Selasa, 6 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Oase Iman

Almajnun Haqqul Majnun, Gila yang Sebenarnya  

Bagikan:

Hidayatullah.com | DISEBUTKAN dalam salah satu riwayat, suatu hari Rasulullah ﷺ  melewati sekelompok orang yang sedang berkerumun, dan beliau bertanya kepada mereka; karena hal apa kalian berkumpul disini?. Para sahabat pun menjawab. Wahai Rasulullah ﷺ, kami berkumpul disini karena ada orang gila yang sedang mengamuk.

Melihat kejadian tersebut, dan setelah mendengarkan penjelasan dari para sahabatnya, beliau (rasulullah ﷺ ) bersabda;

Orang ini bukan gila, tapi Ia sedang mendapati sebuah musibah. Tahukah kalian siapakah orang gila yang sebenar-benarnya gila (almajnun haqqul majnun)?

Para sahabat kemudian menjawab; Tidak ya rasulullah! Lalu beliau (Rasulullah ﷺ ) menjelaskan bahwa; Orang gila, ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang kepada setiap orang dengan pandangan merendahkan, yang membusungkan dada, lalu berharap Allah memberinya Surga, padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya.

Yang atas kejelekannya itu pula membuat orang merasa tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia sedang mendapati musibah yang kini tengah menimpanya (mubtala). “Mubtala atau gila, penyakit yang menutupi atau mengganggu akal, sehingga akalnya tidak mampu menangkap suatu objek dengan benar, serta kebingungan dan kekacauan pikiran.”

Baca: Kesombongan dan Anarki dalam Kekuasaan

Majnun atau orang gila, kata ini berasal dari kata Junnat, yang artinya adalah menutupi. Dia masih mempunyai akal, tetapi akalnya tidak dapat menerangi prilakunya. Akalnya sudah dikuasai oleh hawa nafsunya. Dalam pengertian ini, Rasulullah ﷺ  menyebut orang seperti itu dengan takkabur sebagai haqqul majnun.

Adapun orang yang oleh sahabat sedang ditemui dalam kerumunan tersebut di atas tadi, oleh Nabi ﷺ, kita dianjurkan atau bahkan diperintahkan sebagai orang yang patut untuk dibantu, karena orang seperti dia bukan majnun alias gila, akan tetapi mubtala.  atau orang yang sedang tertimpa musibah.

Kita harus meringankan deritanya, dan memberikannya jalan keluar dari bala yang sedang mengenainya. Orang yang terkena bala haruslah didekati, sedangkan orang gila harus dijauhi.

Gila yang menurut Nabi ﷺ, ciri utamanya adalah berperangai takabur. Ia merasa dirinya merasa besar dan selalu merendahkan orang lain. Mereka orang-orang takabur itu lupa, bahwa dirinya hanyalah mahluk yang awalnya berasal nuthfah (sperma) dan akan berakhir menjadi jiifah (bangkai).

Karena sifat sombong itu ia menjadi gila, dan akalnya akan tertutup. Takabur dapat mengubah kedudukan, keturunan dan kekayaan menjadi tirai baja yang menutup jatidirinya.

Baca: Terapi Menyembuhkan Sifat Takabur

Rasulullah ﷺ berkata kepada Ibnu Mas’ud.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda;

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk Surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.” (HR:  Muslim).

Takabur, jikalau anda enggan untuk menerima kebenaran, karena yang menyampaikan kebenaran itu datangnya dari rakyat kecil, orang miskin, bawahan atau pegawai. Demikian pula apabila seseorang tidak pernah mau mendengarkan nasihat yang datangnya dari anak atau istri, karena dianggap lebih rendah dari kedudukannya.

Begitu pula jika anda merasa berkuasa atau sebagai penguasa, yang tidak segan untuk “menggebuki” seseorang yang tidak disukainya. Sikap yang demikian itulah sebagai diagnosa awal terhadap diri sendiri dan para penguasa yang terindikasi memiliki penyakit takabur! Ada satu saja diantara gejala demikian, maka itu adalah pertanda seseorang telah menjadi orang yang benar-benar gila, gila yang sebenarnya seperti yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ , yaitu almajnun haqqul majnun. (Wallahu’alam bishowwab).*/Abdullah Abubakar Batarfie, anggota Pengurus LSBPI MUI Pusat 2020-2025

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Belajar dari Haji: Bergerak Dalam Kebaikan

Belajar dari Haji: Bergerak Dalam Kebaikan

Belajar dari Kisah Nabi Yunus & Hijrah Nabi Muhammad

Belajar dari Kisah Nabi Yunus & Hijrah Nabi Muhammad

Merawat Optimisme di Masa Sulit

Merawat Optimisme di Masa Sulit

Tradisi Menyambut Ramadhan

Tradisi Menyambut Ramadhan

Tebarkan Kasih Sayang Rasulullah [2]

Tebarkan Kasih Sayang Rasulullah [2]

Baca Juga

Berita Lainnya