Detik-detik Menegangkan di al-Quds

Shalahuddin al Ayyubi kuat ibadah, keyakinannya pada Alla sangat besar, sebagaimana juga semangatnya untuk bertaubat

Detik-detik Menegangkan di al-Quds
ILUSTRASI
hari Senin pagi, kaum Muslimin di al-Quds menerima kabar gembira bahwa Pasukan Salib memutuskan untuk menarik pasukannya ke Ramlah

Terkait

Oleh: Alwi Alatas

PADA abad pertengahan, berhadap-hadapan dengan musuh memerlukan persiapan yang matang serta keterampilan berperang yang baik. Namun adakalanya berbagai kemampuan dan kekuatan fisik tetap tidak mencukupi. Ada masa-masa ketika jumlah tentara yang banyak, perlengkapan perang yang canggih, pengalaman tempur yang panjang, serta strategi yang hebat masih belum mencukupi untuk mengalahkan musuh.

Sebenarnya semua itu memang tidak pernah mencukupi. Karena ada sumber kekuatan dan kemenangan lain yang tidak mungkin diabaikan oleh seorang Muslim. Kekuatan yang satu ini adalah yang bersumber pada Rabb Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Para pemimpin yang beriman menyadari pentingnya hal ini, dan ada banyak peristiwa dalam sejarah yang mengajarkan kita tentang hal ini. Di antaranya adalah apa yang pernah dialami oleh Shalahuddin al-Ayyubi berikut ini.

Kisah ini berkenaan dengan saat-saat terakhir Perang Salib III, perang yang terjadi setelah kaum Muslimin di bawah pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali al-Quds pada tahun 1187.

Jatuhnya al-Quds ke tangan kaum Muslimin menyebabkan pasukan dari Eropa datang berbondong-bondong ke Suriah-Palestina dipimpin oleh raja-raja terbaik mereka, di antaranya Raja Inggris Richard the Lion Heart.  

Perang Salib III berlangsung lama dan sangat melelahkan. Pasukan Eropa mengepung kota Acre untuk waktu yang panjang, sementara kaum Muslimin mempertahankannya dari dalam dan Shalahuddin dan pasukannya menghadapi musuh dari luar tembok kota. Kaum Muslimin berusaha mempertahankan kota itu sekuat kemampuan mereka, tetapi pada akhirnya kota itu tetap jatuh ke tangan musuh, dan pasukan yang ada di dalamnya dibunuh oleh Pasukan Salib.

Dari Acre, Pasukan Salib bergerak ke beberapa kota lainnya. Mereka tidak dapat bergerak cepat karena laju perjalanan mereka tertahan oleh pasukan Shalahuddin. Walaupun demikian, setelah berbagai pengepungan, pertempuran, serta diplomasi yang melelahkan di antara kedua belah pihak, Pasukan Salib tetap bersikukuh untuk merebut kembali kota al-Quds.

Setelah pertarungan memperebutkan beberapa kota pantai, Pasukan Salib akhirnya mengarahkan pasukan mereka ke al-Quds. Mereka kini berkemah di Bayt Nuba yang jaraknya hanya kurang dari sehari ke al-Quds. Shalahuddin, para emir bawahannya, beserta pasukan berada di dalam kota al-Quds. Sementara sekumpulan pasukan Muslim ditugasi mengintai pasukan musuh dan memberikan informasi dari waktu ke waktu.

Keadaannya ketika itu sangat menegangkan. Dalam waktu kurang dari sehari, Pasukan Salib dapat tiba di depan tembok kota al-Quds. Walaupun selama ini mereka bergerak maju secara perlahan karena tertahan oleh pasukan Muslim, tetapi mereka kini sudah sangat dekat dengan kota al-Quds dan mereka bisa saja berhasil merebut kembali kota suci itu.

Pasukan Muslim sudah terlalu lama berperang, semangat mereka untuk bertempur habis-habisan menghadapi musuh sudah menurun. Dan jika pada akhirnya Pasukan Salib berhasil merebut kota al-Quds, maka dampak psikologisnya akan sangat besar bagi kaum Muslimin.

Pada detik-detik yang menegangkan seperti ini, bahkan pemimpin yang tangguh seperti Shalahuddin al-Ayyubi pun merasa gelisah, bukan karena ia kurang yakin pada Allah, tetapi karena khawatir semangat tempur para emir di bawahnya sudah semakin menurun pada masa itu. Pada detik-detik inilah terlihat kualitas seorang pemimpin serta pendekatannya pada sumber sejati kemenangan. Kisah berikut ini disebutkan oleh Baha’uddin Ibn Shaddad dalam bukunya Nawadir al-Sultaniyya wa’l-Mahasin al-Yusufiyya.

Ibn Shaddad merupakan seorang ulama yang dekat dengan Shalahuddin  al-Ayyubi dan merupakan salah seorang penulis biografinya. Saat menceritakan kisah ini, ia memulai tulisannya dengan kata-kata, “Ia (Shalahuddin) banyak berprasangka baik pada Allah, keyakinannya pada-Nya sangat besar, sebagaimana juga semangatnya untuk bertaubat.”

Ibn Shaddad bercerita bahwa intelijen yang dikirim oleh Shalahuddin mengabarkan bahwa Pasukan Salib yang sekarang sedang berkemah di Bait Nuba telah bertekad untuk berangkat ke al-Quds dan mengepungnya. Kaum Muslimin merasa sangat gelisah dengan keadaan ini.

Shalahuddin kemudian mengumpulkan para emirnya. Kota al-Quds tentu akan tetap dipertahankan. Namun kini mereka berhadapan dengan dua pilihan strategi. Pilihan pertama, kota al-Quds akan dipertahankan oleh sebagian pasukan Muslim di bawah pimpinan salah satu emir, sementara Shalahuddin dan pasukan lainnya menghadapi musuh dari luar tembok al-Quds.

Ini merupakan strategi yang paling kecil resikonya bagi kaum Muslimin secara umum. Kalaupun al-Quds berhasil direbut oleh musuh, Shalahuddin dan pasukan Muslim lainnya dapat menjaga wilayah-wilayah Muslim lainnya dan suatu saat nanti mungkin dapat merebut kembali kota itu dari tangan musuh.

Masalahnya, Shalahuddin merasa bahwa tidak ada emirnya yang akan mau mempertahankan kota al-Quds, karena resikonya sangat besar. Mereka tidak lupa betapa saat kota Acre jatuh ke tangan Pasukan Salib, pasukan Muslim yang mempertahankan kota itu dibunuh habis oleh musuh. Dan perkiraan Shalahuddin tidak salah, karena belakangan ia diberitahu bahwa para emir tidak mau berdiam di kota itu kecuali anak atau adik Shalahuddin juga ikut mempertahankan kota itu bersama mereka. */bersambung

Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib

Baca juga:  

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !