Dompet Dakwah Media

Kemal Attaturk, Orang Amerika Kaya yang Semena-mena Mengubah Nasib Hagia Sophia

Izin Ankara untuk mengungkap mosaik Kristen disambut di Barat dengan gembar-gembor, tetapi warga Turki sendiri tidak pernah mengetahuinya

Kemal Attaturk, Orang Amerika Kaya yang Semena-mena Mengubah Nasib Hagia Sophia
Reuters

Terkait

Hidayatullah.com | PADA awal bulan Juli, Turki dan umat Islam pada umumnya menyaksikan peristiwa bersejarah kembalinya status Hagia Sophia, yang merupakan situs warisan dunia UNESCO, sebagai masjid. Setelah itu, shalat Jum’at perdana sejak 86 tahun telah dilaksanakan pada 24 Juli, ribuan Muslim hadir mengisi Masjid Hagia Sophia dan memenuhi jalanan.

Berbagai tokoh dan ulama dunia mengucapkan selamat dan memuji keputusan Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Penggembalian status Masjid Hagia Sophia tersebut, dari sebelumnya sebagai museum, dilakukan oleh Dewan Negara dengan dukungan mayoritas rakyat Turki. Keputusan tersebut membatalkan dekrit sebelumnya, yang dianggap oleh sebagian orang tidak sah, yang mengubah Masjid Hagia Sophia menjadi museum.

Dengan melakukan hal itu, Turki telah membatalkan keputusan para presiden sebelumnya, yang membentuk Republik Turki Sekuer, termasuk pendiri republik Mustafa Kemal Ataturk; Ismet Inonu, seorang jenderal dan negarawan Turki yang menjabat sebagai presiden kedua Turki dari tahun 1938 hingga 1950; dan Celal Bayar, presiden ketiga Turki yang melayani dari tahun 1950-60.

Delapan dekade kemudian, Presiden Recep Tayyip Erdogan menandatangani keputusan Dewan Negara, dan Hagia Sophia dipindahkan ke direktorat urusan Islam dan dibuka untuk shalat. Sambutan suka cita rakyat Turki dengan kumandang takbir dan tahmid pada shalat Jum’at 24 Juli adalah bukti kerinduan mereka pada masjid yang merupakan wakaf Muhammad Al-Fatih untuk umat Islam tersebut.

Tapi bagaimana sebenarnya Masjid Hagia Sophia menjadi museum? Pada 12 Juni 1929, delapan orang Amerika yang kaya dan terkenal bertemu di Tokatliyan Hotel di Istiklal Street Istanbul. Institut Bizantium Amerika, yang mengubah nasib Masjid, didirikan saat makan malam malam itu. Dalang sebenarnya adalah Thomas Whittemore, seorang sosialita dan akademisi dengan hasrat untuk seni Bizantium.

Whittemore memiliki jejaring sosial mulai dari orang-orang kaya Amerika hingga pangeran Rusia, termasuk pelukis Henri Matisse dan kritikus sastra Gertrude Stein. Whittemore dikenal karena syal kebesaran dan cintanya pada topi. Dia merupakan vegetarian dan penganut Kristen yang religius namun juga homo.

Amerika saat itu sedang menuju masa depresi hebat, dan meski begitu, Whittemore mampu meyakinkan orang kaya Amerika untuk ikut campur pada urusan artefak Bizantium di Istanbul. Dua tahun kemudian, ia dengan sukses mendapatkan izin dari Ankara untuk mengungkap mosaik Kristen Bizantium yang ditutupi di Masjid Hagia Sophia.

Kabinet Turki Sekuler, yang bersemangat menghilangkan banyak atribut Islam, mengeluarkan keputusan pada 7 Juni 1931 untuk pekerjaan tersebut, yang ditandatangani oleh Ataturk dan Inonu. Menurut arsip Institut Bizantium, Joseph Grew, yang saat itu adalah duta besar AS untuk Ankara, memainkan peran sentral dalam mendapatkan otorisasi. Grew dan Ataturk saling kenal dengan baik; dalam rekaman yang sekarang terkenal, mereka bersama-sama berbicara kepada publik Amerika pada tahun 1927 untuk menghadirkan apa yang mereka sebut sebagai “Turki baru”.

Itu juga saat di mana mantan musuh, seperti mantan perdana menteri Yunani, Eleftherios Venizelos, semakin dekat ke Turki. Ankara dan Athena menandatangani perjanjian perdamaian dan kerja sama pada 1930 setelah Venizelos berkunjung ke Turki. Dia kemudian menominasikan Ataturk untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Turki ingin bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa dalam upaya untuk menyeimbangkan hubungan luar negerinya melawan meningkatnya fasisme.

Keputusan Diam-diam

Izin Ankara untuk mengungkap mosaik Kristen disambut di Barat dengan gembar-gembor, tetapi warga Turki sendiri tidak pernah mengetahuinya. Keputusan itu diambil dalam kerahasiaan sedemikian rupa sehingga surat kabar Turki bahkan hanya mengetahuinya dua bulan kemudian, berkat laporan media Amerika New York Times.

Whittemore sendiri mengungkapkan, “Hagia Sophia adalah masjid pada hari saya berbicara dengannya (Kemal Attaturk). Pagi berikutnya, ketika saya pergi ke masjid, ada tanda di pintu yang tertulis dengan tangan Ataturk sendiri. Dikatakan: ‘Museum ditutup untuk perbaikan’.”

Pada hari yang sama, surat kabar Turki memuat laporan tentang dua penerbang Amerika yang terbang dari New York ke Istanbul, dan surat yang dikirim oleh Ataturk kepada presiden AS. Ada komentar dari pejabat lokal terkait yang menggarisbawahi bahwa pekerjaan mengungkap mosaik Kristen yang ditutpi itu tidak akan mengubah status masjid.

Pada tahun pertama itu, Whittemore dan stafnya menemukan mosaik di aula. Tetapi masjid masih terbuka untuk shalat, dan berikutnya adalah masalah sebenarnya: bagaimana mereka melakukan pengukapan mosaik dengan ikon Kristen di dalam masjid?

Ataturk mengundang Whittemore ke kongres bersejarah di Ankara. Dia disambut oleh putri angkat Ataturk, Zehra, yang kemudian meninggal setelah belajar di Inggris dengan melakukan bunuh diri atau diberitakan “jatuh dari kereta” saat dalam perjalanan ke Prancis.

Ataturk bertemu Whittemore dalam pertemuan yang dipublikasikan, di mana dia mendengarkan sarjana Amerika tersebut berbicara tentang mosaik Kristen Bizantium dan mengambil sarannya untuk mengirim Zehra ke Inggris untuk pendidikan bahasa Inggris. Tetapi publikasi pertemuan Ataturk dengan Whittemore itu tidak cukup untuk menaklukkan publik.

Isu tentang pengungkapan itu merajalela, memicu upaya publik lainnya oleh politisi Halil Ethem, salah satu pendiri Institut Bizantium, untuk menenangkan massa. Tampil bersama Whittemore di Masjid Hagia Sophia, Ethem mengatakan bahwa tidak ada yang dirusak di masjid dan bahwa ikon-ikon itu pada awalnya tidak dilarang dalam Islam.

Pengubahan Status

Dokumen resmi pertama yang memulai konversi Masjid Hagia Sophia menjadi museum adalah surat tertanggal 25 Agustus 1934, yang ditulis oleh Menteri Pendidikan Abidin Ozmen saat itu yang diantar ke kantor perdana menteri.

“Setelah semua perintah lisan yang saya terima, dengan ini saya berikan satu salinan dari perintah yang mengharuskan perencanaan untuk menempatkan Masjid Hagia Sophia ke museum,” tulis Ozmen. Perdana Menteri segera membuat komisi dan menyusun daftar tugas dalam waktu dua hari.

Ozmen mengungkapkan rincian pesanan lisan setelah pensiun pada 1949, ketika ia berkunjung ke manajer umum museum Hagia Sophia, Muzaffer Ramazanoglu: “Dikatakan secara akademis, terutama oleh Ataturk, bahwa alih-alih menyimpannya sebagai sesuatu [yang] hanya milik satu agama dan kelas, mengubah Hagia Sophia menjadi museum yang terbuka untuk pengunjung dari semua bangsa dan agama akan cocok. ”

Berita tentang keputusan konversi itu mendarat seperti bom. Semua orang terkejut dan masyarakat menjadi gempar. Sseeorang yang namanya dicantumkan sebagai manajer museum dalam laporan berita bahkan tidak tahu apa yang terjadi.

Keputusan yang tiba-tiba itu bahkan dikritik oleh surat kabar harian pro-Ataturk Cumhuriyet di sebuah artikel halaman depan: “Kita harus mengakui bahwa kita terus menjadi heran ketika kita membaca surat kabar, yang melaporkan bahwa Hagia Sophia akan diatur sebagai museum. Kami terus bertanya pada diri sendiri pertanyaan ini: museum apa? Hagia Sophia sendiri adalah bangunan yang paling indah, dan bahkania sendiri adalah monumen sejarah yang lebih baik. Kami tidak dapat memahami konversi situs ini menjadi museum.”

Pesan ke Barat

Keputusan kabinet pun mengikuti. Pada 24 November 1934, kabinet memutuskan bahwa mengubah Hagia Sophia menjadi museum akan membuat seluruh dunia timur bahagia, memberikan lembaga pendidikan lain kepada umat manusia.

Ada banyak teori tentang motivasi apa yang menyebabkan konversi. Yildiray Ogur yang essaynya dimuat oleh Middle East Eye, mengungkap bahwa beberapa mengatakan konversi itu adalah pesan ke AS, dan secara umum ke Barat, bahwa rezim baru di Turki adalah sekuler dan damai. Yang lain mengklaim bahwa itu adalah isyarat untuk Pakta Balkan, yang ditandatangani tahun itu dengan Yunani, Yugoslavia, dan Rumania.

Whittemore, sementara itu, melanjutkan pekerjaannya sampai akhir tahun 1940-an, mengungkap mosaik lainnya di Gereja Chora di Istanbul setelah menyelesaikan tugasnya di Hagia Sophia. Dia meninggal di Washington pada tahun 1950 dalam perjalanannya ke Departemen Luar Negeri untuk bertemu Allan Dulles, direktur CIA sipil pertama. Beberapa mengklaim bahwa Whittemore juga merupakan seorang sumber intelijen. Dia memegang album gambar mosaik Hagia Sophia ketika dia meninggal.

Apa pun alasannya, keputusan untuk mengubah bangunan yang penting bagi kehidupan keagamaan dan sosial Istanbul, yang telah berfungsi sebagai masjid selama lebih dari empat abad, tanpa masukan dari luar datang sebagai kegemparan, dan menyebabkan trauma di antara segmen keagamaan masyarakat.

Hanya karena pemimpin sekuler negara menganggapnya pantas, masjid terbesar Istanbul diubah menjadi museum dalam semalam. Suara publik dan media tidak didengarkan, dan negara, tanpa mempertanyakan apa pun, menggunakan semua sumber dayanya untuk mewujudkan konversi.

Itulah mengapa telah lama menjadi impian yang menggairahkan bagi umat Islam, khusunya Turki, untuk membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid.* Fida’ A.

Rep: Admin Hidcom

Editor: Rofi' Munawwar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !