Rabu, 8 Desember 2021 / 3 Jumadil Awwal 1443 H

Oase Iman

Empat Kunci Kebahagiaan

ilustrasi
Bagikan:

Setidaknya ada empat pesan yang di sampaikan oleh Rasullah kepada Abu Dzar Al-Ghifary yang bisa kita ambil, yaitu tentang kunci kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Lalu apa saja kunci kebahagiaan itu?

Oleh: M. Fibra Wijaya

Hidayatullah.com | PADA suatu hari, Rasulullah ﷺ meberikan nasihat kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang sejatinya juga nasihat ini diperuntukkan kepada kita juga umatnya. Sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul ‘ibad.

“ Wahai Abu Dzar, perbaruilah kapalmu karena laut yang akan kau arungi itu sangatlah dalam; bawalah bekal yang cukup karena perjalanan yang akan kau tempuh sangatlah jauh; ringankanlah beban yang kau bawa karena jalan yang kau lalui sangatlah sulit;dan ikhlaskanlah setiap pekerjaanmu karena Allah maha melihat.” (Nashaihul ‘ibad, Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani).

Dalam hadist ini setidaknya ada empat pesan yang di sampaikan oleh Rasullah kepada Abu Dzar Al-Ghifary yang bisa kita ambil, yaitu tentang kunci kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Lalu apa saja kunci kebahagiaan itu? Bagaimana mencari kebahagiaan dalam hidup? apa kunci kebahagiaan menurut islam?

Pertama: perbaruilah kapalmu karena laut yang akan kau arungi sangatlah dalam.

Yang dimaksud “perbaruilah kapalmu” di sini adalah kita harus selalu memperbarui niat kita karena kunci dari setiap perbuatan yang kita lakukan adalah niat. Niat adalah pekerjaan hati yang artinya segala sesuatu yang kita lakukan cukup kita dan Allah saja yang mengetahuinya tanpa harus diumbarkan kepada orang lain.

Dalam kitab Ta’lim Muta’lim yang di tulis oleh Syekh Burhanudin Zarnuji beliau menjelaskan mengenai niat ini “ berapa banyak orang yang melakukan amalan tampaknya amalan dunia akan tetapi dengan baiknya niatnya maka ia berubah menjadi amalan akhirat, dan berapa banyak juga orang yang mengerjakan amalan akhirat akan tetapi berubah menjadi amalan akhirat di karenakan niat yang buruk”

Oleh sebab itu, kita harus selalu merefresh ulang niat kita agar selalalu terjaga dari penyakit-penyakit yang bisa merusak amal sholeh yang kita lakukan, seperti riya, sum’ah, ujub, dll.

Kedua: bawalah bekal yang cukup karena perjalanan yang engkau tempuh sangatlah jauh.

Kita hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum melanjutkan perjalanan menuju ketempat tujuan yang sebenarnya yaitu akhirat, dan biasanya seseorang kalau mampir suatu tempat dalam perjalanan ia tak akan lama dan pastinya mempersiapkan bekal demi untuk melanjutkan perjalananya.

Oleh karena itu, selama kita masih di beri kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara segar di dunia ini, maka harus kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya, dan bekal yang paling baik adalah takwa sebagaimana dalam firman Allah “ dan berbekalah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS:Al-Baqarah:197)

Ketiga: ringankan beban yang engkau bawa karena jalan yang engkau lalui sangatlah sulit.

Perjalanan yang panjang dengan tingkat kesulitan yang tinggi menuntut seseorang untuk meringankan barang bawaanya. Ini merupakan kiasan untuk kita supaya harus meringkan beban yang isa menghambat perjalanan kita di akhirat nanti.

Dari Sahabat Abu Barzah, telah berkata Rasulullah ﷺ bersabda;

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang (4 perkara:) (Pertama,) tentang umurnya dihabiskan untuk apa. (Kedua,) tentang ilmunya diamalkan atau tidak. (Ketiga,) Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. (Keempat,) tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” (HR: Tirmidzi dan Tirmidzi)

Nabi mendorong kita untuk tak terlalu terpukau pada urusan dunia terutama harta, karena khusus harta ini dua pertanyaanya yaitu “darimana ia berasal” dan “kemana ia habiskan” artinya semakin banyak harta kita didunia jika semakin menjuhkan kita dari Allah maka akan semakin berat beban yang kita bawa diakhirat nanti.

Keempat: ikhlaskan amal

Artinya setiap amal baik yang kita lakukan harus benar-benar hanya untuk mencari ridho Allah SWT. Dalam ilmu fiqih, ikhlas memang tak menjadi salah satu rukun, akan tetapi itu mesti kita lakukan karena ia adalah kunci diterimanya setiap amalan kita.

Oleh sebab itu, kunci kebahagiaan seseorang baik didunia maupun diakhirat adalah jika kita bisa melaksanakan empat pesan Rasulullah diatas, niscaya kita akan merasakan kebahagiaan baik didunia maupun di akhirat. Wallahua’lam.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Cara Iblis Menggelincirkan Manusia

Cara Iblis Menggelincirkan Manusia

Para Sahabat Rasul Tetap Bersemangat Berperang Sampai Tua

Para Sahabat Rasul Tetap Bersemangat Berperang Sampai Tua

Belajar Menulis Produktif dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Belajar Menulis Produktif dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Energi Al-Maidah dan Kebangkitan Islam

Energi Al-Maidah dan Kebangkitan Islam

Soekarno dan Kemuliaan Nabi Muhammad

Soekarno dan Kemuliaan Nabi Muhammad

Baca Juga

Berita Lainnya