Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Sejarah

Baitul Hikmah dan Tragedi Tatar [2]

ilustrasi
Serangan Tentara Mongol
Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Mohammad Ramli

 

Tragedi Tartar

Setelah hampir 6 abad berkuasa, Dinasti Abbasiyah secara perlahan mulai meluntur, pertentangan dan friksi yang terjadi kalangan umat Islam mulai menguat. Cerita kebesaran dan keagungannya berakhir dengan tragis setelah Baghdad luluh-lantak dihancurkan bangsa Mongol pimpinan Hulaghu Khan pada tahun 1258 M.

Hulagu Khan adalah anak dari Tolui dan Sorghaghtani Beki seorang wanita Nasrani. Ia salah satu cucu Genghis Khan, masih bersaudara dengan Arik Boke, Mongke dan Kublai Khan.

Tentara Mongol menyembelih seluruh penduduk dan menyapu Baghdad bersih dari permukaan bumi. Dihancurkanlah segala macam peradaban dan pusaka yang telah dibuat beratus-rastus tahun lamanya. Diangkut kitab-kitab yang telah dikarang oleh ahli ilmu pengetahuan bertahun-tahun lalu dihanyutkan ke dalam Sungai Tigris sehingga berubah menjadi hitam lantaran tinta yang larut. Prof. Dr. Musyrifah Sunanto (Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam.Hal. 179).

Sejarawan Islam, Abdullah Wassaf mengatakan penyiksaan warga kota Baghdad mencapai beberapa ratus ribu orang. Ian Frazier dari majalah The New York Worker mengatakan jumlah rakyat Kota Abbasiyyah yang dibunuh sekitar 200 ribu sampai dengan 1 juta orang.

Diperkirakan, orang-orang Tatar telah membawa kitab-kita bernilai ini ke Ibu Kota Mongol untuk dimanfaatkan. Padahal mereka waktu itu masih dalam terbelakang dalam hal peradaban. Namun, orang-orang tartar sendiri dikenal suka menghancurkan, tidak suka membaca dan tidak ingin belajar hidup hanya untuk memuaskan nafsu syahwat dan kemikmatan semata.

Ketika Pasukan Tartar Mejadikan Buku Para Ulama Sebagai Tempat Penyeberangan

Orang-orang Tatar melemparkan peninggalan Islam ke Sungai Tigris sehingga warna air sungai itu berubah menjadi hitam. Bahkan ada yang mengatakan Pasukan Tatar menyebrangi sungai diatas jilid-jilid buku yang besar dari tepi sungai ke tepi yang lain. Ini puncak kejahatan yang melanggar hak kemanusiaan. (Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Prof. Dr.Raghib As-Sirjani. Hal. 249-250)

Hal yang sama diungkapkan oleh Prof. Dr. Ahmad Salabi, bahwa sesudah Bangsa Tatar memasuki Baghdad dan khalifah terakhir dari kerajaan Bani Abbas yaitu Al-Mu’tashim,  dibunuh oleh Hulaghu Khan dan Kota Baghdad diruntuhkannya maka lenyap dan hancurlah Baitul Hikmah itu. (Tarikh At-Tarbiyah Al-Islamiyah, hal. 173).

Tentang tregadi Baghdad dan Kaum Tatar, Al-Muwaffaq berkata mengenai orang-orang Tartar ini. “Jika kita berbicara mengenai orang-orang Tartar, maka kita seakan-akan membicarakan satu masalah yang menelan masalah yang lain, membicarakan satu kabar menyita habis kabar yang lain, membicarakan sejarah yang seakan menghapus sejarah yang lain, membicarakan satu bencana yang membuat bencana lain terasa kecil, satu kejahatan memenuhi selauruh penjuru dunia.”  (Imam As-Suyuti dalam Kitabnya “Tarikh Khulafa’, hal. 546-547). Allahu Ta’ala A’lam.*

Penulis dan pendidik. Tinggal di Batam

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Benarkah Islam Bertentangan dengan Nasionalime Indonesia?

Benarkah Islam Bertentangan dengan Nasionalime Indonesia?

Keluarga Yasir Teladan Umat dalam Dakwah Islamiyah

Keluarga Yasir Teladan Umat dalam Dakwah Islamiyah

Benarkah Budi Utomo Pelopor Kebangkitan Bangsa? (1)

Benarkah Budi Utomo Pelopor Kebangkitan Bangsa? (1)

Meneladani Sosok Natsir Sebagai Seorang Ayah

Meneladani Sosok Natsir Sebagai Seorang Ayah

Para Penunggang Unta di Benua Kangguru

Para Penunggang Unta di Benua Kangguru

Baca Juga

Berita Lainnya