Sejarah Penafsirkan al-Qur’an di Indonesia (2)

Meskipun jenisnya beragam setiap karya selalu bersandar pada tafsir-tafsir yang lebih awal dan merujuk pada tafsir-tafsir yang terkemuka dan diakui keilmuannya

Sejarah Penafsirkan al-Qur’an di Indonesia (2)
Tafsir quran karim oleh prof h mahmud junus ... cetakan ke 15 ... 1973 m

Terkait

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

Bagaimanapun, akhirnya, terjemahan tidak beredar luas di masyarakat. Polemik terjemahan The Holy Quran ini membuat seorang ulama, bernama Syeikh Imran Basyuni dari Sambas, tergerak untuk menanyakan keabsahan Holy Quran sebagai sumber ilmu agama kepada Rashid Ridha melalui Majalah Al Manar di Mesir. (Ichwan : 2001). Nyatanya Tafsir Al Manar karya Muhammad Abduhlah yang lebih mewarnai perkembangan tafsir di Hindia Belanda.

Tafsir Al Manar, dimuat oleh Majalah Al Imam sejak 1908. Majalah ini ditenggarai merupakan pers Islam pertama di nusantara, dipimpin oleh Syeikh Thahir Jalaluddin. Majalah ini sangat mempengaruhi Haji Rasul (ayah dari Buya Hamka), sehingga ia membuat majalah Al Munir.

Dari tangan Haji Rasul pula lahir sebuah Tafsir Juz Amma, yang berjudul Al Burhan, Tafsir Juz Amma, di Padang tahun 1922.

Tafsir ini masih menggunakan bahasa Melayu-Jawi yang beraksara Arab. Dari Sumatera Barat pula, ditahun yang sama, lahir sebuah tafsir yang nantinya menjadi cikal bakal tafsir lengkap 30 juz yang berbahasa Indonesia. Tafsir ini dikenal dengan nama Tafsir Al Qur’an Al Karim karya Mahmud Yunus. (Gusmian : 2002)

Tafsir Mahmud Yunus ini awalnya terbit hanya 3 juz pertama dalam Al Quran saja. Semula tafsir ini ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu Jawi. Kemudian penulisan tafsir ini dilanjutkan oleh H. Ilyas Muhammad Ali dibawah bimbingan Mahmud Yunus. Lalu pada tahun 1935 penulisan itu dilanjutkan oleh HM Kasim Bakry sampai juz ke 18. Sisanya dilanjutkan oleh Yunus sendiri dan rampung pada tahun 1938. (Gusmian : 2002).*

Tafsir Depag

Di tahun 1930-an penulisan tafsir sedang bergeliat. Selain Tafsir karya Mahmud Yunus, muncul pula Al Furqan Tafsir Qur’an karya A. Hassan dari Persis. Tafsir ini mulanya diterbitkan pada tahun 1928 hanya juz pertama saja. Kesibukan A. Hassan memaksanya menunda kelanjutan tafsir tersebut. Pada tahun 1953, tafsir tersebut ditulis kembali sebanyak 30 juz. Selain tafsir Al Furqon, hadir juga tafsir Al Quran Al-Karim karya tiga serangkai dari Binjai, Langkat, Sumatera Timur. Di tulis oleh Ustadz H. A. Halim Hassan, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Pertama kali diterbitkan dalam bentuk majalah sebanyak 20 halaman, dimulai pada April 1937 dan terbit sebulan sekali.

Selama tahun 1937-1941, tafsir ini terbit dengan memuat juz I dan II dalam bahasa Melayu beraksara arab. Tafsir ini kala itu dipakai diseluruh Sembilan kerajaan di Malaysia. (Gusmian : 2002)

Di era tahun 50-an, dikerjakan penulisan Tafsir Al Quran oleh H. Zainuddin Zamidy dan Fachruddin HS. Tafsir ini kemudian terbit di tahun 1959. Namun tahun 1958, menjadi penanda lahirnya sebuah tafsir yang cukup fenomenal. Lahir dari tangan Buya Hamka, seorang ulama sekaligus sastrawan yang disegani. Awalnya penafsiran ini diberikan melalui kuliah subuh di Masjid Al Azhar, Kebayoran baru, Jakarta.  Dan dimulai dari surah Al Kahfi, Juz ke-15. Kemudian sejak 1962, ceramah tafsir ini dimuat di Majalah Gema Islam dalam suasana politik rezim otoriter orde lama. Pada tanggal 27 Januari 1964, Buya Hamka ditangkap karena dituduh berkhianat pada pemerintah. Selama 2,5 tahun dia ditahan tanpa dibuktikan kesalahannya. Namun dimasa itu pula ia berjabat dengan hikmah. Selama masa penahanannya-lah tafsir fenomenal itu diselesaikan dan akhirnya diterbitkan pada tahun 1967 dengan namaTafsir Al Azhar. (Gusmian : 2002)

Di tahun yang sama pula, 1967, Departemen agama mengeluarkan Tafsirnya yang dikerjakan secara kolektif, berjudul Quran dan Tafsirnya. Tafsir Departemen Agama RI ini, dibawah Yayasan Penyelenggara Penerjemah atau Penafsiran Quran. Salah satu anggota yayasan ini, TM Hasby Ash-Siddieiqy, juga menulis tafsir sejak era 50an dan kemudian diterbitkan tahun 1971 dengan nama Tafsir Al Quran Al karim Al Bayan. (Gusmian : 2002)

Geliat penulisan tafsir setidaknya dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Geliat penulisan tafsir, tampaknya bertolak dari titik yang sama. Buya Hamka ketika menulis tafsir Al Azhar menjelaskan;

“Bangkitnya angkatan muda Islam di tanah air Indonesia dan di daerah-daerah yang berbahasa Melayu hendak mengetahui isi Al Qur’an di jaman sekarang, padahal mereka tidak mempunyai kemampuan mempelajari bahasa Arab. Beribu bahkan berjuta sekarang angkatan muda Islam mencurahkan minat kepada agamanya, karena menghadapi rangsangan dan tantangan dari luar dan dari dalam. Semangat mereka terhadap agama telah tumbuh, tetapi ‘rumah telah kelihatan, jalan ke sana tidak tahu,’ untuk mereka inilah khusus yang pertama ‘tafsir’ ini saya susun.” (Hamka : 2004)

Mungkin semangat inilah yang juga bertolak dari para penafsir Quran di tanah air. Bertolak pada niat mencondongkan hati dan pikiran umat kepada Al Qur’an, yang dirintangi oleh kendala bahasa. Dan mungkin saja diantara banyak tafsir tersebut, ada yang luput dari tulisan singkat ini. Namun setidaknya kita dapat melihat sebuah benang merah yang merangkai penulisan tafsir Qur’an di Indonesia. Meskipun jenisnya beragam, dan ditulis oleh bermacam-macam penafsir dengan latar belakang yang berbeda-beda, namun, kita dapat melihat, di setiap karya mereka, selalu bersandar pada tafsir-tafsir yang lebih awal dan senantiasa merujuk pada tafsir-tafsir yang terkemuka dan diakui keilmuannya.*

Daftar Pustaka

Beck, Herman L. 2005. The Rupture Between The Muhammdiyah and The Ahmadiyya dalam Bijdragen Tot de Taal,- Land en Volkenkunde (BKI) 161-2/3.
Federspiel, Howard M. 1996. Kajian Al-Quran di Indonesia. Bandung: Mizan
Feener, Michael R. 1998. Notes Towards The History of Quranic Exegesis In Southeast Asia dalam Studia Islamika vol. 5 No. 3
Gusmian, Islah. 2002. Khzanah Tafsir Indonesia. Jakarta: Teraju.
Nur Ichwan, Moch. 2001. Differing Responses to An Ahmadi Translation and Exegesis. The Holy Quran in Egypt and Indonesia dalam Archipel Vol. 62
Prof. Dr. Hamka. 2004. Tafsir Al Azhar Jilid I. Jakarta. Pustaka Panjimas.
Riddel, Peter. 1989. Earliest Quranic Exegetic Activity in The Malay Speaking States dalam Archipel Vol 38.
Van Bruissen, Martin. 2012. Kitab Kuning: Buku-buku Berhuruf Arab yang Dipergunakan di Lingkungan Pesantren dalam Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat. Yogyakarta: Gading

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik:

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !