Ahad, 26 September 2021 / 18 Safar 1443 H

Sejarah

Beginilah Akhlak Hamka Memaafkan Lawan Politiknya

Hamka
Buya Hamka | Pramoedya Ananta Toer | Presiden Soekarno
Bagikan:

Hidayatullah.com | BANYAK  cara memaafkan orang dari kesalahan sosial maupun politik. Dan cara memaafkan seorang ulama terhadap musuhnya pun tergolong indah. Beginilah cara Hamka memaafkan  kepada lawan politiknya yang begitu santun dan indah.

Presiden Soekarno  pernah ‘menyerang’ ulama besar di  masanya, Buya Hamka.

Bersama Mohammad  Yamin, Soekarno  melalui headline  beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer  melakukan  pembunuhan karakter  atas diri Hamka, namun tak sedikit pun  fokus Hamka  bergeser dalam  menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebab terlalu kuatnya  pribadi Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan. Dua  tahun 4 bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya. Tidak..!

Hamka justru bersyukur bisa masuk  penjara.  Di dalam terali besi itu ia justru punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz Tafsir Al-Qur’an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar.

Baca: Berkunjung ke Museum Buya HAMKA

Lantas, bagaimana  dengan ketiga tokoh tadi? Pramoedya,  Mohammad Yamin dan Soekarno? Ternyata Allah masih  sayang pada mereka. Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno.

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di akhirat. Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di dunia. Di usia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri.

Apakah Hamka menolak?  Tidak!  Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit kekejaman Pramoedya.

Astuti, anak  perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati ulama besar ini. Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.

Saat Mohammad  Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka. Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada ulama besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya.

Baca: Buya Hamka: Agamalah yang Mengisi Pancasila, Bukan Saling Isi Mengisi

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka. Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah. Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Tanggal 16 Juni 1970,  seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek : “Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..” Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.. Di mana? Di mana beliau sekarang?  Dengan pelan dijawab: “Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso..”

Baca: Buya Hamka dan Pesan Ghīrah

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca. Rasa rindunya ingin bertemu dengan tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara.

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno. Untaian do’a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Republik Indonesia.

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu.Begitulah cara Hamka memaafkan kesalahan orang lain padanya.* (sebagaimana dikutip Mohamad Natsir dalam tulisannya yang berjudul, Berpolitiklah Tanpa Kebencian).*

Rep: Akbar Muzakki
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Negarawan yang Selalu Menjaga Wudhu

Negarawan yang Selalu Menjaga Wudhu

Al-Qadhi al-Fadhil, Sosok Penting dalam Perang Salib [1]

Al-Qadhi al-Fadhil, Sosok Penting dalam Perang Salib [1]

Abdul Qadir Jailani: Antara Akidah dan Karamahnya

Abdul Qadir Jailani: Antara Akidah dan Karamahnya

Mantiq Tuan A. Hassan dalam Ilmu Tauhid

Mantiq Tuan A. Hassan dalam Ilmu Tauhid

Soekarno dan Muhammadiyah

Soekarno dan Muhammadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya