Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Sejarah

Jalan Panjang Maktab Daimi Menelusuri Nasab Alawiyyin

ISTIMEWA
Ahmad Alatas dan 'pohon nasab' keturunan Rasulullah
Bagikan:

Oleh: Raihan Aziz

KEHADIRAN para Habaib (keturunan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wassallam) bukan hal baru bagi umat Islam di Indonesia. Hal itu terbukti dengan keberadaan makam orang-orang yang dipanggil Habib diberbagai daerah. Sampai saat ini, kegiatan pemuka agama yang dipanggil Habib tersebut, banyak bertebaran di kota-kota besar.

Namun, bagaimana mungkin pohon keturunan teridentifikasi dalam rentang waktu 15 abad ? Bukti apa yang bisa menunjukkan keabsahannya? Apakah benar keluarga Nabi Muhammad masih ada?

Serentetan pertanyaan tersebut banyak terlontar ditengah masyarakat. Ada sangsi mengenai pelabelan “Habib”, terutama yang membedakan kualitas pribadinya dengan umat yang bukan berdarah Alawiyyin (sebutan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah dengan NabiMuhammad Shallallhu ‘alaihi Wassallam).

Mari sejenak kita kesampingkan perdebatan pembeda kualitas seorang Habib dibandingkan dengan “manusia biasa” dilihat dari darah keturunanannya.

Kehadiran Maktab Daimi, yayasan pencatatan garis keturunan Rasulullah, banyak dijadikan rujukan terhadap kejelasan garis keturunan tersebut. Lembaga yang bertempat di Gedung Rabithah Alawiyah, Jagakarsa, Jakarta Selatan itu menempuh jalan panjang dalam menelusuri silsilah keturunan.

Ahmad Alattas selaku ketua Maktab Daimi yang ke 10, menjelaskan, sejarah pencatatan tersebut dimulai pada abad 9 H di Hadhramaut, Yaman. Hadramaut merupakan pusat berkumpulnya keturunan Husein-cucu Rasulullah- yang berawal dari Isa al Muhajir setelah hijrah dari Baghdad, Iraq. Akibat imigrasi tersebut, Hadhramaut dipenuhi oleh keturunan Husein.

Hal yang berbeda terjadi dengan keturunan Hasan-cucu Rasulullah lainnya-, yang hijrah ke Maroko. “Kalau keturunan Hasan kebanyakan hijrah ke Maroko dan tidak memiliki banyak keturunan dan qabilah berbanding dengan keturunan Husein,”ulasnya saat ditemui di kantornya, awal September.

Riwayat pencatatan dimulai dari Syeikh Ali bin Abubakar al Sakran, kemudian dilanjutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi al Haddad pada abad 17 H. Kemudian pada abad 18 H diteruskan oleh Sayyid Ali bin Syekh bin Muhammad bin Ali bin Shihab. Runutan pencatatan tersebut menjadi cikal bakal lahirnya buku nasab Alawiyyin di Hadhramaut yang berjumlah 18 jilid.

“Manuscript tersebut sekarang menjadi rujukan Nasab Alawiyyin di Indonesia”, tutur Ahmad sambil menunjukkan salah satu buku Syajarotul Ansab dalam ukuran besar.

Di Indonesia, pencatatan nasab Alawiyyin ini dimulai sejak tahun 1932, yaitu ketika Habib Alwi bin Thahir al Haddad mendirikan Rabithah Alawiyah. Habib Alwi mempunyai inisiatif melakukan pencatatan Alawiyyin yang berada di Indonesia.
Mengakomodir ide tersebut, pada 10 Maret 1932, Maktab Daimi, didirikan. Untuk menjalankan tugas pertama maka ditunjuklah Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf sebagai ketua Maktab Daimi yang pertama dan membentuk tim penelusuran nasab.*/bersambung ..Maktab Daimi Lestarikan Nasab..

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Kabsyah Binti Rafi’: Ibu Sang Pengguncang Arasy ar-Rahman

Kabsyah Binti Rafi’: Ibu Sang Pengguncang Arasy ar-Rahman

Asaduddin Syirkuh; Pahlawan Pemusnah Daulah Syiah Fathimiyah

Asaduddin Syirkuh; Pahlawan Pemusnah Daulah Syiah Fathimiyah

Kegelisahan KH. Isa Anshary Terhadap PKI

Kegelisahan KH. Isa Anshary Terhadap PKI

Eksotisme dan Geliat Dakwah di Papua

Eksotisme dan Geliat Dakwah di Papua

Assassin: Pemburu Maut dari Lembah Alamut (1)

Assassin: Pemburu Maut dari Lembah Alamut (1)

Baca Juga

Berita Lainnya