Ahmad Husnan, Membendung Arus Liberal

Buku "Meluruskan Pakar Muslim" adalah satu dari sekian buku yang ia tulis untuk mengkonter pemikiran para tokoh liberal

Ahmad Husnan, Membendung Arus Liberal

Terkait

Hidayatullah.com | SELAIN Dr. H.M Rasjidi, tokoh generasi awal yang mengeritik pemikiran Dr. Nurchlolis Madjid dan Dr. Harun Nasution dalam tulisan-tulisannya adalah Ahmad Husnan, Lc.

Ia lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1940. Pada usia muda, ia pernah ikut bergerilya di hutan Sumatera Barat bersama Moh. Natsir, Burhanuddin Harahap, Sjafrudin Prawiranegara dan tokoh lainnya dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Ini bukan gerakan separatis, karena masih menggunakan kata “Republik Indonesia”. Dan yang paling penting, tujuan PRRI adalah mengoreksi rezim Soekarno yang saat itu mulai berada dalam lingkaran kelompok Komunis.

Bahkan, sebagaimana diceritakan oleh Sjafrudin Prawiranegara, ia dan tokoh-tokoh Masjumi yang ada di Jakarta terancam dibunuh oleh gerombolan aktivis komunis. Karenanya, mereka memilih berhijrah ke hutan di Sumatera.

Ahmad Husnan masih berusia kurang lebih 17 tahun, saat ia menjadi “asisten” para tokoh Masjumi yang ikut dalam PRRI pada tahun 1957. Ia dekat dengan Mohammad Natsir, tokoh yang kemudian merekomendasikannya untuk belajar agama di Pesantren Persatuan Islam (Persis Bangil), Jawa Timur, pada tahun 1962-1967. Teman-teman satu angkatannya, diantaranya adalah Muhammad Thalib (Amir Majelis Mujahidin Indonesia) dan Abdul Wahid Alwi (tokoh senior Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia/DDII).

Atas rekomendasi Moh. Natsir pula, Husnan kemudian melanjutkan ke Universitas Islam Madinah pada tahun 1968-1973. Setamat dari Madinah, ia melanjutkan S2 di Mesir, namun tidak selesai karena sakit. “Saya pulang ke Indonesia karena sakit. Setelah sembuh malah nggak balik lagi ke Mesir, karena menikah,” ujarnya pada penulis saat berkunjung ke rumahnya beberapa tahun silam.

Sepulang dari Mesir, Husnan mengajar di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo. Pesantren yang digagas oleh Ust Abu Bakar Ba’asyir dan Ust Abdullah Sungkar. Selain itu, ia juga aktif sebagai Da’i Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) dan pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Jawa Tengah.

Kiprah selanjutnya, Husnan terlibat aktif dalam mengkonter paham sekular-liberal yang banyak dipropagandakan oleh para cendekiawan seperti Nurcholis Madjid dan Harun Nasution. Bantahan-bantahannya dinilai tajam dan bernas. Atas saran Moh.Natsir, Husnan pernah mengkonter pemikiran Nurcholis Madjid (Cak Nur) dengan menulis buku “Jangan Terjemahkan Al-Qur’an Menurut Versi Injil dan Orientalis”.

Diantara pemikiran Cak Nur yang dibantah oleh Husnan adalah tentang terjemah kalimat ” لا اله الا الله”, yang diterjemahkan oleh Cak Nur menjadi “Tiada tuhan selain Tuhan.” Ini sama dengan terjemahan dalam bahasa Inggris, “there is no any god, but the God”.

Menurut Cak Nur, Allah sama artinya dengan “Ilah”, yang artinya Tuhan. Kata Allah (الله), kata Cak Nur, menggunakan huruf alif lam ma’rifah (definite article), yang asal katanya adalah ilah (Ilah). Huruf Alif lam itu, terangnya, sama dengan “the” dalam bahasa Inggris. Jadi kata “Allah” itu bukan asli begitu, tetapi berasal dari kata “Ilah” yang ditambahi huruf Alif lam.

Pemikiran ini dibantah oleh Husnan. Pertama, Husnan mengutip pendapat Syaikh Abul A’la Al-Maududi yang menyatakan bentuk ma’rifah dari اله adalah الإله، bukan الله.

Husnan lalu menjelaskan, kata Allah dalam Al-Qur’an disebut ulang oleh Allah sebanyak 2679 kali, dan semuanya dalam bentuk mufrad (tunggal), karena memang tidak memiliki tatsniyah (bentuk kedua) dan jama’ (plural), sesuai dengan firman-Nya “Allahu Ahad,” yang berarti Allah Maha Tunggal/Esa.

Ini berbeda dengan kata “Ilah (اله)” yang disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad/tunggal, 2 kali dalam bentuk tatsniyah (الهين), dan 34 kali dalam bentuk jama’ /plural (آلهة).

Sementara kata “Allah” tidak ditemukan satu pun bentuk tatsniyah dan jama’-nya. “Sebagai akibat adanya terjemah yang hanya memperhatikan dari etimologinya dan adanya kesalahan Allah diartikan yang sama dengan ilah yang berarti tuhan, maka nilai tauhid menjadi kabur dan hancur. Karena Allah Yang Maha Esa dengan terjemah tersebut menjadi tidak diakui keesaannya,” tegas Husnan.

Husnan menambahkan, “semua kelemahan mendasar yang menunjukkan kesalahan terjemah dalam persoalan mendasar pada kalimah tauhid tersebut, memberi indikasi adanya kesamaan dengan cara berpikirnya Islam Liberal bahwa dalam persoalan ilaahiyyat masih dapat diijtihadi.”

Dalam hal ini, Husnan juga pernah mengkonter pemikiran Harun Nasution yang menjadikan akal sebagai sumber hukum Islam ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil-dalil yg diajukan oleh Harun Nasution dikuliti oleh Husnan dengan bantahan yang ilmiah. Kepada Harun Nasution, Husnan mengatakan, “Ijtihad memang menggunakan kegiatan berpikir dengan akal. Tetapi tidak semua akal mampu berijtihad…”

Demikianlah kiprah Al-Ustadz Ahmad Husnan, yang sampai akhir hayatnya hidup sederhana dan terus melakukan telaah-telaah ilmiah. Buku “Meluruskan Pakar Muslim” adalah satu dari sekian buku yang ia tulis untuk mengkonter pemikiran para tokoh liberal.* Artawijaya

Rep: Mwr

Editor: Insan Kamil

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !