yang menyerbu Qabrus akhirnya berhasil mengalahkan musuh dan bersiap untuk pulang.

Namun sayangnya, Ummu Haram mengalami kecelakaan saat menaiki bighal (hewan hasil kawin silang antara kuda dan keledai). Ummu Haram terjatuh dari hewan yang dikendarainya dan lehernya pun patah yang kemudian menyebabkan Ummu Haram meninggal dunia. Jenazah Ummu Haram lalu dimakamkan di tempat ia mengalami kecelakaan di Qabrus, yaitu sekitar lima kilometer dari kota Larnaca.

Sejak saat itu, makam Ummu Haram bint Milhan pun menjadi tempat tujuan para turis yang berkunjung di Qabrus. Bahkan makam tersebut dianggap sebagai salah satu tempat penting bagi muslim di Qabrus yang sekarang dikenal dengan Pulau Ciprus.

Tak hanya itu, Kerajaan Turki Utsmani juga menghormati makam Ummu Haram dengan membangun sebuah masjid di sebelahnya. Hingga kini, kompleks makam Ummu Haram bint Milhan kemudian dikenal sebagai Hala Sultan Tekke. Menurut buletin bulanan PBB di Ciprus, the Blue Beret Tekke bermakna biara atau tempat ibadah. Dalam konteks Islam, istilah ini identik dengan masjid atau makam. Hala Sultan berarti bibi dari seorang pemimpin atau sultan. Ini konon mengacu pada Rasulullah , walaupun makna kata “bibi” bersifat majas dan tidak menyebabkan mahram.

Kesimpulan

Sebagaimana kita ketahui, peran perempuan bukan hanya sebagai ibu rumah tangga saja, kaum hawa juga dituntut memiliki peran dalam kehidupan masyarakat. Seorang perempuan identik dengan lemah lembut, tetapi ada beberapa perempuan yang kuat dan tangguh serta sangat menginspirasi bagi perempuan lain di dunia ini.

Seperti kisahnya Ummu Haram bint Mihan radhiyallahu ‘anha. Kisah nya sangat menarik agar kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga untuk kehidupan kita. Akhlak nya yang baik yang perlu kita contoh, dengan keteguhan hati nya senantiasa bersama Rasulullah ﷺ  untuk menyebarkan dan membela agama Islam hingga pada akhirnya Islam masih tetap ada sampai sekarang.

Rasulullah ﷺ  menjelaskan kelebihan perempuan Quraisy dalam hadits untuk menjadi pelajaran bagi setiap keluarga muslim, khususnya kaum perempuan.

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik perempuan yang mengendarai unta adalah perempuan shalih dari Quraisy; paling sayang pada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suami pada yang dimilikinya.” (Muttafaq alaih)

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan; “Sabda beliau tentang perempuan yang mengendari unta, merupakan isyarat tentang Arab. Karena mereka adalah orang-orang yang banyak mengendarai unta. Dan sebagaimana yang diketahui bahwa Arab lebih baik dari yang lainnya secara mutlak dan umum. Maka, bisa diambil pelajaran darinya keutamaan perempuan Quraisy secara mutlak di atas seluruh perempuan.”*/Hasibah Ahmad Fuad, mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam STIBA Ar-Raayah Sukabumi

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (2)

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (2)

Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan [2]

Nyai Khoiriyah Hasyim: Ulama Perempuan yang Terlupakan [2]

Hijrah, dari Kejahilan Menuju Ilmu

Hijrah, dari Kejahilan Menuju Ilmu

“Perang” Suriah Dari Masa ke Masa

“Perang” Suriah Dari Masa ke Masa

A. Hassan dalam Pandangan Dr. G.F. Pijper

A. Hassan dalam Pandangan Dr. G.F. Pijper

Baca Juga

Berita Lainnya