Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Oase Iman

KHutbah Jumat: Meraih Nikmat dengan Kasih Sayang Allah

Bagikan:

Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai seorang hamba kita selalu mengharapkan rahmat Allah ta’ala. Terdapat anjuran untuk mengawali perbuatan baik dengan mengucapkan kalimat Basmalah yang di dalamnya terkandung makna sifat Rahman dan Rahim Allah yang berarti Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari juntaian kasih sayang Allah. Kita bisa bebas bergerak, berucap, berbuat apa saja yang kita kehendaki, karena rahmat Allah. Mulai bangun tidur, berdiri, masuk ke dalam kamar kecil, berwudhu, salat, membaca zikir, keluar rumah, beraktifitas di luar, bekerja, makan, minum, berkeluarga, semuanya terjadi karena di dalamnya ada rahmat Ilahi Rabbi.

Kita bisa terlahir ke dunia, karena cinta dan kasih sayang Allah. Kita dibesarkan oleh ayah ibu kita, karena Allah-lah yang memberikan rahmat di dalam hati mereka. Kita bisa apa pun itu, semuanya karena cinta dan kasih sayang Allah.

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk senantiasa mendapat perlindungan, rahmat, dan cinta dari Allah SWT. Agar terus mendapatkan rahmatNya, Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada kita faktor-faktor yang harus kita miliki agar rahmat tersebut mengitari kehidupan kita. Beliau bersabda :

ثلاث من كن فيه آواه الله في كنفه، ونشر عليه رحمته، وأدخله جنته ‏:‏ من إذا أُعطي شكر، وإذا قدر غفر، وإذا غضب فتر

“Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, dua akan mendapatkan pemeliharaan Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya dan Allah akan senantiasa memasukkannya ke dalam lingkungan hamba-hamba yang mendapat cinta-Nya: (1) seseorang yang selalu bersyukur ketika Allah memberinya nikmat (2) seseorang yang meluapkan amarahnya tapi dia memilih untuk memberi maaf atas suatu kesalahan orang lain, dan (3) seseorang yang jika marah dia menghentikan rasa marahnya.” (HR. Hakim).

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah

Dari apa yang Rasul sampaikan di atas, kita catat ada tiga hal yang harus kita miliki agar kita selalu berada di bawah naungan rahmat Allah. Pertama, mensyukuri nikmat Allah. Ada berapa nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita? Adakah dari umat manusia dengan peralatan yang paling sekalipun yang sanggup menghitung nikmat-nikmat tersebut? Tidak ada satu pun di antara kita yang mampu menghitung. Begitu banyak nikmat yang sudah kita rasakan. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya adalah nikmat dari Allah yang tiada bandingannya, tidak ada cadangan yang sama persis dengannya, dan sangat mahal pula harganya.

Maka sudah menjadi keniscayaan bagi kita untuk tidak lalai mensyukuri semua nikmatNya, sekali lagi semua, sekecil apapun itu, kita syukuri nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Kita jika pandai bersyukur, Allah tambahkan nikmat tersebut atas diri kita. Allah SWT berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 07)

Jama’ah yang disayang Allah

Kedua, memaafkan kesalahan orang lain. Allah SWT berfirman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf : 199).

Dalam pergaulan sehari-hari, mungkin terselip canda, ungkapan, atau sikap kita yang menjadi pemicu kesalahpahaman yang berujung pada permusuhan. Bisa jadi kita yang melakukannya kepada orang lain atau orang lain yang melakukannya kepada kita.

Kesalahan yang pernah kita lakukan baik dengan sengaja atau tidak, atau ada di antara  saudara kita ada yang pernah berbuat salah kepada kita, sangatlah baik jika kita menutupi kesalahan itu dengan saling meminta maaf, lebih-lebih jika orang lain terlebih dahulu memohon maaf kepada kita, tentu sudah selayaknya kita membuka pintu maaf yang selebar-lebarnya.

Dengan memaafkan kesalahan orang lain yang pernah melanggar hak diri kita, akan menjaga diri kita untuk selalu masuk ke dalam golongan yang diberi rahmat oleh Allah SWT.  Dendam kesumat tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada justru membuat diri kita tersiksa, hidup penuh warna-warni permusuhan kepada sesama, padahal seribu teman seolah tidak bermanfaat jika kita punya satu musuh sekalipun.

Hiduplah dengan hati yang teduh, yang penuh sikap pemaaf kepada sesama, maka hidup kita akan menjadi indah dan kita pun akan disayang oleh Allah.

Saudaraku…

Ketiga, menghentikan kemarahan. Kemarahan sering dipicu oleh kejadian yang diakibatkan tindakan orang yang jahil. Kemarahan yang tidak kita kendalikan, membuat diri kita mudah melakukan perbuatan-perbuatan nekad, gelap mata dan nurani, sehingga sampai hati menghilangkan nyawa seseorang.

Sebagai Muslim, jangan sampai kita menuruti emosi kemarahan kepada sesama meski kita mampu meluapkannya. Kemarahan yang tidak terkendali dapat menodai akhlak kita yang berarti akan merusak keimanan yang kita miliki. Rasulullah ﷺ bersabda :

الغَضَبُ يُفسِدُ الإيمانَ كما يُفسِدُ الخَلُّ العَسَلَ

“Kemarahan itu merusak iman seperti cuka merusak madu.” (HR. Baihaqi)

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang dapat menguasai diri di kala ia marah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Jika kita pandai menahan nafsu untuk marah yang tercela, kita akan memperoleh keutamaan yang sangat besar dari Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Tirmidzi)

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Demikianlah tiga faktor peraih cinta dan rahmat Allah. Kita harus mampu menjadi hamba Allah yang tahu terima kasih, yang pandai bersyukur kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, sanggup untuk memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain kepada kita agar hati kita bersih dari penyakit-penyakit hati yang salah satunya adalah dendam, kemudian kita berusaha untuk mampu mengendalikan nafsu marah agar tidak meluapkannya padahal kita mampu melakukannya.

Insya Allah, dengan ketiga faktor ini, rahmat dan kasih sayang Allah akan setia membersamai kehidupan kita hingga kita wafat dalam keadaan dirahmati, yang itu menjadi tanda Husnul khatimah.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Berdakwah Tak Perlu Tergesa-gesa

Berdakwah Tak Perlu Tergesa-gesa

Almajnun Haqqul Majnun, Gila yang Sebenarnya  

Almajnun Haqqul Majnun, Gila yang Sebenarnya  

Juru Bicara Sekularisme

Juru Bicara Sekularisme

Inilah Lima Wabah Tha’un  dalam Sejarah Islam

Inilah Lima Wabah Tha’un dalam Sejarah Islam

Jangan jadi Hamba Fir’aun

Jangan jadi Hamba Fir’aun

Baca Juga

Berita Lainnya