Jakarta dan Islam

Jakarta jadi benteng Islam tak terkalahkan. Asal masyarakat meningkatkan iman dan takwanya sebagai rasa syukur kepada Sang Khalik

Jakarta dan Islam
zulkarnain/hidayatullah.com
Jamaah membaca doa qunut nazilah dalam shalat subuh berjamaah pada Aksi Bela Palestina di Lapangan Medan Merdeka Monas, Jakarta, Ahad (17/12/2017).

Terkait

Hidayatullah.com | BARU saja Ibu kota Negara RI yang bernama Jakarta ini memperingati ulang tahunnya. Tepatnya pada 22 Juni 1527 sebagai pijakan, yang bertepatan pula dengan momentum bangsa Indonesia menyiapkan proklamasi kemerdekaan dengan disahkannya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 dalam siding BPUPKI.

Ada apa dengan Jakarta dan rakyatnya yang selalu beririsan dengan budaya Islam?

Jakarta tak bisa dilepaskan dengan budaya Islam. Dan Jakarta adalah benteng Islam, sejak dahulu kala.

Sebagaimana dikutip oleh Wikipedia. Nama Jakarta sudah digunakan sejak masa pendudukan Jepang tahun 1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905. Nama “Jakarta” merupakan kependekan dari kata Jayakarta (aksara Dewanagari: जयकृत), yaitu nama dari Bahasa Sanskerta yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527 dari Portugis. Nama ini diterjemahkan sebagai “Kota Kemenangan” atau “Kota Kejayaan”, namun sejatinya berarti “Kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha” karena berasal dari dua kata Sanskerta yaitu Jaya (जय) yang berarti “kemenangan”[16] dan Karta (कृत) yang berarti “dicapai”.

Pelabuhan Sunda Kelapa abad ke-12, saat ini melayani kerajaan Sunda Pajajaran dekat Bogor sekarang. Orang-orang Eropa pertama yang datang adalah Portugis, yang diberi izin oleh Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran untuk mendirikan sebuah kerajaan pada tahun 1522. Penguasaannya masih kuat di tangan lokal, dan pada tahun 1527 kota ini ditaklukkan oleh Pangeran Fatahillah, seorang pangeran Muslim dari Cirebon, yang berganti nama menjadi Jayakarta.

Namun, pada akhir abad ke-16, Belanda (yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen) telah diambil alih dari kota pelabuhan, dan benteng Inggris yang bersaing pada tahun 1619 mengamankan pegang mereka di Pulau Jawa.

Namun semenjak pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai oleh Fatahillah di tahun 1527, namanya diubah menjadi ‘Jayakarta’. Orang Barat yang singgah menyebut kota ini dengan nama ‘Jacatra’. Sampai 1619 orang Belanda masih menyebut dengan nama itu.

Akan tetapi sejak Jan Pieterszoon Coen dengan membawa 1.000 pasukan menyerang Kerajaan Banten dan menghancurkan Jayakarta pada 1619, praktis kota ini dikuasai Belanda. Melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (Dewan 17) dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), maka pada 4 Maret 1621 namanya diubah menjadi ‘Batavia’.

Di kala Arnold J. Toynbee, ahli sejarah Inggris yang terkenal dengan bukunya A Study of History berkunjung ke Indonesia dan mengadakan ceramah di Universitas Indonesia sekitar tahun 1970-an, ia mendengar adzan  yang berkumandang dari masjid-masjid dan mushala-mushala di seluruh pelosok kota Jakarta. Ia kemudian berkomentar, Jakarta adalah benteng Islam, sebagaimana dikutip Pandji Masjarakat No. 698, 11 Oktober 1991.

Walaupun demikian banyak kendala yang merintangi kaum Muslimin untuk mencapai cita-citanya. Namun Jakarta yang terkenal dengan kota Proklamasi dan kota Adzan bagi Toynbee menandakan ribuah masjid dan mushala. Jakarta tetaplah Benteng Islam dengan banyaknya rakyat yang beragama Islam, masjidnya yang banyak, dan budayanya yang kental dengan budaya Islam.

Islam di Jakarta

Islam berkembang di Jakarta sekitar awal abad ke-15, yaitu saat wilayah ini masih bernama Sunda Kelapa dan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, penyebar agama Islam pertama di wilayah ini adalah Syeikh Hasanuddin (Syeikh Quro) yang datang dari Champa. Ia menikah dengan penduduk setempat dan mendirikan Pondok Pesantren Quro pada tahun 1428 di Tanjungpura, Karawang. Selanjutnya penyebaran juga dilakukan oleh para menak Pajajaran yang telah memeluk Islam, serta para pendatang baik dari wilayah Nusantara lainnya maupun para pedagang muslim asal Cina, Gujarat, atau Arab.

Pemandangan Sunda Kelapa pada tahun 1870: Sumber> Vries, J. J. de: Jaarboek van Batavia en omstreken (Buku Tahunan Batavia) 1927; Batavia-Weltevreden

Menurut penulis sejarah Jakarta Adolf Heuken, masjid tertua di Jakarta yang saat ini masih berdiri ialah Masjid Al-Anshor yang terletak di Jl. Pengukiran II, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dibangun pada pertengahan abad ke-17 oleh komunitas Khoja, yaitu para pedagang muslim India.

Sejak dahulu memang daerah yang kini bernama Jakarta ini memang selalu ramai disinggahi oleh berbagai bangsa di dunia mulai dari Arab, India, Cina, hingga Eropa sehingga campuran budaya, akulturasi, sering terjadi di etnis Betawi. Karena itu banyak pula dari etnis Betawi namun berdarah Arab, atau bahkan Cina.

Ada dua pendapat tentang masuknya Islam ke tanah Betawi. Pertama menyatakan bahwa Islam datang dibawa ke Sunda Kalapa oleh Fatahillah saat dia menaklukan dan mengalahkan Portugis di Sunda Kalapa pada 1527 M. Pendapat kedua, menyatakan bahwa Islam dibawa ke Sunda Kelapa oleh Syeikh Quro pada abad ke 15 M, lebih awal dibandingkan oleh Fatahillah, Ridwan Saidi seorang sejarawan dan budayawan Betawi adalah salah satu tokoh yang mendukung pendapat kedua ini (Kiki, 2011: 29).

Bahkan menurut Ridwan Saidi, setidaknya ada lima fase tentang perkembangan Islam di tanah Betawi (Kiki, 2011: 30):

Pertama, fase awal penyebaran Islam di Betawi dan Sekitarnya (1418-1527 M), oleh Syeikh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpi Dato Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawa Bangke.

Kedua, fase lanjutan penyebaran Islam (1522-1650 M), oleh Fatahillah, Dato Wan, Dato Makhtum, Pangeran Sugiri Kampung Padri, dan Kong Ja’mirin Kampung Marunda.

Ketiga, fase lanjutan kedua penyebaran Islam (1650-1750 M), oleh Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya dan keturunannya yang berbasis di Masjid Al Manshur Jembatan Lima, keturunan dari Pangeran Kadilangu, Demak yang berbasis di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang.

Masjid al Mansur, Jakarta

Keempat, fase perkembangan Islam (1750-sampai awal abad ke-19), oleh Habib Husein Alaydrus Luar Batang dan Syeikh Junaid Al-Betawi, Pekojan.

Kelima, fase kedua perkembangan Islam dari abad ke-19 hingga sekarang.

Kisah yang biasa beredar ialah masuknya Islam dibawa oleh Fatahillah ketika ia menaklukan Sunda Kalapa. Fatahillah sendiri memiliki beberapa nama sebutan antara lain Falatehan, Fadhilah Khan, Ratu Pase, hingga Ratu Sunda Kalapa. Ia lahir di Pasai pada 1490 M (Fadhli HS, 2011: 42).

Atas persetujuan Sultan Trenggono dari Demak, dan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dia berhasil menguasai Sunda Kalapa dan mengubah nama daerah tersebut menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527 M. Sejak saat itu, dengan bantuan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, ia menyebarkan agama Islam di sana (Fadhli HS, 2011: 43).

Islam di Betawi memang memberikan nafas tersendiri yang cukup kuat pada kebudayaan dan beberapa kesenian Betawi. Islam bahkan memberikan identitas sosio-kultural kepada orang Betawi yang dalam kurun waktu yang lama disebut dan menyebut diri mereka sebagai orang Selam. Betawi merupakan mosaik kebudayaan yang memiliki tekstur Islami tanpa kehilangan nuansa tradisionalnya.

Meski demikian perlu kita ingat pula bahwa masyarakat Betawi pun sebenarnya tidak mutlak bersifat homogen, justru kebudayaan Betawi pun cukup beragam bukan hanya dikembangkan oleh mereka yang berdarah Melayu dan Islam, tapi oleh orang-orang Arab, Cina, dan yang beragama Kristen pun juga merupakan pendukung yang kuat kebudayaan Betawi (Saidi, 2004: 218).

Susan Blackburn, penulis buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun bahkan mengungkapkan setidaknya ada dua ciri khas dari etnis Betawi, pertama ialah mereka beragama Islam dan fanatik terhadap agamanya, hal ini kemungkinan akibat berdatangannya para pedagang dan mubaligh dari daerah Arab ke tanah Betawi, selain itu juga bisa jadi akibat tekanan bangsa Eropa yang menjajah mereka.

Kedua yang jadi ciri khas Betawi ialah mereka berbicara dengan bahasa mereka sendiri, hal ini mengagumkan mengingat di wilayah mereka terjadi percampuran berbagai suku bangsa, namun mereka bisa mempertahankan bahasa mereka sendiri (Blackburn, 2011: 90).

Mengidentikkan ciri khas Betawi dengan Islam sebagaimana pendapat Susan Blackburn tentu bukan tanpa alasan. Di Batavia dahulu, Orang Selam adalah sebutan pembeda orang Betawi dari kelompok etnis lain. R. A. Sastradama, seorang turis lokal dari Surakarta yang berkunjung ke Batavia tahun 1870 menuturkan bahwa pendudukan kota itu umumnya menyebut diri orang Selam. Istilah Selam adalah pengucapan lokal untuk kata Islam (Aziz, 2002: 74).

Masjid sebagai pusat keagamaan di abad ke-17 terletak di Jatinegara dan bukan di pusat. Masjid-masjid yang berdiri saat itu selain Masjid Assalafiyah, diantaranya adalah Masjid Al-Atiq yang didirikan pada 1630 M di Kampung Melayu, Masjid Al-Alam pada tahun 1655 M di Cilincing, dan Masjid Alam di Marunda pada 1663 M (Fadhli HS, 2011: 47).

Pemerintah Hindia-Belanda sempat menyudutkan agama Islam, sebagaimana menurut F. de Haan yang dikutip oleh Abdul Aziz, bahwa pemerintah sempat melarang pendirian masjid di Batavia, juga melarang adanya upacara khitanan ataupun pengajian, mereka yang mengadakan kegiatan keagamaan di tempat umum selain agama Kristen maka akan mendapat sanksi berupa penyitaan harta benda (Aziz, 2002: 44).

Saifuddin Amsir selaku nara sumber Konggres Kebudayaan Betawi menyatakan dalam makalahnya bahwa kehilangan tradisi Islam di Betawi sama artinya dengan kehilangan Islam di Jakarta. Apa sebab?

Pertama, dalam perda kebudayaan tersebut, aspek kehidupan beragama masyarakat Betawi dapat terlindungi, dikembangkan dan terus memberikan manfaat, bukan hanya untuk untuk masyarakat Betawi sendiri, tetapi bagi umat Islam dan kehidupan beragama di ibu kota. Ini dikarenakan masyarakat Betawi merupakan masyarakar religius yang identik dengan Islam sehingga masyarakat Betawi dalam melestarikan (khususnya mengembangkan) sepuluh aspek kebudayaan lainnya pasti menjadikan Islam sebagai ruh, referensi atau filter kebudayaan.

Kedua, Penduduk asli Jakarta adalah suku Betawi. Terlepas dari sekian banyak teori dan penelitian tentang apa dan siapa itu Betawi. Cepatnya laju pertumbuhan dan urbanisasi di Jakarta telah membuat orang Betawi sebagai penduduk asli meninggalkan kampung aslinya sendiri.

Masih menurut Saifuddin Amsir, Jakarta dengan menjadi menjadikan kultur tersebut sebagai etos kerja dan kebijakan bagi daerah dan masyarakatnya. Jika ini dapat terwujud, maka Betawi akan terus eksis dan mengakar di masyarakat.. Maka sekali lagi, kehilangan tradisi Islam di Betawi sama artinya dengan kehilangan Islam di Jakarta

KH Firdaus AN dalam bukunya Dosa-dosa yang Tak Boleh Berulang Lagi, menegaskan Jakarta jadi benteng Islam yang tak terkalahkan. Asal saja masyarakat meningkatkan iman dan takwanya sebagai rasa syukur kepada Khaliknya yang telah memberikan kepada bangsa Indonesia nikmat kemerdekaan di Jakarta.*

Rep: Akbar Muzakki

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !