Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Sejarah

MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah [3]

Kantor Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI)
Bagikan:

Sambungan artikel KEDUA

 

Oleh: Muhammad Cheng Ho

 

Momen itu pun akhirnya datang.

Pada 25 April 1931, seorang yang berinisial “B” (Oey Bee Thay), menghina Nabi Muhammad lewat artikelnya yang dimuat di harian Hoakiau. Ia menulis Nabi Muhammad sebagai, “seorang nabi, jenderal dan legislator yangsangat menyukai wangi-wangian dan seorang yang hampir membunuh diri sendiri dan meninggal dalam keadaan gila.” Nabi Muhammad, lanjutnya, juga seorang yang, “membiarkan pengikut-pengikutnya merampas kafilah untuk menghidupi pengikut-pengikutnya ini” dan“mencintai wanita dan suka berdoa.” Segera setelah artikel ini terbit, orang-orang Islam di Indonesia terutama di Jawa mengadakan rapat-rapat umum untuk menuntut Hoakiau mencabut artikel itu. Tak lama setelah itu, Komite Al Islam di Surabaya segera berdiri.

Menyusul Komite Al Islam di Surabaya, berdiri juga Komite-komite Al-Islam di berbagai kota seperti Bandung, Cilacap, Majalengka, Bangil, dan Banyuwangi. Komite-komite itu segera mengkoordinasikan rapat-rapat protes. Di Palembang Komite Al-Islam memperoleh perhatian dari organisasi-organisasi Islam setempat. Setelah itu rapat-rapat serupa juga digelar di kota-kota lain, di Payakumbuh, Majalengka, Cirebon, Probolinggo, dan Bondowoso yang dihadiri oleh tokoh-tokoh PSII, seperti Tjokrominoto, H. Agus Salim, dan AM. Sangaji sebagai pembicara.

Pada bulan yang sama, muncul lagi artikel yang menghina Nabi Muhammad. Artikel yang ditulis oleh pendeta J.J.Ten Berge dan dimuat di Majalah Studien itu menyebut Nabi Muhammad sebagai, “seorang Arab yang bodoh yang kehidupannya senantiasa berada di dalam pelukan wanita.”.

Rapat-rapat protes kemudian diorganisir untuk mengecam tulisan itu. Di Batavia, rapat umum segera diadakan di Gang Kenari dengan pembicara Tjokroaminoto dan banyak tokoh lain. Di Makasar pada bulan Juli 1931, Komite Al Islam mengadakan rapat terbuka dan di Palembang rapat protes juga diadakan. Pertemuan yang diadakan oleh Comite Central Islam memutuskan melayangkan surat tantangan, untuk debat terbuka ke pendeta Ten Berge. Karena isu SARA ini mulai membesar, polisi akhirnya menyita majalah Studien guna meredam protes umat Islam.

Safrizal Rambe menilai tantangan-tantangan tersebut kemudian digunakan PSII untuk menggabungkan potensi kekuatan umat Islam. PSII dalam hal ini, lanjutnya, dipercaya kembali sebagai organisasi Islam terdepan, karena mungkin protes-protes yang dilayangkan memiliki muatan politik, dan dalam hal ini pengalaman PSII jelas lebih dibandingkan organisasi-organisasi Islam yang lain. Dipicu oleh adanya musuh bersama, ternyata ini membulatkan tekad kalangan umat Islam tuk bersatu. Sehingga jurang perbedaan di antara mereka kian menyempit. Komite Al-Islam Surabaya pun berinisatif mengundang Komite-komite Al-Islam di kota-kota lain.

Konferensi Komite Al-Islam diadakan di Surabaya pada tanggal 25-28 Juni 1931 atas usaha Central komite Al Islam di bawah pimpinan Tokoh PSII Wondoamiseno. [Majalah Pandji islam 5 September 1938 No.25 Tahun 5 hlm.2746]

Konferensi ini membahas isu pemersatu yaitu peristiwa Studien dan Hoakiau sebagai agenda utama. Sampai-sampai komite mendatangkan penulis artikel di majalah tersebut yang telah meminta maaf secara terbuka. Komite menuntut Hoakiau menerbitkan edisi khusus yang berisi permintaan maaf yang kemudian disanggupi surat kabar ini.

Agenda-agenda lain juga diputuskan, seperti mengakui pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh-musuh dari luar , mempererat hubungan kaum muslim baik di Hindia, maupun di luar Hindia Belanda, mempropagandakan pendirian komite Al-Islam, menjaga kesucian, kemurnian, dan ketinggian agama Islam dan mengirim utusan tetap untuk konferensi buruh internasional di Jenewa, menerbitkan media Al Jihad, membentuk Baitul Mal yang dananya diambil dari zakat dan wakaf serta kembali menyelenggarakan kongres Al-Islam setiap tahunnya dan membentuk Comite Central Al Islam.

Sukses mengadakan Konferensi Komite Al-Islam I, PSII selanjutnya menggelar Konferensi Komite Al-Islam II pada tahun 1932. Di konferensi ini, agenda yang dibicarakan hampir sama seperti konferensi I, seperti perbaikan organisasi kongres Al-Islam, penyelenggaraan dana Islam, pengelolaan masjid, aturan-aturan yang menyangkut studi di Mesir dan hubungan konferensi Al-Islam Indonesia dengan umat Islam seluruh dunia. Konferensi ini menjelaskan sasaran yang hendak dituju PSII adalah Pergerakan Al Islam Indonesia. Diharapkan nantinya Pergerakan Al-Islam Indonesia dapat menjadi benteng pertahanan dalam membela Islam, ketika harus terlibat dengan kelompok-kelompok lain.

Dibandingkan dengan konferensi I, konferensi II kurang greget. Tampaknya ini karena menyangkut isu yang dibawa, kalau kongres sebelumnya penghinaan atas Nabi menjadi agenda bersama yang dapat mempersatukan umat, sedangkan isu yang ditawarkan di kongres II sepertinya kurang menarik rasa solidaritas. Dua tahun berjalan, Kongres Al Islam sebagai wadah persatuan organisasi-organisasi Islam, mulai terlihat mundur.

Setelah itu, pada tahun 1933-1937, tak ada kongres Al-Islam. Organisasi-organisasi Islam hanya mementingkan urusan masing-masing. Akibatnya tali persatuan putus dan Centraal Comite Al-Islam mati dengan sendirinya.[Majalah Pandji islam 5 September 1938 No.25 Tahun 5 hlm.2746]

Di tengah kevakuman Kongres Al-Islam, terjadi polemik antara organisasi feminis Isteri Sedar dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Dalam Kongres Kedua Seluruh Perempuan Indonesia tahun 1935, Ketua Persatuan Muslimin Indonesia dari kalangan modernis, Ratna Sari, membalas pernyataan Isteri Sedar yang menganggap poligami memenuhi kebutuhan laki-laki dengan mengorbankan (kebutuhan) perempuan. Menurut Ratna Sari, “poligami memiliki peluang untuk mengurangi prostitusi secara signifikan. Dengan membuka pintu bagi pria untuk memiliki lebih dari seorang istri, Islam telah menyediakan solusi terbaik bagi penyakit masyarakat ini.” [Ratna Sari, Kedudukan Wanita dalam Hukum Islam, dalam Mizan Sya’roni, Ibid, hlm.53 Tentang Isteri Sedar lihat A.K. Pringgodigdo SH, Ibid, hlm. 196-197]

Waktu pasif selama lima tahun rupanya telah menyadarkan organisasi-organisasi Islam akan pentingnya wadah pemersatu. Tokoh Muhammadiyah KH. Mas Mansur merasa prihatin atas konflik yang berlarut-larut.

“Pada beberapa tahun yang sudah, kita gemar berbantah-bantahan, bermusuh-musuhan di antara kita umat Islam. Malahan perbantahan dan permusuhan itu di antara ulama dengan ulama. Sedang yang dibuat perbantahan itu perkara hukum kecil-kecil saja. Adapun timbulnya permusuhan itu, karena kebanyakan kita berpegang kuat pada hukum yang dihukumkan oleh manusia. Sehingga suatu perkara di utara menyatakan sunnah, di selatan menyatakan makruh, di barat menyatakan wajib, di timur menyatakan haram, begitulah seterusnya sehingga umat Islam yang awam dibuat bal-balan oleh ulama kita. Sana benci kepada sini. Sini benci kepada sana.

Kita sekarang bukan hidup pada 25 tahun lalu (sudah), kita sudah bosan, kita sudah payah bermusuh-musuhan. Sedih kita rasakan kalau perbuatan itu timbul daripada ulama, padahal ulama itu semestinya lebih halus budinya, berhati-hati lakunya. Karena ulama itu sudah ditentukan menurut firman Allah: ‘Ulama itu lebih takut pada Allah.’ Karena ulama tentunya lebih paham dan lebih mengerti kepada dosa dan bahayanya bermusuh-musuhan.” [Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Gema Insani:Jakarta, 1996, hlm.18]

Tokoh NU KH. Hasyim Asy’ari juga menunjukkan keprihatinannya. Pada tahun 1935 saat kongres NU ke-11 di Banjarmasin, beliau mengungkapkan:

“….sampailah kepadaku suatu berita, bahwa di antara kamu semuanya sampai kepada masa kini, berkobarlah api fitnah dan pertentangan-pertentangan.

….Wahai ulama-ulama yang telah ta’ashshub kepada setengah madzhab atau setengah qaul (pendapat)! Tinggalkanlah ta’ashshubmu dalam soal-soal ‘furu’ (ranting-ranting) itu! Yang ulama sendiri dalam hal demikian mempunyai dua pendapat. Satu pendapat ialah bahwa setiap orang yang berijitihad adalah benar! Dan satu pendapat lagi: Yang benar hanyalah satu, dan yang salah dapat pahala juga!

Tinggalkanlah ta’ashshub itu dan lepaskanlah diri daripada hawa-nafsu yang merusak itu. Dan belalah agama Islam, berijtihadlah menolak orang-orang yang menghina Al-Qur’an dan sifat-sifat Tuhan. Berjuanglah menolak orang yang mendakwahi ilmu yang sesat dan kepercayaan yang merusak. Dan berjihadlah menghadapi orang-orang yang demikian adalah wajib! Alangkah baiknya jika tenagamu engkau sediakan buat itu.

Wahai seluruh insan! Dihadapanmu sekarang berdirilah orang-orang kafir yang mengingkari Tuhan. Mereka telah memenuhi segala pelosok negeri ini. Siapakah diantara kamu yang bersedia tampil kemuka untuk berbahas dengan mereka dan berusaha menuntun mereka kepada jalan yang benar?

Wahai sekalian ulama! Kejurusan inilah pergunakan ijtihadmu dan dalam lapangan inilah kalau kamu hendak berta’ashshub!

Adapun ta’ashshub kamu pada ranting-ranting agama, dan mendorongkan orang supaya memegang satu madzhab atau satu qaul, tidaklah disukai Allah Ta’ala! Dan tidaklah diridhai oleh Rasulullah SAW. Apatah lagi jika yang mendorongmu berlaku demikian, hanyalah semata-mata ta’ashshub, berebut-rebutan, dan berdengki-dengkian. Sekiranya Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hadjar, dan Ramli masih hidup, niscaya mereka akan sangat menolak perbuatanmu ini.

….Bagaimana perasaanmu! Kamu berkeras membicarakan furu’, jang dipertikaikan oleh ulama, tetapi tidak engkau engkari perbuatan haram yang dilakukan orang, yang ijma’ sekalian ulama atas haramnya, sebagai zina (pelacuran), riba (rente), minum-minuman keras dan lain-lain. Tidak ada cemburumu melihat yang demikian itu. Kamu hanya cemburu pada Syafii dan Ibnu Hajar. Sehingga yang demikian itu menyebabkan pecahnya persatuan kalimahmu dan terputusnya hubungan kasih sayang diantara kamu, sehingga orang bodohlah yang menguasai kamu, sehingga jatuhlah haibah kebesaranmu di hadapan orang awan orang yang rendah budi, yang membicarakan cacat-cela kehormatanmu dengan tiada patut. Sehingga binasalah orang-orang itu karena perkataan mereka membicarakan kamu. Karena dagingmu telah bercampur racun, sebab kamu ulama. Dan kamu telah rusak binasa karena berbuat dosa yang besar!”

Kepada ulama kaum modernis, beliau mengimbau:

”Wahai ulama-ulama! Kalau kamu lihat orang berbuat suatu amalan berdasarkan kepada qaul imam-imam yang boleh ditaqlidi (dituruti), meskipun qaul itu hukumnya marjuh (tidak kuat alasannya), maka jika kamu tidak setuju, janganlah kamu cerca mereka, namun beri petunjuklah dengan halus! Dan jika mereka tidak sudi mengikuti kamu, janganlah mereka dimusuhi. Kalau kamu berbuat demikian, samalah kamu dengan orang yang membangun sebuah istana, dengan menghancurkan lebih dahulu sebuah kota.”

Beliau melanjutkan:

“Janganlah kamu jadikan semuanya itu menjadi sebab buat bercerai-berai, berpecah-belah, bertengkar-tengkar, dan bermusuh-musuhan karena sesungguhnya yang demikian itu adalah melanggar hukum Tuhan dan dosa yang amat besar. Itulah yang menyebabkan runtuh-leburnya bangunan suatu bangsa, sehingga tertutuplah dihadapannya setiap pintu kepada kebajikan. Itulah sebabnya maka dilarang Allah, hamba-Nya yang beriman dari bertengkar-tengkaran… Tuhan berfirman, ‘Dan janganlah kamu bertengkar-tengkaran sehingga gagallah kamu dan hilanglah semangat kekuatanmu.’

….Belum jugakah tiba masanya kita insaf? Belum jugakah tiba masanya kita akan sadar dari kemabukan ini? Dan bangun dari kelalaian kita? Belum jugakah kita mengerti bahwa kemenangan kita semua bergantung kepada bantu-membantu dan persatuan yang padu diantara kita?Disertai oleh bersihnya hati hati sanubari kita diantara satu dengan yang lain?Atau akan kita lanjutkan jugakah perpecahan ini, hina menghinakan, pecah memecah, munafik, pepat di luar pancung di dalam, rasa benci memenuhi hati, dan dengki merusak kawan, dan sesat pusaka lama! Padahal agama kita hanya satu belaka:Islam! Madzhab kita hanya satu belaka:Syafi’i! Daerah kita satu belaka: Jawa (Indonesia –pen)! Dan kita semuanya adalah ahlussunnah wal jamaah belaka.” (Maksudnya, dalam persatuan umat Islam di Indonesia jangan abaikan madzhab mayoritas, yaitu Imam Syafi’i). [KH. Hasyim Asy’ari dengan penerjemah Buya Hamka, Al- Mawaa’izh Sjaich Hasjim Asj’ari, Panji Masyarakat 15 Agustus 1959, hlm.5-6]. (Bersambung)

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

MR Kasman Singodimejo (1904-1982): Pahlawan Nasional Aktivis Muhammadiyah

MR Kasman Singodimejo (1904-1982): Pahlawan Nasional Aktivis Muhammadiyah

Sandal Rasulullah ﷺ

Sandal Rasulullah ﷺ

Syeikh Jamil Jambek, Sang Penentang Hukum Adat

Syeikh Jamil Jambek, Sang Penentang Hukum Adat

“Si Pengganggu” dari Timur dan Penggagas Pan-Islamisme

“Si Pengganggu” dari Timur dan Penggagas Pan-Islamisme

Pesan M Natsir dari Medan Jihad:  Teruslah Mengabdi dan Bergerak Bersama Umat

Pesan M Natsir dari Medan Jihad: Teruslah Mengabdi dan Bergerak Bersama Umat

Baca Juga

Berita Lainnya