Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Sejarah

Suhaib Ar Rumi, Meninggalkan Hartanya Karena Kecintaan pada Islam [2]

ilustrasi
Bagikan:

Lanjutan artikel PERTAMA

SAAT dalam perjalanan dari Makkah menuju Madinah, Suhaib dicegat oleh orang-orang Makkah.

“Wahai Suhaib, engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina, kemudian hartamu menjadi banyak setelah tinggal di daerah kami. Setelah itu terjadilah di antara kita apa yang terjadi (perselisihan karena Islam). Engkau boleh pergi, tapi tidak dengan semua hartamu.” Suhaib pun meninggalkan hartanya tanpa ia pedulikan sedikit pun.

Dia bergegas menuju Madinah dan mencapai Quba. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam melihat Suhaib, beliau sangat gembira dan menyambut Suhaib berkata, Wahai Abu Yahya.

” Perdagangan yang amat menguntungkan, ” ia mengulanginya tiga kali. Wajah Suhaib ini berseri-seri dengan kebahagiaan.

“Suhaib berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang melihat apa yang kualami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jibril yang memberi tahuku.”

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Suhaib tinggal di Madinah membantu orang miskin dan melarat. Saking rajinnya Suhaib dalam bersedakah, sampai-sampai Umar bin Khattab menganggapnya mubadzir (karena sedekahnya dianggap tidak tepat sasaran). Kata Umar, “Wahai Suhaib, aku tidak melihat kekurangan pada dirimu kecuali dalam tiga hal: Engkau menisbatkan diri sebagai orang Arab, padahal logatmu logat Romawi, engkau berkun-yah dengan nama Nabi, dan engkau orang yang mubadzir.”

Suhaib menanggapi, “Aku seorang yang mubadzir? Tidaklah aku berinfak kecuali dalam kebenaran. Adapun kun-yahku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang memberinya. Dan logatku logat Romawi, karena sejak kecil aku ditawan orang-orang Romawi. Sehingga logat mereka sangat berpengaruh padaku.”

Saat Umar wafat, beliau mewasiatkan agar Suhaib yang menjadi imam shalat jenazahnya.
Suhaib berdiri sebagai simbol kesetaraan dalam Islam.

Dia tinggal di Madinah selama lebih dari 30 tahun. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Suhaib wafat di Kota Madinah pada bulan Syawal tahun 38 H. Saat itu usia beliau 70 tahun dan dimakamkan di Baqi’. Semoga Allah merahmatinya dan menempattkannya bersama para salihin. Amin.*/ Dzul Qarnain

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Masuknya Pengaruh VOC di Kesultanan Mataram

Masuknya Pengaruh VOC di Kesultanan Mataram

Sayyidah Aisyah: Muslimah Intelek dan Kritis

Sayyidah Aisyah: Muslimah Intelek dan Kritis

Perang Suriah dan Kisah Pengepungan Kota Madinah [2]

Perang Suriah dan Kisah Pengepungan Kota Madinah [2]

Benarkah Kristen Masuk Indonesia pada Abad VII? [2]

Benarkah Kristen Masuk Indonesia pada Abad VII? [2]

Peradaban Islam Peletak Dasar Teknologi Dirgantara

Peradaban Islam Peletak Dasar Teknologi Dirgantara

Baca Juga

Berita Lainnya