Selasa, 2 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Oase Iman

Khutbah Jumat: Menutup Aurat adalah Kewajiban, Bukan Hak Pribadi

Foto. Antara Foto / Maulana Surya
Bagikan:

Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

SKB 3 Menteri, yaitu Menteri Pendidikan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama, mengenai penggunaan pakaian seragam dan atribut peserta didik mendapat sorotan banyak kalangan, khususnya dari umat Islam. Salah satu poin keputusan itu berbunyi, “Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih : (a) seragam dan atribut tanpa kekhususan agama, atau (b) seragam dan atribut dengan kekhususan agama.”

Keputusan di atas perlu menjadi perhatian kita, khususnya dari kalangan orang tua dan guru. Lewat SKB ini orang tua dan guru tidak boleh memaksa atau memerintahkan anaknya serta muridnya untuk memakai seragam yang menutupi auratnya.

Sebab soal seragam yang beratribut kekhususan agama adalah hak. Hak itu boleh diambil dan boleh tidak diambil. Jika hak ini dilanggar, maka pelakunya bisa terkena sanksi.

Lewat SKB tiga menteri tersebut seragam dengan kekhususan agama bukan lagi satu kewajiban bagi khususnya peserta didik yang beragama Islam.

Ada dua hal yang perlu kita sampaikan dalam khutbah Jum’at terkait SKB tiga menteri ini. Pertama, tentu saja keputusan itu tidak sejalan dengan tujuan Allah menurunkan pakaian kepada umat manusia, khususnya bagi orang-orang yang beriman. Dalam Islam, menutup aurat untuk seorang muslim dan muslimah bukan sebuah hak tapi satu keharusan yang wajib dilaksanakan.

Allah SWT menurunkan pakaian kepada para hamba-Nya untuk menutupi tubuh sehingga terlindungi dari berbagai hal yang tidak baik. Perhatikan firman Allah SWT berikut :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS: Al-A’raf : 26).

Firman Allah pada surat yang lain :

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ

“Dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan.” (QS:  An-Nahl : 81).

Kaum Muslimin

Pakaian yang Allah berikan kepada kita adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang pada mulanya lahir dalam keadaan telanjang, kemudian Allah gerakkan hati orang tua kita sehingga memakaikan pakaian kepada kita. Kasih sayang itu terus berlangsung dengan memberikan rezeki yang sebagian diantaranya kita gunakan untuk membeli kain atau pakaian untuk menutup seluruh tubuh kita. Itulah yang membedakan antara kita dengan makhluk Allah, misalnya, hewan yang bertelanjang tubuh sepanjang hidupnya.

Perintah menutup aurat yang berlaku bagi setiap orang Islam berlaku dalam berbagai kondisi, utamanya saat beraktifitas di luar rumah atau saat bertemu dengan yang bukan mahramnya. Aktifitas ini juga berlaku saat seorang siswi Muslimah bersekolah. Setiap siswi Muslimah tetap wajib mengenakan pakaian atau seragam yang senafas dengan ajaran Islam, yaitu pakaian yang menutup tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.

Jama’ah Shalat Jum’at

Adab berpakaian yang Islam ajarkan mengandung pembiasaan dalam memasang niat yang baik saat hendak berpakaian. Salah satunya niat memakai pakaian sebagai wujud melaksanakan perintah Allah untuk menutup aurat, tidak untuk berbangga diri, atau sebagai ajang pamer kemewahan dan kekayaan kepada orang lain.

Perhatikan doa Nabi saat memakai pakaian yang baru. Diriwayatkan dari sahabat Umar RA. ia berkata, Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا جَدِيدًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي ثُمَّ عَمَدَ إِلَى الثَّوْبِ الَّذِي أَخْلَقَ فَتَصَدَّقَ بِهِ كَانَ فِي كَنَفِ اللَّهِ وَفِي حِفْظِ اللَّهِ وَفِي سَتْرِ اللَّهِ حَيًّا وَمَيِّتًا

“Barang siapa mengenakan pakaian baru kemudian mengucapkan (doa),

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى كَسَانِى مَا أُوَارِى بِهِ عَوْرَتِى وَ اَتَجَمَّلَ بِهِ فِى حَيَاتِى

‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian padaku yang dengannya aku gunakan untuk menutup auratku dan dengannya pula aku memperindah diri dalam hidupku.’

“Kemudian dia mengambil pakaian lain yang masih pantas dan menyedekahkannya, maka dia akan berada dalam pemeliharaan dan naungan Allah SWT dan akan selalu berada di jalan-Nya selama hidup dan setelah matinya (di dunia dan di akhirat).” (HR. Tirmidzi).

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Hal kedua yang perlu kita sampaikan di sini adalah Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kebebasan ummat beragama melaksanakan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya (Pasal 29 UUD 1945). Jilbab termasuk dalam ajaran agama dan keyakinan tersebut.

Belum lagi tujuan pendidikan nasional itu sangat mulia. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 31 ayat 3 menyebutkan “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

Sementara menurut Pasal 31 ayat 5 masih dalam UUD 1945 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Sedangkan menurut UU No 20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh karena itu, tidak sepatutnya penyelenggara negara merasa phobia terhadap penggunaan seragam dan atribut peserta didik yang islami sesuai dengan keyakinan yang dianut. Negara tidak boleh kalah oleh segelintir oknum yang ingin memisahkan agama dari kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam dunia pendidikan.

Jika dunia pendidikan tidak boleh mewajibkan dan melarang seragam dan atribut keagamaan, hal ini sudah sangat jauh melenceng dari tujuan luhur pendidikan itu sendiri. Sebab usia sekolah perlu ada pemaksaan dalam melakukan hal yang baik sesuai ajaran agama agar menjadi kebiasaan bagi peserta didik. Karenanya, SKB tiga menteri ini harus ditinjau ulang atau dicabut.

Para siswi Muslimah tetap diwajibkan mengenakan pakaian, baik pakaian saat keluar rumah atau di sekolah, yang menutup auratnya, mengenakan jilbab, melindungi diri dengan pakaian yang diajarkan Islam sebagai bentuk taat atas perintah Allah ta’ala.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Rep: Insan Kamil
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Antara Virus Wuhan dan Wahn: Mana Lebih Berbahaya?

Antara Virus Wuhan dan Wahn: Mana Lebih Berbahaya?

Pandemi dan Integritas Seorang Pemimpin

Pandemi dan Integritas Seorang Pemimpin

Aksi Penista dan Masalah Ghirah

Aksi Penista dan Masalah Ghirah

Imam Syafi’i dan Pengikut Kebenaran di Zaman Fitnah

Imam Syafi’i dan Pengikut Kebenaran di Zaman Fitnah

Penyesalan Mereka yang Memilih Jalan Bengkok

Penyesalan Mereka yang Memilih Jalan Bengkok

Baca Juga

Berita Lainnya