Jum'at, 23 April 2021 / 11 Ramadhan 1442 H

Oase Iman

Mudah Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Bagikan:

Hidayatullah.com | SALAH satu kisah luar biasa yang menggambarkan besarnya rasa memaafkan seorang muslim adalah tauladan yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  kepada golongan munafik. Nabi Muhammadﷺ akhirnya berkenan memaafkan Abdullah bin Ubay seorang pemimpin musuh bebuyutan kaum muslimin yang mengharapkan bencana.

Abdullah bin Ubay adalah orang yang menebarkan berita fitnah tentang Siti Aisyah Ummul Mukminin. Kepada sekelompok intelijennya ia mengintruksikan untuk menyebarkan berita fitnah itu ke seluruh penjuru, seolah ada penyelewengan Ummul Mukminin ketika tertinggal dari rombongan Nabi. Sendi-sendi masyarakat Islam digoncangkan dengan berita bohong yang rendah ini.

Kelompok intelijen inilah yang kemudian menyusup dan mempengaruhi salah seorang kerabat dekat Abu Bakar As-Shiddiq, supaya validitas berita itu meyakinkan, mudah diterima dan cepat tersebar luas. Akibatnya, lukalah hati Nabi dan para Sahabat.

Mereka saat itu dirundung kebingungan dan keresahan, dilanda rintihan dan kesedihan. Dan keadaan ini baru berakhir setelah turun ayat Al-Qur’an yang menyingkap tabir kemunafikan dan tipu daya kaum munafik, sehingga terungkaplah rahasia keji mereka.

Baca:   Siapa Memaafkan Disaat Mampu Membalas, Baginya Surga

Dengan demikian jelaslah kesucian Ummul Mukminin tetap terpelihara dan bebas dari tuduhan bohong yang keji dan tidak senonoh itu. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran;

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” (QS: An Nur:11).

Mudah Memaafkan Kesalahan

Allah telah membuktikan janji-Nya. Maka tidak lama berselang Abdullah bin Ubay jatuh sakit dan matilah dia, setelah membuat keonaran dan keresahan yang merata di segala penjuru. Namun demikian ketika anak Abdullah bin Ubay datang kepada Rasulullah ﷺ  untuk meminta ampunan bagi ayahnya, beliau tetap memaafkannya.

Allah telah memilih nabi kita Muhammad untuk mengajarkan bagaimana akhlak dan tauladan yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan ketika anaknya memohon agar Rasulullah ﷺ membungkus mayat ayahnya dengan gamis beliau sendiri, Rasulullah ﷺ juga mengabulkannya.

Demikian pula ketika anak pemimpin munafik itu memohon kepada Rasulullah agar beliaulah yang menshalatkan dan memintakan maaf untuknya, Rasulullah ﷺ yang halus jiwanya dan pemaaf, tidak menolak permohonannya. Beliau bahkan berdiri di depan mayat yang pernah ‘menikam’ beliau dari belakang itu.

Baca: Belajarlah Memaafkan, Agar Badan Jadi Sehat

Rasulullah ﷺ menshalatinya sambil tidak henti-hentinya memohonkan ampunan kepada Allah. Akan tetapi Sang Hakim Agung Allah SWT membatalkan semua itu dengan diturunkannya ayat:

اِسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ اَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡؕ اِنۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِيۡنَ مَرَّةً فَلَنۡ يَّغۡفِرَ اللّٰهُ لَهُمۡ‌ؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَفَرُوۡا بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِيۡنَ

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada golongan orang-orang yang fasik.” (QS: at-Taubah: 80).

Demikianlah hukum Allah yang berlaku di atas orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Secara fisik mereka memang telah tiada, tetapi benih kuman kejahatan mereka tidak turut terkubur, masih segar-bugar dan terus bergentayangan membikin gara-gara dan keonaran. Mereka terus menipu, memfitnah untuk menjerumuskan kaum muslimin yang lemah ke lembah keonaran.

Setelah peristiwa adanya berita bohong (hoaks) tersebut, ditemukan bahwa salah seorang kerabat Abu Bakar, turut terlibat persekongkolan jahat ini. Ialah yang berhasil dipengaruhi kelompok penyusup, untuk menyebarkan berita hoaks Umul Mukminin, Aisyah ra. Bersambung <<<<Halaman 2 >>>>

Rep: Ahmad
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Pengalaman, Guru Terbaik

Pengalaman, Guru Terbaik

Menggali Intisari Surat Al Maidah [1]

Menggali Intisari Surat Al Maidah [1]

Kecerdasan yang Hakiki

Kecerdasan yang Hakiki

7 Persiapan Sambut Bulan Ramadhan dengan Gembira

7 Persiapan Sambut Bulan Ramadhan dengan Gembira

Bermuhasabah, Sebelum Hari Penghisaban

Bermuhasabah, Sebelum Hari Penghisaban

Baca Juga

Berita Lainnya