Peran “Para Murid” Al Ghazali dalam Jihad Shalahuddin

Peran “Para Murid” Al Ghazali dalam Jihad Shalahuddin

Terkait

IMAM AL GHAZALI pada waktu itu menyadari kondisi kemunduran umat Islam yang berlanjut dengan penjajahan pasukan Salib. Kemunduran terjadi dalam berbagai hal, terutama berkenaan dengan masalah ruhiyah. Sehingga, Al Ghazali pun melakukan gerakan ishlahiyah (perbaikan), yang ditandai dengan munculnya karya-karya yang berkenaan dengan masalah ruhiyyah, semisal karya besar yang berjudul Ihya Ulumiddin.

Meski Imam Al Ghazali berasal dari Thus, namun gerakan ishlah yang dilakukan telah menyebar ke sebagaian besar dunia Islam kala itu, dimana Al Ghazali melakukan pengembaraan ke Naisabur, Baghdad, Hijaz, Mesir, Syam termasuk Al Quds dan Damaskus (Tarikh Ibni Al Wardi, 2/20).

Di wilayah-wilayah tersebut, Al Ghazali telah menulis banyak karya dan mengajarkan ilmunya. Di Al Quds sendiri Al Ghazali menulis Al Ihya’ (Al Ans Al Jalil fi Tarikh Al Quds wa Al Khalil, 1/299).

Sedangkan Adz Dzahabi menyebutkan bahwa di Damaskus Al Ghazali juga menulis Al Arbain, Al Qisthas, Muhikk An Nadhar, yang berkenaan dengan ushuluddin (Siyar A’lam An Nubala, 19/232). Selama di Damaskus ia juga mengajarkan kitabnya tersebut (Syadzrat Adz Dzahab, 3/383).

Saat tinggal di Damaskus banyak yang menghadiri majelis Al Ghazali, yang saat itu mengajar di Khaniqah Syeikh Nashr Al Maqdisi, yang akhirnya dikenal sebagai madrasah Al Ghazaliyah (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134).

Dari gerakan ishlah yang dilakukan oleh Al Ghazali ini kelak memunculkan profil ulama-ulama rabbani yang memiliki andil besar dalam pembebasan Bait Al Maqdis.

Murid Al Ghazali Menjadi Wazir Imaduddin Zanki

Para murid Imam Al Ghazali yang menyebar di banyak wilayah melanjutkan misi gerakan ishlah, dimana peran mereka mulai terlihat mencolok di masa Imaduddin Zanki, yang merupakan ayah dari Nuruddin Zanki. Saat itu mengangkat Marwan bin Ali Ath Thanzi, murid dari Imam Al Ghazali sebagai wazir, ketika ia berkuasa atas Mosul (Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/295). Dimana saat itu perlawanan terhadap pasukan Salib mulai dilancarkan oleh Daulah Az Zankiyah.

“Murid-murid” Al Ghazali dalam Jihad Nuruddin Zanki

Selain Marwan Ath Thanzi, ada seorang murid yang cukup berpengaruh di wilayah Syam, yakni Jamal Al Islam Abu Hasan Ali As Sulami, dimana Ibnu Asakir berkata mengenai As Sulami,”Telah sampai kepadaku kabar, bahwasannya Al Ghazali berkata,’Aku meninggalkan di Syam seorang pemuda, jika dia berumur panjang maka ia bakal terjadi perkara hebat pada dirinya’”( Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134)

Gerakan ishlah Marwan Ath Thanzi dan As Sulami ini beserta para murid Imam Al Ghazali lainnya memunculkan generasi dari kalangan ulama yang memiliki hubungan langsung dengan gerakan jihad. Diantara ulama itu adalah Al Hafidz Ibnu Asakir, yang merupakan murid dari kedua ulama itu. (lihat, Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 7/295, Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/134).

Ibnu Asakir ini memiliki peran kuat dalam gerakan jihad, dimana ia merupakan penasihat bagi Nuruddin Zanki yang melanjutkan misi jihad sang ayah dalam melawan pasukan Salib. Saat itu, hubungan baik terjalin antara Al Hafidz Ibnu Asakir dengan Nuruddin Zanki, ia pun membangun madrasah hadits untuk Ibnu Asakir, yakni Dar Al Hadits An Nuriyah, yang merupakan dar al hadits yang pertama dibangun di dunia Islam (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/74).

Ibnu Asakir sendiri memiliki karya penting seperti Kitab Al Jihad dan Fadhail Masjid Al Aqsha sebagai dukungan terhadap gerakan jihad waktu itu (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/77).

Sebaliknya, Nuruddin Zanki juga memberi dukungan penuh dalam bidang keilmuan. Disamping mendirikan madrasah, Nuruddin mendukung gerakan pencatatan ilmu. Hal ini terlihat dari proses penulisan kitab Tarikh Dimasyq yang berpuluh-puluh jilid oleh Ibnu Asakir dimana Nuruddin Zanki berharap agar penulisannya bisa selesai, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dalam muqaddimah Tarikh-nya. (Lihat, muqaddimah Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 1/4)

Selain Ibnu Asakir, seorang ulama besar yang dihormati oleh Nuruddin Zanki adalah Quthbuddin An Naisaburi yang mana Nuruddin juga membangun madrasah untuknya, yakni madrasah Al Adiliyah Al Kubra, namun Nuruddin wafat terlebih dahulu sebelum madrasah selesai dibangun (Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/136).

Sedangkan Quthbuddin An Naisaburi sendiri adalah murid dari Umar bin Sahl dan Ahmad bin Yahya yang kedunya merupakan murid Al Ghazali. (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383, Tarikh Ibnu Al Wardi, 2/310.

“Murid-murid” Al Ghazali di Sekitar Shalahuddin

Pasca gerakan Nuruddin Zanki, muncul Shalahuddin Al Ayyubi yang tidak lain merupakan hasil dari didikan Nuruddin. Sebagaimana di masa Nuruddin Zanki, para figur di sekeliling Shalahuddin juga merupakan murid dari para murid Imam Al Ghazali,yang memiliki pengaruh besar terhadap pribadinya.
Al Hafidz Ibnu Asakir disamping berperan menjadi penasehat Nururddin Zanki, setelah ia pun menjadi penasihat Shalahuddin Al Ayyubi, dimana Shalahuddin selalu mengundang ulama ini untuk hadir di setiap pertemuannya dengan para pejabatnya untuk memberikan nasihatnya (Ar Rauhdatain fi Akhbar Ad Daulatain, 1/13).

Selain Al Hafidz Ibnu Asakir,ada pula Al Hafidz As Silafi, ulama Iskandariyah yang sering diminta fatwa oleh Shalahuddin yang juga merupakan guru hadits bagi Shalahuddin Al Ayyubi. As Silafi, disamping termasuk murid dari As Sulami, ia pernah berguru kepada Syeikh Ahmad saudara Imam Al Ghazali yang meringkas Ihya’ Ulumiddin dan keduanya menjalin hubungan yang cukup baik (Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 6/60).

Di sekitar Shalahuddin, adapula ulama yang bernama Najmuddin Al Khubusyani, ulama penasihat Shalahuddin yang memiliki peran besar dalam menumbangkan dinasti Fathimiyah ini merupakan murid dari Ahmad bin Yahya yang juga merupakan murid dari Al Ghazali. Ia juga merupakan ulama yang bertanggung jawab atas madrasah yang Ash Shalahiyah yang dibangun oleh Shalahuddin di samping makam Imam Asy Syafi’i (Husn Al Muhadharah fi Tarikh Al Mishr wa Al Qahirah, 1/406).

Adapun Ibnu Syaddad qadhi militer yang juga penasihat Shalahuddin, yang merupakan guru Shalahuddin di bidang fiqih dan hadits adalah murid dari Najmuddin Abu Manshur Muhammad Ath Thusi, seorang ulama yang merupakan murid Imam Al Ghazali. Ibnu Syaddad sendiri telah menulis untuk Shalahuddin kitab Al Jihad, baik Shalahuddin dan anak-anaknya mempelajari kitab ini dengan baik (lihat, An Nawadir As Sulthaniyah, hal. 51, Siyar A’lam An Nubala, 20/540).

Ada pula ulama yang menuliskan sebuah kitab tentang aqidah untuk Shalahuddin Al Ayyubi, hingga ia sendiri mengajarkan kitab itu kepada anak-anaknya. Penulis kitab itu tidak lain adalah Quthbuddin An Naisaburi, adalah murid dari Umar bin Sahl dan Ahmad bin Yahya yang kedunya merupakan murid Imam Al Ghazali (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383, Tarikh Ibnu Al Wardi, 2/310).

Dengan demikian, tidaklah heran jika profil Imam Al Ghazali memeiliki tempat tersendiri di hati Shalahuddin Al Ayyubi, dimana ia mewakafkan tanah untuk madrasah Al Ghazaliyah di Damaskus, dimana Imam Al Ghazali pernah mengajar ilmu di tempat tersebut (Al Wafi bi Al Wafayat, 29/61).

Dari sini, para murid Imam Al Ghazali memiliki peran cukup penting dalam gerakan jihad, baik di masa Imaduddin Zanki, Nururddin Zanki juga Shalahuddin Al Ayyubi, juga tentu memberi pengaruh terhadap terbentuknya karakter para tokoh gerakan jihad tersebut.

Walhasil, Imam Al Ghazali meski tidak melihat langsung hasil gerakan perbaikan yang ia lakukan, gerakan itu terus berlangsung dan bergulir oleh para muridnya dan munculnya generasi pembebas Al Quds merupakan salah satu dari hasilnya.

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !