Rabu, 7 Juli 2021 / 27 Zulqa'dah 1442 H

Sejarah

Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Roem: Ujung Tombak Diplomasi Perjuangan RI (1)

Bagikan:

Hidayatullah.com | Dikenal sebagai diplomat ulung masa prakemerdekaan hingga Indonesia merdeka. Namanya selalu menyertai dalam sidang-sidang diplomasi dengan pemerintah penjajah. Ia begitu getol dalam membela bangsa dan negaranya. Ternyata Mohammad Roem adalah seorang aktifis pergerakan sejak menjadi pemuda pelajar.

Mohammad Roem dilahirkan di Temanggung 16 Mei 1908, wafat di Jakarta 24 September 1983) adalah anak keenam dari pasangan Dulkarnen Djojosasmito dan Siti Tarbijah. Kepala Desa Klewongan, Parakan,Temanggung ini sangat khas dalam memberi nama kepada anak-anaknya.

Dikutip dari buku Mohamad Roem 70 Tahun Pejuang Perunding, disebutkan,  orangtuanya memberi nama anak-anaknya si sulung Muti’ah. Anak kedua dan berikutnya diberi nama  Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Mohamad Roem, dan Siti Chatidjah.

*Pendidikan dan aktifitas Roem*

Urutan nama anak-anaknya itu menunjukkan kepedulian orangtua Roem –Dulkarnaen Djojosasmito, dan Siti Tarbijah– kepada agamanya. Meskipun, pengetahuannya mengenai Islam tidak terlalu tinggi, tetapi apa yang difahami diterapkannya di dalam kehidupan.

Untuk anak-anaknya, Dulkarnaen mendatangkan seorang guru ngaji untuk mengajari anak-anaknya pengetahuan dan pemahaman mengenai Islam. Ayahnya sangat menekankan pendidikan agamanya.

Baca: Mohammad Roem: Penulis dan Diplomat yang Hebat

Roem menempuh pendidikannya di  Sekolah Rakyat (Volksschool), HIS (Hollandsch Inlandsche School), pada 1924 masuk STOVIA (School ter Opleiding voor Indiesche Arts –Sekolah untuk mendidik dokter pribumi) di Jakarta. Pada 1927, setelah selesai pendidikan di bagian persiapan STOVIA; Roem melanjutkan ke AMS (Algemene Middelbare Scool). Lulus AMS pada 1930, Roem masuk Sekolah Tinggi Kedokteran GHS (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta. Karena dua kali ujian, gagal, Roem berhenti belajar di GHS, dan beristirahat selama dua tahun. Pada 1932, Roem masuk  RHS (Recht Hooge School), dan meraih gelar Mester in the Rechten.

Dalam catatan Majalah Kiblat, No. 14 Tahun XXX, 5-20 Desember 1982,  halaman 44,  Roem disaat belajar atau sekolah masih bisa memanfaatkan waktunya untuk bergiat dan beraktifitas di dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Roem juga aktif dalam Jong Islamieten Bond (JIB) sekaligus dalam organisasi kepanduannya, Natipij (Nationale Indonesische Padvinderij).

Menurut mantan Menteri Muda Penerangan A.R. Baswedan, Natipij merupakan organisasi yang pertama sekali terang-terangan menyebut dirinya sebagai organisasi (Kepanduan) Nasional Indonesia. “Dua tahun sebelum Sumpah Pemuda, Jong Islamieten Bond sudah mendirikan Nationale Indonesische Padvinderij,” kata kakek Gubernur DKI Jakarta, Anies R Baswedan.

Baca: Saat Roem jadi Mendagri, tak Satupun orang Masyumi yang jadi Gubernur

Aktif di JIB sekaligus di dalam PSII, Roem akrab dengan senior pergerakan Islam seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Abdul Muthalib Sangaji, dan H. Agus Salim. Seperti mendapat mentor yang pas dalam pergerakan kebangsaan dan Negara sekaligus agama.

Sebagaimana  H.M. Soedjono Hardjosoediro, S.H., “Haji Agus Salim dan Partai Penjadar”, dalam Panitia Buku Peringatan Seratus Tahun Haji Agus Salim, halaman 161-168,  dijelaskan bahwa perbedaan sikap politik antara cooperative dan noncooperatif, Salim keluar dari PSII dan mendirikan partai politik Penjadar. Roem saat itu masih mahasiswa RHS dan baru berusia 28 tahun ditunjuk menjadi Ketua Centraal Comite Executif  (Lajnah Tanfidziyah) Partai Penjadar. Adapun Ketua Dewan Partai Penyadar ialah Salim, Sangaji, dan lain-lain. Roem terus bersama Salim di Penjadar sampai datang zaman baru, zaman Indonesia merdeka.

Pemikiran Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto selama dalam pergulatan aktifitas sebagai pelajar sekaligus aktifis telah membentuk sikap berpikir Roem, utamanya dalam membentuk pola pikir hukum dan diplomasi.*/Akbar Muzakki (bersambung)

Bahan-bahan dikutip dari buku Mohamad Roem 70 Tahun Pejuang Perunding, Jakarta, Bulan Bintang, 1978, Diplomasi: Ujung Tombak Perjuangan RI

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Haji Sulong Sang Permata Pattani (1895 – 1954) [2]

Haji Sulong Sang Permata Pattani (1895 – 1954) [2]

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (2)

Gerakan Misionaris dan “Pembaratan” Jawa (2)

Jejak PKI Mendompleng Kemerdekaan Indonesia (2)

Jejak PKI Mendompleng Kemerdekaan Indonesia (2)

Kisah Pejabat Publik dan Sikapnya Menjaga diri dari Hal Haram

Kisah Pejabat Publik dan Sikapnya Menjaga diri dari Hal Haram

Ibnu Taimiyah Penolak Logika Yunani

Ibnu Taimiyah Penolak Logika Yunani

Baca Juga

Berita Lainnya