Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Oase Iman

Tawakal dan Meraih Janji Allah

Bagikan:

Hidayatullah.com | BESOK mau makan apa? Mau nikah, duitnya dari mana? Kalau punya anak mau makan apa? Kalau sudah punya banyak anak harus beli rumah, harus punya mobil? Dari mana kita mendapatkan uang? Dan untuk pendidikan mereka ketika mereka dewasa, seperti apa jadinya?

Memikirkan berbagai hal yang belum terjadi seperti di atas akan menimbulkan keresahan dalam pikiran dan jiwa manusia. Jika terus dibiarkan,  hal ini akan membuka peluang bagi iblis untuk mengikis dan melemahkan iman.

Ketahuilah bahwa semua kebutuhan itu adalah urusan Allah. Dia yang telah menciptakan semua makhluk, Dia pula yang akan menyediakan bagi semua makhluk itu rezeki-Nya.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS: Hud:6)

Jadi jangan khawatir, yang perlu adalah kembali kepada Allah, percaya kepada-Nya dengan amanah yang benar, pasti Dia akan menyelesaikan apa pun urusan-Nya. Rasulullah ﷺ  bersabda:

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”(HR: Ahmad dan Tirmidzi)

وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ‌ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ‌ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا

“..dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS: Ath-Thalaq:3)

Itulah keyakinan, fondasi yang kokoh, untuk menjadi prinsip hidup, yang dengannya kedamaian akan didapatkan. Dengan ketenangan pikiran itu, kehidupan dibangun berdasarkan ajaran Allah dan teladan Rasul-Nya, hingga garis finis!

Sampai hari pertemuan kembali dengan Alla Subhanahu Wata’ala. Itulah sebenarnya arti kebahagiaan, tidak hanya di dunia ini, tetapi juga di akhirat yang merupakan cita-cita setiap manusia.

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى

وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah/golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam Surga-Ku.”  (QS: al-Fajr: 27-30).

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR: Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675)

Khawatir dan Cemas

Di antara serangan iblis terhadap manusia adalah dengan menanamkan rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Hal ini membuat manusia terkena penyakit “Wahn” yaitu cinta dunia dan takut mati.

Jadi iblis akan menanamkan kecintaan dunia, mulai memberikan lebih banyak waktu untuk dunia, untuk mencintai harta benda secara berlebihan dan mengejarnya, sampai melupakan Allah. Setelah itu manusia kemudian meninggalkan tugas dan lari dari tanggung jawab.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ سَبْرَةَ بْنِ أَبِى فَاكِهٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ, فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ: “تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ؟” فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ. ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ, فَقَالَ: “تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ؟ وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِى الطِّوَلِ.” فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ, فَقَالَ: “تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ.” فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ.. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ -عَزَّ وَجَلَّ- أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ …

“Diriwayatkan dari Sabrah bin Abi Fâkih z berkata, Rasûlullâh ﷺ berkata, “Sesungguhnya syaitan duduk untuk menghalang-halangi seorang anak Adam dari berbagai jalan. Syaitan duduk menghalangi jalan untuk masuk Islam. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu masuk ke dalam Islam dan kamu tinggalkan agamamu, agama bapak-bapakmu dan agama nenek moyangmu?’ Anak Adam tersebut tidak mentaatinya, kemudian dia masuk Islam. Kemudian syaitan pun menghalangi jalan untuk berhijrah dan dia berkata, ‘(Apakah) kamu akan berhijrah dan kamu meninggalkan bumi dan langitmu? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah adalah seperti kuda yang diikat dengan tali.’ Kemudian anak Adam tesebut tidak mentaatinya dan terus berhijrah. Kemudian syaitan duduk untuk menghalangi jalan untuk berjihad. Syaitan berkata, ‘(Apakah) kamu akan berjihad? Jihad itu adalah perjuangan dengan jiwa dan harta. Engkau berperang, dan nanti kami terbunuh, istrimu akan dinikahi (oleh orang lain) dan hartamu akan dibagi-bagi.’ Kemudian anak tersebut tidak mentaatinya, kemudian terus berjihad.” Kemudian Rasûlullâh ﷺ berkata, “Barang siapa yang melakukan hal tersebut, maka Allâh berkewajiban untuk memasukkannya ke dalam Surga.” (HR: an-Nasa’i)

Karena itu miliki keinginan yang kuat untuk selamat di akhirat. Jangan lalu tertipu oleh godaan setan, dan lawan keinginan hawa nafsu dengan hal-hal berikut:

  • Perbanyak dzikrullah
  • Isi hidupmu dengan pengabdian kepada Allah sampai maut memisahkan kita.
  • Sadarilah bahwa Allah telah memberikan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya.
  • Sesungguhnya dunia adalah persinggahan sementara.
  • Dunia akan fana.
  • Kita diciptakan oleh Allah untuk menjadi hamba-Nya.
  • Serahkan semua masalah hidup kepada Allah, semua akan terselesaikan.
  • Rezeki, kematian, ketentuan baik atau buruk bagi kita masing-masing telah ditentukan oleh Allah. tentu ada hikmahnya, terimalah dengan ridha.

Pikirkan apa yang mesti kita buat untuk meraih janji Allah. Yakni, kebahagiaan di akhirat. Jangan kita sibuk memikirkan apa yang sudah Allah sediakan untuk kehidupan kita di dunia! *

Rep: Ahmad
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Bersabar dalam Kesempitan Ekonomi

Bersabar dalam Kesempitan Ekonomi

Cara Syetan Menggoda Wanita (2)

Cara Syetan Menggoda Wanita (2)

Bedanya Sifat Memiliki dan Menguasai

Bedanya Sifat Memiliki dan Menguasai

Ketika Penguasa Menzalimi Dirinya Sendiri

Ketika Penguasa Menzalimi Dirinya Sendiri

Ridho Allah, Itulah Tujuan Hidup

Ridho Allah, Itulah Tujuan Hidup

Baca Juga

Berita Lainnya