Sabtu, 25 September 2021 / 17 Safar 1443 H

Sejarah

Satu Abad Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Syeikh Ahmad Surkati, pendiri Al Iryad al-Islamiyah
Bagikan:

Oleh: Abdullah Abubakar Batarfie

BERTEPATAN dengan 6 September organisasi Al-Irsyad Al-Islamiyyah merayakan Milad. Al Irsyad Al-Islamiyah lahir tepat pada 6 September  1914 -2014  oleh Syeikh Ahmad Surkati.

Lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, Dongula negara Sudan, 1292 H atau 1875 M. Ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dari golongan Anshar.

Meski ia bukan seorang pribumi, tapi disetiap dzarrah dari badannya telah berganti menjadi Indonesia.

Kecintaan surkati pada Indonesia agaknya telah tumbuh sejak Ia menginjakan kakinya di Tanah Jawa pada tahun 1911 dan setelah Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke Makkah. Setelah itu nampaknya memang Ia sudah tidak punya niatan untuk meninggalkan Indonesia dan akan menghabiskan sisa hidupnya di Indonesia.Baginya mati di Jawa dengan berjihad lebih suci daripada mati di Makkah tanpa berjihad.

Ahmad Surkati dikenal sebagai salah satu trio mujadid di Indonesia, tokoh yang menggerakan pemurnian dan pembaharuan Islam bersama KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan A.Hassan, tokoh Persatuan Islam (PERSIS). Ketiga tokoh ini dikenal pula dengan sebutan ulama modernis.

Sejarwan Deliar Noor menyatakan bahwa Surkati memainkan peranan penting dalam gerakan pembaharuan ini dan berperan sebagai mufti. Bahkan menurut A.Hassan dirinya dan Dahlan walaupun tidak menerima pelajaran secara teratur, namun beliaulah (Surkati) yang membuka pikirannya sehingga berani membuang prinsip-prinsip yang lama, dan menjadi pemimpin-pemimpin organisasi yang bergerak berdasarkan Al-Kitab dan Al-Sunnah. Bagi A Hassan dan Dahlan, Surkati adalah guru mereka dan guru para ulama modernis lainnya dan karena itu memberinya julukan kepada Surkati sebagai Syaikhul Masyaikh atau gurunya para ulama, khususnya ulama-ulama pembaharu di indonesia.

Ahmad Surkati tiba di Indonesia bersama dua kawannya: Syeikh Muhammad Tayyib al-Maghribi dan Syeikh Muhammad bin Abdulhamid al-Sudani. Di negeri barunya ini, Syeikh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia.

Syeikh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyat al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah), atau disingkat dengan nama Al-Irsyad.

Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia.

Tanggal berdirinya Al-Irsyad Al-Islamiyyah,  mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Sejarawan Belanda G.F. Pijper menyebut “Al-Irsyad adalah gerakan pembaharuan yang punya kesamaan dengan gerakan reformasi di Mesir, sebagaimana dilakukan Muhammad Abduh dan Rashid Ridha lewat Jam’iyat al-Islah wal Irsyad yang didirikannya.

Al-Irsyad berperan penting sebagai pemrakarsa Muktamar Islam I di Cirebon pada 1922 bersama Syarekat Islam dan Muhammadiyah. Dalam kongres itulah Surkati menjadi tokoh utama dalam perdebatan bersama semaun dari Syarekat Islam Merah tentang konsepsi kemerdekaan indonesia dan ejak itu pula, Syeikh Ahmad Surkati bersahabat dekat dengan H. Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto.

Al-Irsyad juga aktif dalam pembentuan MIAI (Majlis Islam ‘A’laa Indonesia) di zaman pendudukan Jepang, Badan Kongres Muslimin Indonesia (BKMI) dan lain-lain, sampai juga pada Masyumi, Badan Kontak Organisasi Islam (BKOI) dan Amal Muslimin.

Menurut Bung Tomo Al-Irsyad adalah gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia. Al-Irsyad turut dalam usaha-usaha didalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda hingga bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Hal senada juga diungkapkan oleh Maskun, ketua Umum Perintis Kemerdekaan Indonesia 1966, bahwa salah satu perjuangan Al-Irsyad adalah juga ikut menentang Imperialisme dan Kolonialisme Belanda

Amaliah Al-Irsyad sebagai sebuah organisasi konsisten ditujukan untuk meningkatkan apresiasi muslim terhadap ajaran Islam. dalam konteks ini Al-Irsyad dengan tokoh centralnya Surkati telah menjadi sumber ilham bagi generasi muda Islam terpelajar yang bangkit secara terorganisir pada tahun 1925 lewat wadah Jong Islamieten Bond (JIB).

Di antara mereka terdapat nama-nama yang tidak dapat dilupakan oleh sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia, ialah Prof. Mr. Kasman Singodimedjo, DR. Mohammad Natsir, Mr. Mohammad Roem, Dll

Ahmad Surkati meninggal dunia pada 6 September 1943 di Jakarta, dan dimakamkan di Pekuburan Karet dengan cara yang sederhana dan tanpa meninggalkan nisan, sesuai dengan amanat beliau. Sukarno ikut mengantarkan jenazahnya dengan berjalan kaki. Menurut Sukarno, Surkati telah ikut mempercepat kemerdekaan Indonesia. Sukarno membrinya gelar pada Surkati dengan sebutan “Abal Ruuh al Djalil”

Mohammad Natsir, pencetus NKRI yang terkenal lewat mosi integralnya, mantan Perdana Menteri RI ini memberikan pengakuan bahwa Surkati adalah salah seorang tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi perjuangannya

Di kemudian hari, pergerakan Al-Irsyad terus berkembang tidak hanya di bidang pendidikan, namun juga selama perjuangan Nusantara pasca kemerdekaan, termasuk andil besar dalam penumpasan pemberontakan G30S PKI. Pelajar Al-Irsyad juga tercatat sebagai tokoh di balik kelahiran KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia) pada 1966.

Tokoh Penting

Al-Irsyad juga dikenal banyak melahirkan tokoh penting kenegaraan, antara lain:

H.M Saleh Suaidy, salah satu tokoh yang dikenal pendorong proklamasi kemerdakaan RI. Beliau juga dikenal sebagai pendiri Partai Masyumi dan pendiri Departemen Agama RI.

Muhammad Yunus Anis yang dikenal sebagai orang kepercayaan TNI sebagai Kepala Pusroh Angkatan Darat Republik Indonesia (Imam Tentara). Beliau juga ditunjuk langsung oleh AH Nasution sebagai salah satu anggota parlemen angkatan pertama Indonesia (DPRGR).

Prof. DR. Rasjidi (bernama asli Saridi), salah seorang murid Syeikh Surkati yang pernah diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika Bahasa Arab karena berhasil menghafalkan buku Alfiyah Ibnu Malik pada usia 15 tahun, juga buku logika Aristoteles berjudul “Matan as Sullam”. Rasjidi diangkat sebagai Menteri Agama RI yang pertama, juga pernah diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk negara-negara Timur Tengah.

Ibu Nurjanah, salah seorang siswi Al-Irsyad yang banyak melahirkan organisasi wanita Islam bertaraf Nasional. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir wanita pertama yang dimiliki Indonesia dan wanita pertama yang berani menyuarakan ayat-ayat Al-Qur’an di radio NIROM (sekarang RRI) pada masa penjajahan Jepang. Beliau pula tokoh pencetus Musbaqoh Al-Qur’an (MTQ).

KH Farid Ma’ruf, salah satu dari beberapa nama di balik lahirnya Universitas Islam Indonesia. Tahun 1938, turut membentuk Partai Islam Nasional di Surakarta. Beliau merupakan menteri pertama urusan Haji dalam kabinet bentukan Ir. Soekarno.

Abdurrahman Baswedan, perintis kemerdekaan dan tokoh pendiri persatuan arab indonesia. Menteri penerengan pertama RI. Dan seabrek ulama yang pernah dimiliki oleh Al-Irsyad antara lan; Ust Umar Hubeis, Said Thalib Alhamdani, TM Hasbi Asshidiqy, Umar Nadji, Muhammad Munif, Tubagus Syuaib Sastrawijaya, Ali Harharah Dll.

Kini usia Al-Irsyad sudah mencapai satu abad, tepat pada 6 September 2014 ini usianya genap 100 Tahun. “Ied Milad Al-Irsyad, Dirgahayu”, semoga semakin eksis dan tetap berkiprah melalui amal usahanya yang kini tersebar di hampir seluruh pelosok negeri.

Semoga Al-Irsyad memiliki arti petunjuk dan ini dilambangkan melalui obor yang tergambar dalam logonya, logo yang monumental dan akan tetap lestari menjadi simbol yang memaknai perjuangannya ; “Obor Tak Akan Pernah Padam Menyinari Negeri”.*

Penulis aktif di Al-Irsyad Bogor

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Peristiwa Sejarah di Bulan Ramadhan

Peristiwa Sejarah di Bulan Ramadhan

500 Tahun Islam di Papua: Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua [1]

500 Tahun Islam di Papua: Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua [1]

Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa

Islam Sebagai Landasan Budaya Jawa

Pemikiran dan Perjuangan Mr. Mohammad Roem: Ujung Tombak Diplomasi Perjuangan RI  (2)

Pemikiran dan Perjuangan Mr. Mohammad Roem: Ujung Tombak Diplomasi Perjuangan RI (2)

Kedudukan Rakyat di Mata Umar bin Khathab

Kedudukan Rakyat di Mata Umar bin Khathab

Baca Juga

Berita Lainnya