Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Sejarah

Kenangan Oei Tjoe Tat tentang Mohamad Natsir

Bagikan:

Hidayatullah.com | PADA minggu-minggu awal Juli 1946, di Banten –menurut cerita Oei Tjoe Tat– terjadi kerusuhan besar. Yang disasar pada waktu itu adalah etnis China. Kerusuhan tersebut segera meluas ke beberapa daerah.

Pemicu kerusuhan besar itu adalah tuduhan sepihak kepada etnis China yang sebelum kemerdekaan dianggap pro Belanda dan menjadi agen NICA. Akibat generalisasi ini, banyak sekali keturunan China yang tak bersalah menjadi korban.

Oei sendiri masih merasakan betul dampak buruk dari kejadian itu. Ada perampokan, pembantaian, ribuan orang diduga tewas hangus terbakar bersama rumah-rumahnya. Sementara yang lainnya mati terbunuh. Bahkan banyak pemuda yang disunat secara paksa, dan kaum perempuan dirampas kehormatannya.

Kata Oei, “Pembentukan Komite Penolong Korban Tionghoa (KPKT) oleh SMH (Sin Ming Hui – Organisasi Sosial) yang berhasil meringankan penderitaan orang-orang tak berdosa betul-betul luar biasa bagi saya.”

KPKT bukan saja berhasil menyelamatkan ratusan orang akibat peristiwa Tangerang, tapi juga di tempat lain. Mereka berhasil mengumpulkan uang, bahan makanan, obat-obatan dan perabot rumah sebagai bantuan untuk para pengungsi.

Kerusuhan yang menimbulkan trauma panjang ini berhasil diakhiri setelah diturunkan tim peninjau dan penertiban kekuatan bersenjata di kawasan Tangerang dan sekitarnya oleh TRI dibantu pemuda sukarelawan keturunan Tionghoa. “Di antara Tim Peninjau,” kata Oei, “pimpinan Menpen Moh. Natsir, turut serta beberapa wartawan dan dua utusan SMH, yaitu Oey Kim Sen dan Go King Liong.” (Memoar Oei Tjoe Tat, 1995: 65, 66)

***

Demikianlah sosok Natsir. Beliau bisa bergaul dan peduli dengan siapa saja. Meski, terdapat perbedaan yang tajam dari sisi pemahaman, bahkan agama, dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, misalnya melalui pintu kemanusiaan, beliau bisa sambung dengan orang-orang yang berbeda.

Natsir misalnya, menjalin hubungan baik dengan I.J. Kasimo dan Leimena yang beragama Kristen. Meski berbeda, tapi masih bisa menemukan titik temu untuk menjalin pertemanan.

Nabi Muhammad sendiri, dari sisi hubungan kemanusiaan, tetap menjalin interaksi yang baik dengan orang yang berbeda pandangan dan umat beragama lain. Bahkan, saat meninggal pun baju besi beliau masih tergadai ke orang Yahudi.

Semoga teladan dari Natsir tersebut, bisa diteladani dengan baik di tengah kondisi kebangsaan kita yang hendak dicerai-beraikan oleh pihak yang berkepentingan.*/Mahmud Budi Setiawan

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Jejak Darah Partai Merah (2)

Jejak Darah Partai Merah (2)

MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah [5]

MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah [5]

Shalahuddin al-Ayyubi dan Maulid Nabi

Shalahuddin al-Ayyubi dan Maulid Nabi

Maulid antara Sunni dan Syiah

Maulid antara Sunni dan Syiah

Dalam 16 Hari Zaid bin Tsabit Kuasai Bahasa Ibrani

Dalam 16 Hari Zaid bin Tsabit Kuasai Bahasa Ibrani

Baca Juga

Berita Lainnya